Patung Dewi Danu Batur Kintamani Tarik Kunjungan Wisatawan

Patung Dewi Danu Batur Kintamani Tarik Kunjungan Wisatawan
Foto : Pering Foto : Patung Dewi Danu di tepi Danau Batur, Kintamani, Bangli.

Buletin Dewata, Bangli.

Sebagai ikon Danau Batur dan lambang kemakmuran, peringatan 2 tahun berdirinya patung dewi Danu digelar di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Rabu (1/1). Peringatan patung peraih Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dihadiri senator DPD RI Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III SE,(M.Thru), M.Si bersama tokoh masyarakat adat setempat.

Sebagai penggagas patung Dewi Danu, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedastraputra Suyasa III (AWK) berharap, keberadaan patung Dewi Danu dapat menarik kunjungan tujuan wisata spiritual sehingga turut meningkatkan perekonomian warga sekitar. Menurutnya, sejak diserahterimakannya patung Dewi Danu kepada pihak desa adat, geliat ekonomi kreatif sudah mulai bermunculan dengan adanya pusat kuliner hingga home stay di kawasan Danau Batur.

“Sudah mulai ramai, kalau dulu mungkin fasilitas perahu buatnya cuman ada beberapa, tapi sekarang sudah mulai banyak. Kemudian yang paling menggembirakan sudah mulai tumbuh ekonomi kreatif seperti adanya home stay seperti yang kita lihat. Jadi sebenarnya tujuan pembangunan patung ini untuk membantu kegiatan masyarakat setempat,” ujar Gusti Wedakarna.

Senator muda dari Bali ini pun mengingatkan agar masyarakat setempat dapat selalu menjaga keberadaan Patung Dewi Danu Tertinggi di Indonesia setinggi 15 Meter yang berada di kawasan suci Pura Tirta Hulundanu Batur, Kintamani. Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan dari adanya sampah – sampah plastik yang dapat menimbulkan citra buruk kepada wisatawan yang datang.

Patung Dewi Danu Batur Kintamani Tarik Kunjungan Wisatawan
Foto : Peringatan 2 Tahun Peresmian Patung Dewi Danu di Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Rabu, (1/1/2020).

“Tadi titiang sudah memeriksa pemeliharaan sudah bagus, sudah ada landscape taman yang indah. Ya, itulah yang diharapkan ke depan agar masyarakat bisa menjaganya, termasuk yang paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan, karena wisatawan tidak akan pernah datang ke wilayah yang banyak sampah plastiknya. Sekarang banyak wisatawan yang kritis dan pintar. Jadi mereka itu kalau membuktikan ketidaksenangannya dengan cara tidak datang dan mengungkapkannya lewat media sosial dan itu sangat rawan sekali, ” tandasnya.

Sementara, Perbekel Desa Songan B, Jro Lanang menuturkan meski kunjungan wisatawan belum begitu banyak ke tempat ini, namun diakui sejak 2 tahun dibangunnya ikon Dewi Danu memang terjadi peningkatan ekonomi kreatif. Didukung potensi yang ada, masyarakat pun mulai mengalihkan mata pencariannya dari pertanian ke sektor pariwisata.

“Memang secara ekonomi kreatif meningkatkan, seperti masyarakat yang mulai beralih dari pertanian ke pariwisata yaitu dengan pembuatan vila – vila, tempat selfie dan lain sebagainya. Salah satunya juga patung Dewi Danu masuk di dalamnya, bahwa ini mendukung pariwisata yang datang ke desa songan khususnya. Dan juga didukung oleh anak-anak yang sekolahnya di pariwisata dengan membawa ilmunya ke sini, mengingat potensi yang harus dikembangkan disini,” tuturnya.

Patung Dewi Danu dibangun di atas batu padas, di pinggir Danau Batur. Sosok Dewi Dewi Kemakmuran ini terlihat berdiri diatas naga dan ikan mujair yang menjadi ciri khas Danau Batur. Disekitarnya terdapat 3 patung – patung dayang dan patung ksatria raja. Untuk bisa melihat lebih dekat, wisatawan dapat menyeberangi danau menggunakan perahu yang tersedia. Satu perahu dapat mengangkut 1 grup yang berjumlah 8 orang dengan biaya sewa sebesar Rp. 120 ribu. Para petugas telah stand by di tempat dari pagi hingga sore hari, mereka pun dengan sukarela untuk membantu wisatawan yang ingin mengambil foto ikon Danau Batur ini.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *