NIKMATI WISATA MENYUSURI KAWASAN BATUR NATURAL GEOPARK BANGLI

Buletindewata.com, Bangli.

Pulau Bali sebagai tujuan wisatawa dunia, ternyata tidak hanya memiliki wisatawa pantai sebagai daya tariknya, namun Pulau Bali juga memiliki satu kawasan wisata yang unik, yakni Batur Natural Geopark. Batur Natural Geopark ini menjadi situs Geopark Pertama di Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 20 September 2012 yang lalu, pada Konferensi Geopark ke-11 di Portugal.

Sebagai kawasan Geopark atau taman bumi, kawasan ini tentunya memiliki daya tarik tersendiri, baik sebagai spot wisata bagi wisatawan dari seluruh penjuru dunia maupun sebagai obyek penelitian oleh para ilmuan.

Sebagai kawasan wisata, kawasan ini menawarkan beragam jenis aktivitas wisata alam yang cocok dinikmati oleh wisatawan yang menyukai aktivitas wisata out door. Berwisata di kawasan Batur Natural Geopark ini, wisatawan akan disuguhi pemandangan alam berupa Gunung Batur yang merupakan Gunung api yang masih aktif.

Untuk menuju ke kawasan Batur Natural Geopark, wisatawan yang tinggal di Denpasar, bis a mencapainya dengan menggunakan kendaraan bermotor atau mobil menuju ke arah Kintamani, Bangli yang berjarak sekitar 80 Km dari Kota Denpasar. Jika berangkat dengan kendaraan bermotor, maka diperlukan jarak tempuh sekitar 2 jam melalui daerah Ubud-Payangan.

Ketut Putra Wijaya, Pengelola sebuah agrowisata di Kitamani mengatatakan sejak ditetapkannya Kawasan Batur sebagai Natural Geopark, aktivitas wisata di kawasan ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. “Untuk aktivitas wisata, sebagian besar mereka melakukan wisata alam, seperti mendaki Gunung Batur, mengunjungi wisata budaya di Desa Trunyan hingga berkunjung ke beberapa agro yang ada di kawasan tersebut,” jelasnya.

Adapun keunikan dari Kaldera Gunung Batur ini seperti diterangkan Putra adalah proses terbetuknya Kaldera yang terjadi sekitar 23 ribu tahun yang lalu karena adanya aktivitas gunung api yang aktif. Kaldera ini terbentuk karena runtuhnya atau merosotnya permukaan tanah dan bebatuan ke perut Bumi karena kosongnya kantung magma di bawah gunung berapi.

Kaldera Gunung Batur ini sangat unik karena memiliki beberapa kaldera di dalamnya. Di dalam kaldera pertama, terbentuk kaldera kedua yang berbentuk melingkar. Di tengah kaldera muncul gunung berapi Gunung Batur dengan ketinggian 1.717 meter. “Di dalam kaldera tersebut juga terdapat danau yang berbentuk bulan sabit yang panjangnya sekitar 7,5 km dan lebar 2,5 km, itulah Danau Batur yang kita lihat saat ini,” ungkapnya.

Selain menikmati keindahan Danau dan Gunung Batur, di kawasan Geopark ini dikatakan Putra, wisatawan juga bisa melakukan aktivitas wisata lainnya, seperti menjelajahi desa-desa Bali Aga yang ada di sekeliling Danau batur ini, seperti Desa Kedisan, Buahan, Abang, Trunyan, Songan, Batur, Sukawana dan Kintamani.

Setiap desa yang ada di kawasan Kaldera ini memiliki sisi uniknya tersendiri, seperti yang dipaparkan Putra, Desa Trunyan misalnya, menjadi salah satu Desa yang ramai dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun asing karena di desa ini di desa ini memiliki kebiasaan memakamkan jenasah dengan caranya yang unik.

Di sini, mayat tidak dikubur dalam liang tanah, tetapi cukup diletakkan di atas tanah dan dilindungi dengan pagar bambu. “Yang menjadi daya tarik wisatawan adalah, mayat tersebut tidak mengeluarkan bau busuk, untuk mecapai desa ini, wisatawan harus menyeberangi Danau Batur dengan menggunakan boat yang dikelola oleh masyarakat lokal,” ungkapnya.

Selanjutnya adalah mengunjungi Desa Sukawana yang berlokasi di sisi Utara Danau batur ini, wisatawan bisa melihat daerah pertanian yang hijau. Hal ini tidak salah, karena disebutkan Putra, sebagian besar lahan di desa ini memang digunakan sebagai kawasan pertanian dan peternakan ayam petelur.

Berwisata ke kawasan ini, dikatakan Putra belum lengkap tanpa mengunjugi kawasan permandian air panas yang ada di kawasan ini. “Setelah lelah menjelajahi kawasan Kaldera Gunung Batur hingga ke desa-desa Bali Age, wisatawan bias bersantai di Toya Devasya, sebuah kolam air panas yang ada di tepi danau Batur,” ungkapnya.

Selain sebagai kawasan wisata yang seru dengan panorama alam yang indah dan udara yang sejuk, kawasan Kaldera Danau Batur ini juga sering digunakan sebagai lokasi pembuatan foto pre wedding baik oleh masyarakat lokal maupun oleh wisatawan asing.

Menurut Putra, lokasi ini sangat tepat untuk dijadikan sebagai lokasi pemotretan karena kawasan kaldera Gunung Batur memiliki banyak spot untuk pemotretan. “Kawasan ini sangat cocok untuk lokasi pemotretan, baik itu lokasi foto pre wedding ataupun lokasi pemotretan lainnya karena di tempat ini tersedia banyak obyek yang menarik.

Dewa Ayu Ika Pramitha, warga Denpasar yang Minggu kemarin ditemui di sekitar Kaldera Gunung Batur mengatakan jika lokasi ini memang sangat tepat untuk lokasi pre wedding karena dengan latar belakang pegunungan bias menampilkan foto yang cantik.

Untuk aktvitas pre wedding ini, Ika mengatakan pihaknya harus membayar retribusi sebesar Rp 250 ribu. “Untuk pre wedding, pasangan yang melakukan pemotretan harus membayar retribusi kepada pihak pengelola sebesar Rp 250 ribu,” jelas Ika yang Minggu kemarin menjadi asisten untuk pembuatan foto pre wedding.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *