JOGGING SEHAT, DI EKOWISATA SUBAK SEMBUNG DENPASAR

Buletindewata.com, Denpasar.

Sebagai salah satu kota metropolitan, Denpasar masih menyimpan area wisata alam dengan kegiatan pertanian tradisional. Area wisata alam tersebut adalah Ekowisata Subak Sembung yang berada di Kelurahan Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara.

Ekowisata Subak Sembung yang merupakan areal persawahan seluas 115 hektar ini dikelola oleh sekitar 200 orang petani tradisional dari kelurahan setempat. Saat ini keberadaan kawasan ekowisata tersebut menjadi wisata alternatif bagi wisatawan yang berkunjung di Kota Denpasar.

Sejak tahun lalu, Ekowisata Subak Sembung bukan hanya sebagai kawasan pertanian untuk petani setempat juga bertambah fungsi menjadi tempat melakukan aktivitas wisata. Ketua Pengelola Ekowisata Subak Sembung, Made Suastika menjelaskan kegiatan yang dapat dilakukan oleh wisatawan di kawasan ini yaitu wisata pendidikan, khususnya bagi wisatawan yang ingin melihat kondisi lahan pertanian di tengah kota.

Tempat wisata yang menonjolkan kawasan pertanian itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung proses bertani dengan metode tradisional. Selain sebagai tempat wisata edukasi, Subak Sembung juga  merupakan salah satu jogging treck favorit bagi masyarakat Kota Denpasar. “Tempat ini menjadi tempat jogging favorit masyarakat yang tinggal di kawasan Denpasar Utara,” ujar Suastika di Denpasar beberapa waktu lalu.

Kawasan ini menyediakan areal jogging treck sepanjang 1 kilometer dilengkapi jalan beton selebar 2 meter. Meski demikian area jongging treck tersebut menurut Suastika tidak mengganggu kegiatan pertanian di kawasan itu. “Khususnya aktivitas pengairan sawah.  Hal ini karena saluran air yang ada tetap berfungsi dengan baik,” katanya.

Selain padi, di areal persawahan ini juga terdapat aneka tanaman obat-obatan serta tanaman bunga pacar dengan beragam warna. Areal persawahan ini juga bebas dari bahan kimia (pestisida) “Kami disini menggunakan pupuk organik dan tidak menggunakan pestisida, sehingga produk pertanian kami benar-benar bebas pestisida,” terang Suastika.

Dituturkannya, penggunaan bahan-bahan organik tersebut berdasarkan aturan adat subak yang melarang anggota mengubah fungsi sawah.  “Awig-awig dan hasil pertanian Subak Sembung terekam di tembok bale subak. Ada juga peta yang menunjukkan batas-batas areal subak dengan kawasan pemukiman, jalan, sungai, dan lainnya,” tutupnya.(bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *