WISATA PARAGLIDING DARI BUKIT RIUG, TERBANG MELIHAT PESONA PANTAI PANDAWA – BALI

 

Buletindewata.com, Badung.

Bali sebagai destinasi internasional memiliki beragam jenis atraksi wisata, mulai yang sifatnya santai, hingga yang memacu adrenalin. Salah satu atraksi wisata yang memacu adrenalin dan tentunya menjadi salah satu aktivtias wisata yang diminati adalah paragliding.

Paragliding atau paralayang ini saat ini menjadi salah satu atraksi wisata yang saat ini sangat digemari oleh wisatawan yang datang ke Bali. Tony Yudantoro, salah seorang instruktur di Riug Paragliding ketika ditemui Minggu kemarin mengatakan saat aktivitas paralayang ini sudah tidak seperti dulu lagi, dimana dulu paralayang hanya menjadi salah satu cabang olahraga ekstrem. “Dulu image dari paragliding ini adalah aktivitas yang menyeramkan, sehingga tidak diminati sebagai bagian dari atraksi wisata,” jelasnya.

Namun saat ini image menyeramkan pada atraksi wisata ini, sudah tidak ada lagi, pasalnya perkembangan teknologi yang semakin canggih saat ini membuat aktivitas olahraga ini aman, karena teknologi yang digunakan dalam aktivitas ini sudah sangat canggih.

Sehingga keamanan serta kenyamanan baik penumpang maupun sang pilot dari aktivitas ini sangat terjamin. “Saat ini kan tidak ada lagi berita tentang kecelakaan dari aktivitas ini, karena semua peralatannya sudah aman,” paparnya.

Meskipun teknologi yang digunakan untuk melakukan aktivitas ini sudah sangat canggih dan keamanan dari teknologi ini cukup terjamin, tetapi dalam aktivitas terbang, Yuda menyebutkan wisatawan khususnya bagi pemula harus didampingi oleh seorang instruktur yang sudah memiliki lisensi untuk terbang.

Sebelum terbang, wisatawan wajib menggunakan perlengkapan terbang berupa harness dan helmet dan parasut sesuai dengan ukuran dan berat badan pilot dan penumpang. Sedangkan untuk perlengkapan pendukung terbang yang diperlukan antara lain radio/HT. “Untuk radio ini wajib dibawa oleh instruktur, karena sebagai alat untuk berkomunikasi dengan tim yang ada di bawah maupun diatas,” terangnya.

Selain itu bagi peserta pemula, juga wajib untuk menggunakan sepatu, sepatu ini berfungsi untuk mengindari terjadinya cedera kaki ketika take off dan landing, ini karena sebelum terbang, peserta akan diajak berjalan di tanah yang berbatu, sehingga jika tidak menggunakan sepatu, kaki akan rawan cedera.

Setelah menggunakan perlengkapan terbang harness dan parasut, barulah wisatawan akan diajak untuk terbang dari bukit Riug. Dilanjutkan Yuda, selain peralatan yang digunakan, faktor lain yang harus diperhatikan adalah faktor alam, yakni kecepatan angin dan faktor cuaca.

Untuk terbang tandem ini, kecepatan angin yang diperlukan berkisar dari 15 Km per jam sampai dengan 20 Km per jam. “Dengan kecepatan angin tersebut, kami sudah bisa terbang tandem selama 15 menit di udara,” tambahnya.

Menikmati paragliding ini dikatakan Yuda menjadi salah satu cara untuk menikmati keindahan Pulau Bali dengan cara yang berbeda. Karena wisatawan akan dimanjakan dengan dua kenikmatan sekaligus yakni memanjakan mata dengan pemandangan alam yang indah, serta terpacunya adrenalin.

Paragliding di Bukit Riug ini, diakui Yuda sama halnya dengan paragliding lainnya di Bali Selatan, yakni menawarkan aktivitas terbang selama 15 menit, selama 15 menit diudara ini, wisatawan akan diajak untuk menikmati pengalaman terbang di atas permukaan laut Bali Selatan.

Dari ketinggian sekitar 200 meter ini, wisatawan akan disuguhkan pemandangan air laut yang berwarna hijau tosca di sisi selatan dan hamparan batu kapur yang ditumbuhi padang rumput di sisi utaranya. Dari atas akan dapat dijumpai pemandangan laut, Pantai Pandawa,  Pantai Geger, Pura Gunung Payung serta beberapa hotel yang cukup terkenal.(bude)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *