Coral Triangle Center (CTC) Beri Penghargaan Anugerah Warisan Laut “Ocean Legacy Awards”

Coral Triangle Center (CTC) Beri Penghargaan Anugerah Warisan Laut "Ocean Legacy Awards"
Foto : (dari kiri ke kanan) Consule General of Australia, Ade Waworuntu, Wempie Dirk Parinussa, Dinah Yunitawati, Dr. Gede Hendrawan (Awardees), Rili Djohani (CTC Executive Director).

Buletin Dewata, Denpasar.

Sepuluh pejuang konservasi yang berasal dari Indonesia dan kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) mendapatkan penghargaan Anugerah Warisan Laut (Ocean Legacy Awards) yang baru pertama kali diadakan pada tahun ini.

Ocean Legacy Awards diprakarsai oleh Coral Triangle Center (CTC), yayasan konservasi kelautan yang berbasis di Bali, untuk memberikan penghargaan kepada pihak-pihak yang telah memberikan sumbangan yang besar dalam mencapai visi-nya “Lautan yang Sehat yang Memperkaya Manusia dan Alam” (Healthy Seas that Enrich People and Nature”), Acara dilaksanakan pada perayaan 10 tahun CTC, Jumat (29/11) di Sanur, Bali.

Penerima anugerah ini adalah ilmuwan kelautan Dr. Gede Hendrawan; pemimpin wanita Dinah Yunitawati; pebisnis wanita Ade Waworuntu; pemimpin komunitas Wempie Dirk Parinussa; LSM lingkungan hidup dari Timor Leste Roman Luan Foundation, kelompok pemuda-pemudi dari Nusa Penida STT Tri Budhi Yasa, dan BaliWISE dari Indonesia; media Kompas dan Mongabay; dan Lyris Lyssens, yang memenangkan kontes foto untuk generasi muda: Ocean Legacy Photo Challenge.

Kriteria pemilihan adalah upaya yang luar biasa, integritas dan komitmen di bidang konservasi laut. Para penerima anugerah telah mendukung pengelolaan sumber daya lingkungan oleh masyarakat setempat dan bekerja sama dalam memberdayakan komunitas tersebut. Mereka membina kerja sama dan kemitraan lintas sektoral untuk menciptakan solusi-solusi yang inovatif dalam menyampaikan pesan edukatif konservasi laut kepada masyarakat luas. Mereka menghasilkan karya nyata dengan hasil yang berkelanjutan dan berpengaruh jangka panjang di kawasan ini.

“Anugerah Warisan Laut ini bertujuan untuk memberikan penghargaan pada individu dan kelompok yang telah memberikan sumbangan yang luar bisa, dengan harapan akan memberikan inspirasi pada masyarakat luas dalam menjaga laut kita. CTC percaya bahwa setiap orang dapat memainkan peran penting dalam melindungi laut yang menjadi sumber penghidupan kita. Sejak tahun 2010, CTC bermitra dengan individu, sekolah, komunitas, pihak swasta, pemerintah dan berbagai pihak dalam menjalankan misi untuk memberikan inspirasi dan melatih berbagai generasi untuk menjaga ekosistem pesisir dan laut di kawasan Segitiga Terumbu Karang, yang merupakan pusat keanekaragamanhayati laut dunia,” ungkap Direktur Eksekutif CTC Rili Djohani.

Penghargaan khusus juga diberikan kepada Pendiri dan Ketua Dewan Pembina, George Tahija. Ia telah bersama-sama mendirikan CTC dan menyokong visi untuk mendirikan sebuah yayasan di Indonesia yang didedikasikan untuk pembangunan kapasitas di bidang konservasi laut. Dalam masa kepemimpinannya, ia pun telah mengarahkan CTC untuk memiliki akar yang kuat, mempunyai jangkauan regional dan misi yang berpengaruh global.

Penghargaan khusus juga diberikan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia yang telah berada di garis depan dalam melindungi keanekaragaman hayati Indonesia dan kawasan Segitiga Terumbu Karang dengan komitment untuk melindungi 20 juta hektar Kawasan Konservasi Kelautan (KKP) pada tahun 2020 dan 30 juta hektar pada tahun 2030.

Dalam sambutannya, Dr. Suseno Sukoyono selaku Penasihat Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, menyebutkan bahwa organisasi seperti CTC sangat diperlukan dalam membangun kapasitas di bidang penngelolaan sumber daya laut. “Kami mendukung CTC karena fokusnya pada pengembangan manusia dalam pengelolaan terumbu karang. Kami mendukung dari awal dan telah melihanya bertumbuh semakin kuat dari waktu ke waktu”, ucapnya.

Rili Djohani menjelaskan pada 2010, pihaknya memulai dengan lima orang dan melindungi sekitar 20,000 hektar kawasan konservasi perairan. Selanjutnya, pada pertengahan 2019 dilakukan upaya perlindungan 387,000 hektar habitat laut di tujuh lokasi dan mengembangkan 26 modul pelatihan, memberikan 230 sesi pelatihan untuk lebih dari 5,000 peserta. “Melalui jejaring pembelajaran, kami telah membangun kapasitas dan menghubungkan lebih dari 200 eksekutif pemerintah lokal, 300 pemimpin wanita, dan 500 pengelola dan praktisi kawasan konservasi perairan,” imbuh Rili Djohani.

Dikatakan pula, CTC telah melibatkan lebih dari 10,000 orang di Pusat Konservasi Kelautan CTC (CTC Center for Marine Conservation) di Sanur, Bali. “Dengan dukungan dari para mitra dan rekan kami, dan belajar dari pengalaman selama 10 tahun ini, kami akan menjalankan dekade berikutnya dalam melindungi Segitiga Terumbu Karang untuk generasi selanjutnya,” pungkasnya.

Biodata Penerima Anugerah

Dr. Gede Hendrawan, PhD – pakar ilmu kelautan di Indonesia yang telah menerbitkan berbagai studi tentang pengaruh aktivitas manusia terhadap laut, terutama dampak mikro plastik terhadap mega fauna laut seperti ikan pari manta di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida. Dr. Hendrawan adalah dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan di Universitas Udayana dan memimpin Laboratorium Komputasi Laut dan Kelompok Studi Lingkungan Laut dan Pesisir.

Dinah Yunitawati – pemimpin muda wanita dan pendiri Banda Aware, proyek konservasi yang bertujuan untuk mengurangi penambangan karang dan pasir di Kepulauan Banda dengan menerapkan pendekatan-pendekatan berbasis komunitas. Banda Aware adalah bagian dari Forum Pemimpin Wanita CTI-CFF. Ibu Yunitawati adalah staf Kementrian Kelautan dan Perikanan pada Direktorat Perencanaan Ruang Laut. Beliau juga mengajar perencanaan pesisir di Universitas Trisakti.

Wempie Dirk Parinussa – dikenal sebagai salah satu tokoh utama konservasi laut di Maluku Tengah, dan telah mempimpin berbagai inisiatif lingkungan di komunitasnya. Sejak 2003, beliau telah menjadi Raja, pemimpin tradisional Desa Ameth di Nusalaut, Kepulauan Lease. Pada 2017, beliau menjadi bagian dari Pejuang Laut (Champions of the Sea), program CTC di bawah Proyek USAID Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) dan telah menetapkan peraturan lokal untuk melarang penambangan pasir dan karang, penebangan mangrove dan pemburuan penyu laut dan hiu di wilayahnya.

Ade Waworuntu – pemilik Jenngala, perusahaan keramik terkemuka di Bali. Di bawah kepemimpinannya, Jenggala telah menyeimbangkan bisnis, tanggung jawab sosial dan keberlanjutan lingkungan dengan menciptakan komunitas kreatif yang menginspirasi masyarakat dalam menjalani hidupnya sebagai ekspresi seni. Dengan arahan Ibu Waworuntu, Jenggala berkolaborasi dengan CTC dalam menciptakan karya monumental instalasi seni keramik Semesta Terumbu Karang – Coral Universe, yang menjadi karya seni utama di Pusat Konservasi Laut CTC.

Roman Luan Foundation (ROLU) – adalah LSM independen yang terdaftar di Forum LSM Timor Leste. ROLU adalah inisiatif pemimpinan komunitas di Kepulauan Ataúro untuk menjamin kepemilikan dan pengawasan atas aset lokalnya. Sejak 2017, ROLU memulai kolaborasi dengan CTC untuk pengembangan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Ataúro, yang menghubungkan proyek-proyek konservasi laut berbasis komunitas menjadi suatu sistem zonasi dan pengelolaan yang terpadu.

BaliWISE – didirikan pada tahun 2012 sebagai bagian dari ROLE Foundation, BaliWISE bertujuan untuk memberdayakan anak-anak perempuan dan perempuan muda dengan meningkatkan kemampuan mereka untuk memperoleh pekerjaan. BaliWISE mengembangkan program pelatihan untuk mereka yang berisiko tinggi karena kemampuan ekonominya.  Kesempatan yang diberikan kepada siswa BaliWISE untuk mendapatkan pendidikan dan ketrampilan untuk mengangkat diri dan keluarganya dari kemiskinan, bermanfaat bagi siswa tersebut dan juga komunitas-nya, serta masyarakat Indonesia pada umumnya.

Sekaa Teruna Teruni Tri Budhi Yasa – organisasi pemuda di Banjar Kelod, Nusa Lembongan. Kelompok ini meningkatkan kesadaran komunitasnya tentang dampak plastik bagi lingkungan dengan mengelola bersih-bersih desa dan pesisir setiap bulannya, menyediakan galon air minum bersih secara gratis saat kegiatan masyrakat desa untuk mengurangi penggunaan plastik sekali. Kelompok ini juga menyelenggarakan kompetisi layangan bertema ikan pari manta untuk menyoroti bahaya yang mengancam pari manta dan mendorong masyarakat desa untuk menjaga biota laut karismatik di Nusa Lembongan ini.

Kompas – adalah koran Indonesia terbesar dan secara konsisten meliput secara mendalam isu-isu laut dan kelautan.

Mongabay – adalah platform berita nirlaba di bidang konservasi laut dan ilmu lingkungan yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan isu-isu sosial dan lingkungan melalui reportase dan analisis berita, serta penulisan materi-materi edukasi lingkungan yang mendalam. Artikel-artikel dalam Bahasa Indonesia-nya, bertujuan meningkatkan ketertarikan masyarakat akan masalah lingkungan hidup, termasuk isu ekosistem laut dan pesisir yang dihadapi KKP Nusa Penida dan Jejaring KKP Kepulauan Banda.

Lyris Lyssens – Sejak penyelaman pertamanya dan bertemu dengan ikan pari manta pada tahun 2015, Lyris terpanggil untuk berkontribusi di dunia konservasi laut. Lyris merupakan lulusan S2 Perencanan Pariwisata Berkelanjutan di Perancis. Saat ini, Lyris berprofesi sebagai seniman dan ilustrator di Bali.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *