AEPW bersama Program STOP, Wujudkan Laut Bali Bebas Sampah Plastik

AEPW bersama Program STOP, Wujudkan Laut Bali Bebas Sampah Plastik

Buletin Dewata, Denpasar.

Permasalahan sampah di Pulau Bali tidak hanya menakutkan bagi para wisatawan, pemerhati lingkungan juga memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini. Salah satunya Alliance to End Plastic Waste (AEPW) yang mengumumkan kerja samanya dengan Program STOP untuk memperluas pengembangan solusi-solusi pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan sirkular di Indonesia.

Melalui Program STOP, AEPW bertujuan untuk secara drastis meningkatkan pengumpulan sampah dan memperkenalkan layanan pengumpulan sampah ke rumah tangga untuk pertama kalinya, menciptakan pekerjaan tetap di bidang pengelolaan sampah setempat, serta membersihkan area-area yang telah dipenuhi oleh sampah plastik.

Kolaborasi AEPW bersama Program STOP selama tiga tahun ini akan berfokus di Kabupaten Jembrana yang berlokasi di pantai barat Laut Bali. AEPW akan mendukung studi kelayakan untuk mewujudkan masa depan yang bebas dari sampah plastik yang selama ini tidak terkelola dengan baik, melakukan assessment mengenai bagaimana cara memperluas pendekatan tersebut, serta memberikan dukungan finansial dan keahlian teknis.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa setiap tahunnya, 33.000 ton sampah plastik dari Pulau Bali bocor ke laut. Tantangan terbesar dari masalah ini adalah kurangnya layanan pengelolaan sampah yang tepat untuk mencegah rumah tangga dan pelaku usaha untuk membakar sampah secara terbuka atau membuangnya ke lingkungan.

Menghentikan kebocoran sampah plastik ke lingkungan laut sangatlah penting, terutama untuk mepertahankan industri pariwisata yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Kabupaten Jembrana diperkirakan menyumbang sekitar 13.200 ton per tahun sampah plastik ke lingkungan, akibat dari besarnya jumlah populasi serta kurangnya infrastruktur pengelolaan sampah dan daur ulang.

David Tailor, Ketua AEPW dalam siaran persnya di Denpasar, Selasa (24/9) menyampaikan, Program STOP memberi dukungan kepada kota-kota dengan keahlian teknis yang dimilikinya guna mencapai target nol kebocoran sampah ke lingkungan, meningkatkan sistem ekonomi sirkular, menciptakan lapangan pekerjaan baru di bidang pengelolaan sampah, dan mengurangi dampak berbahaya dari sampah yang tidak dikelola dengan baik terhadap kesehatan masyarakat, pariwisata, dan perikanan.

Tujuan jangka panjang Program STOP adalah menciptakan solusi-solusi dan model terbaru yang dapat ditingkatkan dengan cepat di seluruh rantai nilai plastik, mulai dari penggunaan plastik hingga pengumpulan dan daur ulang sampah.

Lebih lanjut dia menjelaskan, AEPW berfokus pada area-area di mana kebutuhan akan perbaikan pengelolaan sampah plastiknya sangat mendesak juga menawarkan keahlian teknis dan bisnis.

“Di Kabupaten Jembrana, kami memiliki peluang untuk bekerja dengan komunitas lokal dalam membangun infrastruktur baru untuk mengelola dan mendaur ulang sampah untuk mencegah kebocoran sampah plastik ke lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu Alfred Stern, Co-Founder Program STOP menyampaikan, AEPW sebagai mitra strategis di Program STOP memiliki komitmen yang sama untuk mengatasi tantangan terbesar di tingkat global, yaitu untuk menghentikan pembuangan plastik ke lingkungan.

“Plastik secara fleksibel dapat digunakan dan didaur ulang kembali menjadi sebuah produk baru dan kita perlu mengembangkan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan dengan model ekonomi sirkular guna mendukung pengembangan sosial-ekonomi masyarakat di wilayah ini,” jelasnya.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *