Pura Kahyangan Jagat Dalem Solo Jadi Cagar Budaya, Kini Resmi Memiliki Purana

Pura Kahyangan Jagat Dalem Solo Jadi Cagar Budaya, Kini Resmi Memiliki Purana
Foto : Purana Pura Kahyangan Jagat Dalem Solo dibacakan oleh Putu Darma Susila dan diterjemahkan Dewa Putu Gingsir asal Cemagi, Sabtu (7/12).

Buletin Dewata, Badung.

Bertepatan dengan Hari Suci Saraswati yang jatuh pada rahina Saniscara Wuku Watugunung, Sabtu (7/12) dilaksanakan pembacaan dan persemian purana Pura Kahyangan Jagat Dalem Solo yang merupakan cagar budaya yang berada di Desa Sedang, Abiansemal Badung. Kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama.

Pada kesempatan itu, ketua panitia karya I Gst Agung Ngurah Sumerta menjelaskan bahwa Pura Dalem Solo berdasarkan arkeologinya merupakan salah satu pura tertua di Bali yang berdiri pada abad ke-14 akhir atau tahun 1339 masehi. Hal ini ditunjukan dengan ciri adanya stupa atau candi yang sempat direstorasi pada tahun 2010 lalu. Pura Dalem Solo yang semula digolongkan sebagai pura pamaksan telah dimasukkan dalam kategori pura kahyangan jagat berdasarkan SK dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung dengan nomor 1523/2016 per 6 Oktober 2016. Sebelumnya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali, Wilayah Kerja Propinsi Bali, NTB, dan NTT telah menetapkan Pura Dalem Solo sebagai Cagar budaya berdasarkan SK nomor 501/06/UPT/DKP/2007 tentang Penetapan Cagar Budaya dan surat penetapan cagar budaya nomor HK.501/07/UPT/DKP/2007.

I Gusti Ngurah Ketut Sarga didampingi I Gusti Ngurah Ardana selaku seksi pengkajian sejarah Pura Dalem Solo menuturkan, sejak tahun 2005 telah dilakukan kajian budaya tentang Pura Dalem Solo dengan dukungan biaya dari Pemkab Badung. Berdasarkan hasil kajian diketahui bahwa keberadaan Pura yang memiliki pengempon sebanyak 56 sepaon ini, sangat sesuai dengan Lontar Tattwa Catur Bhumi yang telah disalin Nyoman Sukada selaku pemerhati sejarah Pura Dalem Solo dan juga mantan Ketua PHDI Badung. Lontar tersebut kemudian disalin kembali oleh pakar nyurat lontar aksara bali, I Ketut Sudarsana yang juga sebagai Bendesa Adat Kapal sehingga menjadi bentuk Purana yang terbuat dari logam tembaga terdiri dari 9 lempengan terbungkus kotak kayu.

“Tiang buat purana ini untuk kedepannya supaya anak dan cucu kita tidak bingung nanti seperti tentang sejarah kami dulu. Berdasarkan petunjuk kami disuruh mencari sejarah Pura Dalem Solo ini ke arah Barat Laut (Kaja-Kauhan). Banyak buku-buku yang kita cari tidak tepat, tapi dari yang kami dapatkan dari Bapak Nyoman Sukada, salinan dari Lontar Tattwa Catur Bhumi itulah yang tepat. Kenapa kami katakan tepat, sebab disini memang ada yang disebut sawah buun yang bekasnya disini dulu ada Desa Buun dan ada penghuninya dulu yang bernama I Gusti Ngurah Buun tapi sudah dikalahkan atau menghindarkan diri sehingga tidak terjadi perang dengan Puri Mengwi. Akhirnya kami yang sekarang ini datang kemari membuat pedesaan disekitar sawah buun ini menemukan pura ini. Makanya, setelah kami temukan sejarahnya maka kami buatkan purana dan buku supaya tidak lagi disebut dengan bahasa “maprekone”. Inilah sebenarnya kejadian dari Pura Dalem Solo tersebut,” ujar Sarga.

Pada kesempatan itu, Purana tersebut dibuka dan dibacakan isinya oleh Putu Darma Susila dan diterjemahkan Dewa Putu Gingsir asal Cemagi. Dari pembacaan purana diketahui bahwa keberadaan Pura Dalem Solo berkaitan erat dengan keturunan Dalem Majapahit, yakni Ida Ratu Ngurah Sakti. Dimana pada intinya, pura ini memiliki fungsi di bidang kestabilan jagat dan perlindungan pertanian dari hama atau nangluk merana.

Ketua Lembaga Pelestarian Pura Dalem Solo, I Wayan Abera menyampaikan bahwa proses pembuatan purana dalam bentuk lempeng tembaga ini memerlukan waktu kurang lebih selama 1 tahun 3 bulan. Dengan adanya Purana Pura Khayangan Jagat Dalem Solo ini diharapkan dapat terus dilestarikan oleh para generasi penerus selanjutnya. “Harapan kita kepada para penerus nantinya biar betul – betul bisa ajeg dan mampu mempertahankan pura ini termasuk situsnya,” tandasnya.

Acara peresmian purana Pura Dalem Solo ditandai dengan penyerahan buku alih aksara dan terjemahan dari purana kepada Bendesa Adat Sedang I Made Bujastra dari Ketua Lembaga Pelestarian Pura Dalem Solo, I Wayan Abera disaksikan para warga pengempon pura. Acara tersebut juga dihadiri Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung diwakili oleh Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya IB Gede Arjana, Ketua PHDI Kecamatan Abiansemal IGAK Sudaratmaja, Kepala UPT Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali wilayah kerja Provinsi Bali, NTB dan NTT Ni Komang Aniek Purniti, Perwakilan Camat Abiansemal, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Abiansemal, Perbekel Desa Sedang I Gede Putu Natih, Kelian Adat dan Dinas se-Desa Sedang, Ketua BPD dan LPM Desa Sedang. Selanjutnya, Purana Pura Dalem Solo akan dipelaspas pada Tanggal 10 Desember 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *