Seminar Sejarah Balingkang, Wagub Cok Ace Harap Mampu Mempererat Hubungan Bali – Tionghoa

Sejarah Balingkang, Wagub Cok Ace Harap Mampu Mempererat Hubungan Bali - Tionghoa

Buletin Dewata, Tabanan.

Mengetahui lebih dalam tentang sejarah keberadaan masyarakat Tionghoa di Bali, Paiketan Krama Bali, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Bali, dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali menggelar seminar sejarah Dalem Balingkang, di Politeknik International Bali, Kediri, Tabanan, Selasa (3/12).

Dalam sambutannya saat membuka Seminar, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyampaikan bahwa pengaruh budaya Tionghoa telah masuk dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali sejak zaman dulu. Akulturasi budaya antara Bali dan Tionghoa dapat dilihat dari adanya kesenian barong, baris Cina, penggunaan uang kepeng hingga dalam bentuk lainnya seperti tempat pemujaan Dewi Kwan Im dan Ratu Ngurah Subandar. Masyarakat Bali sejatinya telah memiliki hubungan emosional dengan masyarakat Tionghoa. Untuk itu, hubungan yang telah ada ini hendaknya selalu dijaga, dipelihara bahkan ditingkatkan.

“Seminar ini merupakan salah satu wujud dari Suksma Bali, terima kasih kita pada sesama, jiwa wirausaha dan entertainment telah kita wariskan dari Tionghoa. Jika nanti ada perbedaan pandangan terkait sejarah yang ada, mari kita cari titik temu bersama sehingga seminar ini berguna dalam mempererat hubungan Tionghoa dan Bali sebagai modal pembangunan menuju Bali Era Baru, ” ujar Cok Ace.

Ketua Panitia Prof. I Nengah Duija yang juga guru besar IHDN mengatakan bahwa penyelenggaraan seminar ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif orang Bali terhadap hubungan Bali-Tionghoa seperti hubungan sejarah, kultural, ekonomi, dan politik, serta memberikan gambaran benang merah cerita tentang Raja Sri Maharaja Jayapangus dan Kang Cing Wey putri Raja Chung Kang di Tiongkok (Dinasti Sung).

Menurutnya hingga saat ini kebenaran kisah tersebut masih simpang siur apakah merupakan fakta sejarah, migrasi kebudayaan ataukah sebuah pergulatan ideologi agama. Hal itu termasuk tentang pusat pemerintahan Sri Aji Jayapangus yang disebutkan di Dalem Balingkang, padahal menurut fakta sejarah pusat kerjaan dalam prasasti disebutkan di Sukawana daerah sekitar Penulisan, Kintamani.

“Kami akan bahas, apakah Jaya Pangus yang berkuasa abad itu punya kontribusi terhadap masuknya Tionghoa ke Bali. Sehingga maksud seminar ini apakah itu merupakan fakta sejarah, budaya, atau religius. Jikapun yang kita dapatkan adalah bukan fakta sejarah, namun paling kita tidak punya gambaran etnografi yang lengkap,” tuturnya.

Seminar ini diisi dengan pemaparan dari berbagai sudut pandang narasumber diantaranya Ahli Arkeologi Prof. I Wayan Ardika (Fakuktas Ilmu Budaya Unud), Ahli Kebudayaan Prof. Sulystyawati, Ahli Sastra Babad Dr. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum, Dr. I Wayan Wisnu, Ahli Agama Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawawangsa Pemayun dan ahli lainnya.

Seminar sejarah Dalem Balingkang yang berlangsung selama 2 hari dari tanggal 3-4 Desember 2019 diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai profesi dan lembaga. Ditargetkan hasil dari seminar ini akan dijadikan bahan penyusunan buku sehingga bisa menjadi suatu bentuk diplomasi kebudayaan Bali dan Tionghoa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *