Tawur Balik Sumpah Digelar 35 Tahun Sekali di Bandara Ngurah Rai untuk Menetralisir Unsur Negatif

Tawur Balik Sumpah digelar 35 Tahun Sekali di Bandara Ngurah Rai untuk Menetralisir Unsur Negatif

Buletin Dewata, Badung.

Guna menetralisir dan menyeimbangkan interaksi alam, membersihkan Bhuana Agung dan Bhuana Alit, baik sekala dan niskala, dilaksanakan Upacara Tawur Balik Sumpah di area selatan Bandara I Gusti Ngurah Rai. Upacara ini diikuti oleh seluruh umat Hindu di lingkungan kerja Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.

Ketua panitia karya, Ketut Suartika didampingi pemangku Pura Jagat Tirtha menyampaikan bahwa Upacara Tawur Balik Sumpah, Pedudusan Agung Menawa Ratna Lan Caru Wrheraspati Kalpa Utama, Rsi Gana Ageng, Pujawali Utama di Pura Jagat Tirtha Bandara I Gusti Ngurah Rai – Bali menjadi ritual yang wajib dilaksanakan dalam kurun waktu 35 tahun sekali.

Rangkaian upacara telah dimulai sejak 25 Oktober sampai 16 Oktober 2019. Tahap persiapan untuk Tawur Balik Sumpah sendiri dimulai pada 1 November dengan Melaspas Genah atau Nuasen Karya, dilanjutkan dengan Nunas Tirta, Mepepada dan Melasti pada 7 November.

Upacara Puncak Tawur Balik Sumpah dan Mepekelem dilangsungkan pada 9 September, mengambil tingkatan utama dengan menggunakan sarana caru hewan meliputi kerbau yusmrana, kambing, bebek hitam, dan ayam hitam. Upacara dipuput oleh Tri Sadhaka yaitu Pedanda Siwa, Budha, dan Bujangga.

Melalui pelaksanaan Tawur Balik Sumpah diharapkan dapat mengharmoniskan kembali tata ruang Tri Hita Karana yang meliputi tiga unsur yaitu Parahyangan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa), Palemahan (lingkungan), dan Pawongan (sesama manusia) dengan menetralisir/ nyomia unsur negatif (Butha Kala) menjadi unsur positif (sifat kedewataan)sehingga membantu umat manusia mencapai keseimbangan dengan alam kehidupan.

“Upacara dan bakti yang dilakukan umat Hindu di bandara ini adalah agar tercipta harmonisasi antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit sehingga energi positif diperoleh untuk semua umat termasuk keluarga besar Angkasa Pura di Bandara I Gusti Ngurah Rai dan juga untuk alam sekitarnya,” ujar Ketut Suartika.

Tawur Balik Sumpah digelar 35 Tahun Sekali di Bandara Ngurah Rai untuk Menetralisir Unsur Negatif

Terkait ritual yang digelar di areal Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, General Manager dari bandara setempat, Herry A.Y. Sikado memberikan dukungan sepenuhnya untuk kelancaran kegiatan upacara. Pihaknya berharap melalui pelaksanaan yadnya tersebut, diharapkan dapat menetralisir unsur negatif menjadi positif yang berdampak pada kehidupan serta kelancaran bagi operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali.

“Harapaan kita dengan upacara ini ya kita bisa menyatu dengan alam. Kita bisa menetralisir hal – hal yang berdampak negatif terhadap operasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Pada upacara ini juga kita memohon bahwa seluruh pekerjaan proyek yang kita laksanakan di bandara ini bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Herry A.Y Sikado menambahkan pihaknya sangat mengharapkan dukungan desa adat penyangga disekitar terkait perkembangan bandara Ngurah Rai. Diakui pihaknya senantiasa menyalurkan bantuan CSR bagi kepentingan Desa Adat setempat meliputi 3 aspek yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial.

“Hal – hal yang dapat kita bantu, kita akan salurkan melalui CSR, sehingga tak hanya bandara ini yang tumbuh, desa-desa penyangga di lingkungan bandara ini juga bisa ikut tumbuh dengan perkembangan bandara,” pungkasnya.

Upacara Tawur Balik Sumpah akan dilanjutkan dengan pelaksanaan Pujawali utama di Pura Jagat Tirta, pada 12 November diikuti Upacara Penganyar pada 13 dan14 November dan ditutup dengan prosesi Nyineb pada 15 November 2019. Sebagai penutup dari rangkaian upacara, pada 16 November 2019 akan digelar Upacara Nyegara Gunung.(rah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *