Upacara Melaspas Pura Pasar Agung di Lereng Gunung Batur Kintamani

Upacara Melaspas Pura Pasar Agung di Lereng Gunung Batur Kintamani

Buletin Dewata, Bangli.

Bertepatan pada Redite Paing Ugu, sasih kelima atau Minggu, 3 Nopember 2019 digelar Upacara Pemelaspasan Pura Pasar Agung Batur. Upacara ini dilaksanakan serangkaian telah rampungnya pembangunan pura di lereng Gunung Batur ini yang rusak karena terjangan lahar dari letusan Gunung Batur.

Berdasarkan catatan sejarah, meletusnya Gunung Batur yang terjadi pada 2 Agustus – 21 September 1926 telah menimbun Desa Batur, Pura Ulun Danu Batur beserta Pura Pesanakan termasuk Pura Pasar Agung. Selanjutnya, Desa Batur dan puranya dipindahkan ke Kalang Anyar (tempat baru) yang berada di dataran atas Desa Adat Batur dan tetap dibuatkan penyawangan di sebelah utara Pura Jati, di sekitar madyaning Gunung Batur, berbentuk mertiwi menghadap ke arah gunung.

Ada salah satu Pura yang disebut masyarakat setempat sebagai Pura Genya ( Pura Pengenyahan yaitu tempat para Betara Betari memasar) Menurut penduduk Desa Adat Batur, Pura tersebut disebut Pasar Agung Pura Ulun Danu Batur. Dari lokasi yang semula agak dibawah, Pura Manggalaning Desa Adat Batur pun memindahkan Pura Pasar Agung Ulun Danu Batur ke tempat yang lebih tinggi di kawasan lembah Gunung Batur.

Pembangunan di Pura Pasar Agung yang merupakan pura pesanakan Pura Ulun Danu Batur, tampak menyesuaikan dengan struktur bangunan pura di lokasi semula. Pengemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Batur Duuran mengungkapkan, tahapan pembangunan Pura Pasar Agung di Madyaning Gunung Batur sudah dimulai sejak tahun 2014 lalu.

Upacara Melaspas Pura Pasar Agung di Lereng Gunung Batur Kintamani

Pembangunan dilakukan secara bertahap menggunakan biaya yang bersumber dari donator. Diantaranya bantuan dari Gubernur Bali, Bupati Badung, Pemkab Bangli, pengusaha, serta swadaya masyarakat. “Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua donatur yang telah membantu pembangunan Pura Pasar Agung,” ujar Jero Gede Batur Duwuran di sela-sela upacara pemelaspasan.

Pura Pasar Agung yang dibangun di areal seluas kurang lebih 1 hektar tersebut, memiliki sejumlah bangunan palinggih diantaranya padma, meru, gedong rong kalih, palinggih pertiwi dan ngerurah. Pura yang merupakan bagian dari Pura Ulun Danu Batur ini juga dilengkapi kori agung. “Dulu sebelum dibangun kembali, berbentuk mertiwi. Sekarang sudah jangkep (lengkap), ada bale gong, bale kulkul, melanting, sudah lengkap,” tuturnya.

Jero Gede Batur Duwuran, menjelaskan selama ini Pura Pasar Agung diyakini krama Batur sebagai pasar niskala. Diharapkan seluruh umat Hindu nantinya dapat tangkil ke Pura Pasar Agung untuk ngaturang bakti. Apalagi mereka yang berkecimpung dalam bidang perekonomi seperti pedagang, pengusaha dan lainnya. “Bagi yang punya usaha, sangat baik tangkil ke Pura Pasar Agung untuk nunas merta, agar usahanya berjalan lancar dan laris,” imbuhnya.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *