Disperindag Bali Dorong Sertifikasi Profesi Bagi Tukang Ukir Kayu

Disperindag Bali Dorong Sertifikasi Profesi Bagi Tukang Ukir Kayu

Buletin Dewata, Denpasar.

Sebagian masyarakat Bali yang memiliki jiwa seni menekuni profesi sebagai perajin kayu ukir. Dimana produk tersebut merupakan salah satu hasil ekonomi kreatif yang di ekspor ke mancanegara. Meski Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali tidak memiliki data pasti berapa jumlah perajin kayu ukir, namun pemerintah tetap mendorong untuk sertifikasi profesi bagi para pelaku kayu ukir tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, I Putu Astawa kepada awak media saat sertifikasi profesi perajin kayu ukir di Denpasar, Kamis (9/5) mengatakan, tanpa mengatongi sertikasi profesi kayu ukir, para perajin akan sulit untuk memperluas pasar. Mengingat saat ini persaingan global semakin menuntut para pelaku kayu ukir yang menghasilkan produk berdasarkan budaya Bali tersebut untuk meningkatkan daya saing. Selain kayu yang digunakan harus memenuhi Sistem Verikasi Legalitas Kayu (SVLK), para perajin juga harus memiliki sertifikasi profesi.

Hal ini kata dia menjadi perhatian pemerintah daerah, sebab di Bali tidak menghasilkan sumber daya alam seperti di daerah lainnya. Perekonomian di pulau ini tumbuh karena mengandalkan pariwisata yang didukung oleh ekonomi kreatif. Sehingga para pelaku ekonomi kreatif khususnya perajin kayu ukir yang masih dihadapkan pada permasalahan daya daing yang rendah karena belum optimal memanfaatkan teknologi dalam promosi ini kedepannya setelah mengantongi sertifikasi profesi dapat meningkatkan daya saing produk di tingkat nasional dan internasional.

“Sebenarnya hasil kayu ukir ini bisa dijual mahal. Jika si perajin menambahkan story telling hasil karyanya kepada wisatawan. Misalnya hasil kerajinan kayu ukir Patung Budha yang awalnya dijual Rp 5 juta apabila dijelaskan story telling-nya dari awal proses pembuatan melalui meditas dan bahannya dari hutan. Maka story telling ini akan memberi nilai tambah bisa jadi nantinya laku Rp 50 juta,” jelasnya.

Menurutnya, story telling pada kerajinan kayu ukir tersebut cukup penting untuk menambah nilai jual produk. Disamping itu perajin harus pandai melakukan riset pasar guna mengetahui selera pasar agar tidak mubasir memproduksi barang. “Kalau kita di Bali sekarang ini secara keseluruhan jumlah industrinya 15.100 an terdiri dari industri makanan, minuman, kerajinan kayu, kerajinan perak dan sebagainya. Kemudian yang unggulan di Bali adalah perak, kayu, fashion yang banyak. Tapi untuk kayu berapa jumlahnya kami tidak ada data itu,” ucap Astawa.

Pihaknya pun mendorong pelaku kayu ukir menuju dunia digital melalui pembinaan-pembinaan. “Sertikasi profesi ini merupakan pembinaan kepada perajin untuk ke arah itu. Isu dunia sekarang juga mengenai keberlanjutan dan produk kayu ini harus ada SLVK. Maka kami membuat kelompok-kelompok agar perajin memperoleh sertifikasi dan juga ada pembinaan pemasaran, inovasi kerajinan selalu kita fasilitasi dan peralatan-peralatan,” bebernya.

Saat ini sebanyak 100 perajin kriya kayu ukir dari seluruh Bali diberikan fasilitas sertifikasi profesi pada 9-10 Mei. Ke depannya sertifikasi tersebut akan dilakukan bertahap. Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi Bekraf, Ari Gema Juliano mengatakan sertifikasi profesi ini adalah dalam rangka menguji 3 hal yang harus dikuasai oleh seorang profesional dalam bidang apapun yaitu kemampuan dasar, kemampuan teknis dan etitude (perilaku). Sehingga ketika melakukan pekerjaannya hasil produknya sudah terjamin karena telah dilakukan dengan 3 unsur tersebut.

“Itulah yang kita harapkan ketika nanti, misalnya dari pihak pembeli mengharuskan ada produk-produk yang  mulai dari SVLK dan perajinnnya berkompeten yang mengekspor ke suatu negara. Dari situlah kemudian mungkin akan muncul nantinya ada nilai tambah. Kalau di negara maju yang namanya sertifikasi kompetensi itu sangat dilihat dan dinilai positif dan dihargai dengan nilai tambah dibandingkan dengan yang bekerja dengan hobi dan tidak memiliki kompetensi yang diakui oleh negara,” katanya.(bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *