Listibiya Gelar Seminar Maknai Seni, Budaya, Desain dan Arsitektur Berbasis Kearifan Lokal Bali

0
Listibiya Gelar Seminar Maknai Seni, Budaya, Desain dan Arsitektur Berbasis Kearifan Lokal Bali
Foto : Ketua Listibiya Provisi Bali, Dr. I Nyoman Astita, MA.

Buletin Dewata, Denpasar.

Mengangkat tema memaknai kembali seni, budaya, desain dan arsitektur yang berbasis kearifan lokal dalam pembangunan berkelanjutan, Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibiya) Provinsi Bali menggelar Seminar Seni, Desain dan Arsitektur (SENASDAR) 2018. Seminar yang menghadirkan para keynote speaker dari kalangan budayawan dan akademisi digelar sehari di Swiss-bel Ressort Watu Jimbar, Sanur – Denpasar, Senin (26/11).

Dimoderatori langsung Ketua Listibiya Provisi Bali, Dr I Nyoman Astita MA, SENASDAR 2018 terbagi menjadi dua sesi diskusi. Sesi pertama menghadirkan dua orang Keynote speaker yaitu budayawan dan dosen Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Ardika, MA, yang memaparkan tentang kearifan lokal sebagai representasi budaya post, dan Dr. Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, ST., MA, selaku arsitek dan dosen UNUD yang membahas topik peranan arsitek dalam menjaga kearifan lokal di era disrupsi menuju pembangunan berkelanjutan. Dilanjutkan dengan sesi kedua, menampilkan Budayawan Listibya Provinsi Bali, Drs I Wayan Griya yang mengangkat topik obyek khas dan genius dalam pemajuan kebudayaan, road map menuju warisan budaya dunia UNESCO dan Ketua Sekolah Tinggi Desain Bali, Made Arini Hanindharputri D.Sn M.Sn dengan makalah berjudul peranan sosial media dalam promosi desa wisata berkelanjutan.

Ketua listibiya provinsi Bali, Dr. I Nyoman Astita, MA menyampaikan di dalam program kegiatan Listibiya tahun 2018 sudah dijadwalkan beberapa kegiatan pemibinaan antara lain pembinaan seni sakral, theater, seni sastra dan seminar arsitektur. Kegiatan seminar seni, desain dan arsitektur (SENASDAR) ini bertujuan untuk memberikan kontribusi pemikiran dan memaknai kembali kearifan lokal dalam desain, seni, dan budaya yang dapat mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Kami melihat bahwa perkembangan zaman di dunia arsitektur juga mengalami berbagai pergeseran nilai. Dalam hal ini pergeseran itu juga selain berdampak positif juga membawa dampak negatif. Jadi mari kita melihat bahwa arsitektur itu merupakan salah satu dari intentitas keBalian kita, jadi bentuk dalam arsitrktur Bali itu memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri yang mesti dijaga dengan baik dan sejauh mana perubahan itu kita toleransi dan ini yang perlu dibicarakan, dicermati dan dibahas untuk bisa dijadikan semacam pegangan supaya kita tidak kebablasan meninggalkan nilai-nilai yang sudah adi luhung yang kita miliki di dalam dunia arsitektur itu sendiri,” ujar Astita.

Lebih lanjut, Astita menyampaikan hasil diskusi dari seminar akan dijadikan rekomendasi dalam penentuan kebijakan pemerintah menyikapi pergeseran nilai arsitektur akibat perubahan zanan. “Kami harapkan juga ada masukan-masukan yang lebih kongkrit lagi sehingga nanti apa yang dirumuskan dari hasil seminar ini bisa kami jadikan suatu rumusan yang disampaikan kepada pemerintah kepada bapak Gubernur untuk nanti bisa menentukan kebijakan – kebijakan apa yang beliau akan terapkan dengan terjadinya perubahan seperti ini,” imbuhnya.

SENASDAR 2018 menghasilkan pokok – pokok pikiran yang akan menjadi rekomendasi ke Pemerintah Daerah Bali. Perumusan pokok pikiran yang disampaikan tim perumus tersebut meliputi Kearifan lokal dalam arsitektur, seni, dan design Bali sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan yang dibingkai dalam kemasan multikulturalisme berbasis Tri Hita Karana. Kesadaran masyarakat terhadap kearifan lokal dalam arsitektur, seni, dan design Bali perlu ditingkatkan dalam menghadapi era disrupsi agar lebih berinovasi dalam pelestarian budaya melalui human digital skills.

Hasil diskusi juga dirumuskan perlu adanya konsep keseimbangan kebutuhan dan penghargaan terhadap arsitektur, seni, dan design Bali, baik dari praktisi, akademisi maupun asosiasi, agar nilai kearifan lokal tidak dianggap primitif tetapi dijaga kelestariannya dalam adaptasi pada era disrupsi. Atas dasar pertimbangan kekhasan, kegeniusan, dan kandungan nilai lokal, nasional, internasional maka arsitektur Bali layak diusulkan sebagai Warisan Budaya Dunia melalui Dinas Kebudayaan Bali dan Listibya.(blt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here