Upacara Wana Kertih di Pura Telaga Mas Jelang Panca Bali Krama di Lempuyang

0
Upacara Wana Kertih di Pura Telaga Mas Jelang Panca Bali Krama di Lempuyang
Foto : Upacara Wana Kertih diisi dengan ritual melepas binatang berupa burung sebagai makna menyeimbangkan alam dengan isinya.

Buletin Dewata, Karangasem.

Sebagai upaya melestarikan lingkungan khususnya menjaga keseimbangan hubungan antara alam dan umat manusia, bertepatan dengan Buda Pon Watugunung, tanggal 10 Oktober dilaksanakan upacara Wana Kertih di Pura Telaga Mas Lempuyang Luhur Karangasem. Upacara ini merupakan bagian dari rangkaian Karya Agung Panca Bali Krama di Pura Sad Kahyangan Lempuyang Luhur pada 20 Januari 2019. Upacara Wana Kertih juga merupakan implementasi dari konsep Sad Sad Kertih yang merupakan ajaran Hindu di Bali.

Pura Telaga Mas adalah terketak di Desa Adat Purwayu, Desa Tribuana, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Pura ini paling awal dijumpai ketika hendak menuju Puncak Lempuyang. Pura ini merupakan pura Beji atau Pura Petirtan dari Ida Betara di Lempuyang Luhur. Berdasarkan sejarahnya pura ini pada awalnya merupakan sebuah pancuran dari rembesan air Gunung Lempuyang yang tak pernah kering dan membentuk sebuah telaga dilengkapi dengan tunjung/ teratai dan ikan.

Di tempat ini terdapat pelinggih yakni padma capah sebagai linggih dari Ida Betara Gangga. Di sampingnya dilengkapi dengan sebuah bale piyasan atau bale tajuk sebagai tempat berstana Ida Betara ketika Ida Betara mehias dan mesuci. Selain sebagai petirtan dari Ida Betara Lempuyang Luhur, pura ini juga sebagai tempat penglukatan atau penyucian bagi pemedek yang akan bersembahyang di Pura Lempuyang Luhur.

Upacara Wana Kertih di Pura Telaga Mas dimulai terlebih dahulu dengan persembahan Tarian Baris Gede, Rejang Dewa dan Topeng. Upacara dengan mebgambil tingkatan utama ini di pimpi oleh tiga Pendeta Siwa Budha. Bendesa Ada Purwayu, I Nyoman Jati yang sekaligus sebagai pengempon Pura Sad Khayangan Lempuyang Luhur mengatakan, Upacara Wana Kertih merupakan bagian dari Sad Kertih, yang bermakna untuk memohon terwujudnya kelestarian lingkungan dan harmonisasi alam.”Tawur yang dilaksanakan hari ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan harmonisasi alam kita seutuhnya. Bahwa kita sebagai umat Hindu yang menghargai semua ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan Tawur ini adalah suatu bentuk koran suci yang kita laksanakan utamanya di hari ini pada saat upacara Wana Kertih,” jelasnya.

Seusai melaksanakan persembahyangan bersama, upacara Wana Kertih ini dilanjutkan dengan melepas binatang “Ngelebang Beburon” ke hutan sebagai makna menyeimbangkan alam dengan isinya ditandai melepas hewan-hewan seperti menjangan, kera, ular, trenggiling, burung , serangga dan lainnya. Sementara untuk penghijauan dilakukan penanaman tanaman langka seperti pohon majegau, kuantitan, manggis, jeruk, merica, panili dan base.(blt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here