Buletindewata.com, Badung.

Tradisi Upacara Nelubulanin atau Nyambutin Bayi Berusia Tiga Bulan di Bali

Bali yang disebut dengan pulau seribu pura tak luput dengan tradisi dan kegiatan spiritual keagamaan yang tak akan pernah habis untuk dibahas. Salah satu ritual dan upacara keagamaan yang sampai saat ini masih dilakukan masyarakat Hindu Bali yakni upacara Tiga Bulanan, atau Nelubulanin atau yang biasa disebut dengan Nyambutin.

Upacara Nelubulanin atau upacara Tiga Bulanan dilakukan masyarakat Hindu di Bali untuk merayakan hari kelahiran seorang bayi yang baru berumur 105 hari atau tiga bulan, hal tersebut dihitung sesuai dengan kalender Bali, yakni 105 hari (1 bulan kalender Bali = 35) hari. Sebuah usia bagi si jabang bayi yang setiap bagian dari panca indranya sudah mulai aktif, termasuk dengan pencernaannya.

Upacara ini dirayakan pasutri Putu Bagus Indra Saputra dengan istrinnya Putu Eka Pebri yang merayakan hari kelahiran bayi mereka Putu Pande Bagus Shrivatsa Saputra, di kediamannya di Desa Adat Pande Munggu, Mengwi Badung, Sabtu, (2/6).

Tradisi Upacara Nelubulanin atau Nyambutin Bayi Berusia Tiga Bulan di Bali
Foto : Keluarga Gede Ricky Sukarta saat melaksanakan upacara Nelubulanin, di kediamannya di Desa Canggu, Sabtu (2/6).

Gede Ricky Sukarta selaku ayah dari Putu Bagus Indra Saputra mengatakan upacara Nelubulanin dan Mepetik yang dilaksanakan ini merupakan upacara sebagai ucapan syukur atas karunia Tuhan memberikan seorang anak di keluarga mereka.

Sebagai umat Hindu Bali menurutnya sudah sepatutnya menjalankan upacara ini untuk menyambut kedatangan seorang jabang bayi. Hal ini juga menjadi waktu untuk memberikan nama kepada sang bayi.

“Kami sangat bersyukur atas upacara Nelubulanin ini, kami berharap cucu kami akan menjadi manusia yang menjunjung tinggi nilai kebajikan,” terang Gede Ricky Sukarta.

Disinggung mengenai rentetan upacara Nyambutin tersebut, Gede Ricky Sukarta menyampaikan, untuk pertama dilakukan matur piuning di tempat suci (sanggah merajan). Kemudian dilanjutkan dengan upacara di Pertiwi atau tanah dan juga di Catur Sanak atau tempat saudara (ari-ari) si jabang bayi dikubur. Upacara ini menggunakan sarana banten seperti pabayakawon prayascita pengulapan, banten penebusan lengkap dengan itik dan ayam.

Tradisi Upacara Nelubulanin atau Nyambutin Bayi Berusia Tiga Bulan di Bali

Upacara Nelubulanin dipimpin seorang Pemangku atau Pinandita. Upacara ini dilakukan beberapa tahapan prosesi, salah satunya dengan memandikan bayi dan memasang Gelang Selaka. Usai dimandikan dan mengganti pakaian bayi dengan pakaian baru maka dilakukan persembahyangan yang ditujukan kepada Dewa Surya sebagai manefestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan.

Ritual upacara dilanjutkan ke prosesi Mepetik yang dilakukan oleh Sulinggih. Pada tahapan upacara Napak Pertiwi ( bayi turun ke tanah), diawali dengan mengurung bayi dengan sangkar ayam (guwungan) sebagai lambang bayi masih ada dalam kandungan ibunya. Setelah guwungan dibuka bayi barulah dianggap lahir dalam kesucian untuk menghadap Ida Betara Guru dan selanjutnya orang tua bayi memberitahukan secara niskala dan sekala nama lengkap bayi. Bahwa mulai saat tersebut bayi mereka telah menjadi anggota keluarga dan siap untuk berbakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kepada leluhur, keluarga besar dan masyarakat serta nusa dan bangsa.

Seusai Nelubulanin, pada umur enam bulan dilakukan upacara Otonan (ulang tahun). Otonan adalah hari kelahiran bagi umat Hindu yang diperingati setiap 210 hari sekali berdasarkan perhitungan secara Bali, menurut Sapta Wara, Panca Wara dan Wuku yang berbeda dengan pengertian hari ulang tahun pada umumnya yang berdasarkan perhitungan kalender atau tahun Masehi.(rky)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here