KUTA BUKTIKAN MASIH AMAN DIKUNJUNGI LEWAT PROSESI RITUAL “MANGLUK MERANA”

KUTA BUKTIKAN MASIH AMAN DIKUNJUNGI LEWAT PROSESI RITUAL NANGLUK MERANA

Buletindewata.com, Badung.

Desa Adat Kuta kembali menggelar ritual rutinnya yang disebut dengan istilah upacara Nangluk Merana Pamlehpeh Sasih pada Senin (11/12). Bendesa Adat Kuta Wayan Swarsa mengatakan, gelaran upacara itu sekaligus menjadi media untuk berdoa, agar Bali pada umumnya, tetap aman dan tenang dari gejolak aktivitas erupsi Gunung Agung.

“Kami rasa, pelaksanaan upacara ini juga mampu memperkuat kondisi pariwisata Bali. Apalagi dengan keadaan Bali seperti saat ini. Ini bisa juga disebut sebagai media bakti kami, untuk setidaknya berdoa agar Bali tetap aman dan tenang dari gejolak vulkanologi dan sebagainya,” jelas Swarsa ditemui di sela prosesi upacara.

Selain itu, kata Swarsa, pelaksanaan ritual tersebut juga sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat adat di Kuta tetaplah beraktivitas seperti biasa. Karenanya menurut dia, pemerintah harusnya bisa menggunakan momen tersebut sebagai ajang promosi kepada dunia. Yang menegaskan bahwa, walaupun ada aktivitas Gunung Agung, masyarakat tetaplah menjalankan aktivitas ritualnya. “Ini kan menunjukkan bahwa Bali ini aman. Harusnya pemerintah peka terhadap itu,” dorongnya.

Lebih lanjut dikatakan dia, total terdapat tujuh Ratu Pelawatan yang diupacarai dalam rangkaian ritual tersebut. Salah satu prosesinya, dilakukan di setiap perempatan dan pertigaan yang ada di wilayah Desa Adat Kuta.

“Sesuai pemaknaan kami, keberadaan dari Ida Sesungsungan adalah semacam media pengharmonis Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Ida Ratu Pelawatan yang berupa Ratu Gede dan Ratu Ayu, adalah simbolis daripada dua hal berbeda tapi satu kesatuan. Perbedaan itulah yang lalu kita harmoniskan. Lalu kenapa beliau diiring ke perempatan dan pertigaan? Karena kami yakin, perempatan dan pertigaan adalah persimpangan energi. Yang kemudian kami harmoniskan melalui ritual tersebut,” jelasnya.

Hampir seluruh warga adat dari 13 Banjar yang ada dalam lingkup Desa Adat Kuta, ikut terlibat dalam gelaran ritual tersebut. Sementara untuk pemuputnya, dilakukan oleh Ida Peranda dari Gria Telabah Kuta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *