Dispar Denpasar Gelar Workshop “Story Telling” Destinasi Wisata di Kota Denpasar

Dispar Denpasar Gelar Workshop "Story Telling" Destinasi Wisata di Kota Denpasar

Buletin Dewata, Denpasar.

Mendapatkan ide, kreatif, gagasan dan perspektif yang berbeda dari kalangan pelajar, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Denpasar menggelar workshop story telling tentang destinasi wisata di Kota Denpasar. Kegiatan berlangsung, Rabu (13/11) sampai Kamis (14/11) di Kawasan Heritage jalan Gajah Mada dan Inna Bali Hotel Denpasar.

“Tujuannya kami ingin mendapatkan ide, kreatif, gagasan dan perspektif yang berbeda dari SMA/SMK dan mahasiswa yang ikut terlibat dalam workshop story telling ini. Mengingat workshop story telling adalah suatu penyampaian cerita, promosi brand untuk sebuah kawasan, sebuah barang atau benda yang nantinya bisa menggugah masyarakat dengan Gaya bahasa yang mereka miliki,” ujar Kabid Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Denpasar, I Wayan Hendaryana.

Ditambahkan, Dispar Kota Denpasar menggelar workshop story telling bekerjasama dengan para narasumber meliputi praktisi, akademisi dan media. Selama 2 hari mengikuti workshop peserta diberikan pemaparan terkait konsep story telling, cara penyajian serta praktik. Diharapkan, hasil workshop story telling dapat dituangkan dalam bentuk narasi dan visual yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

“Kami tidak terpaku pada konsep saja, tapi kami melakukan praktek langsung di lapangan. Bagaimana menemui orang-orang yang tahu kawasan Heritage Gajah Mada itu. Jadi dari sana mereka menggali secara langsung dan menuangkannya dalam perspektif dan ide gagasan secara bahasa mereka sendiri,” imbuh Hendaryana.

Salah satu praktisi, Marlo Bandem, menyatakan workshop story telling ini berkaitan Kawasan Heritage Gajah Mada, dapat mendorong untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik, serta investor di Kawasan Heritage Kota Denpasar.

“Memang perlu ada upaya atau menghasilkan cerita-cerita kekinian yang bersubber dari apa yang kita miliki terdahulu. Kami ingin menghadirkan wacana atau hal baru tentang pengisahan, baik itu lisan maupun tertulis yang dinamakan story nomic. Jadi bagaimana kita berhasil menggarap sebuah kisah nilai-nilai seni dan budaya yang dapat diminati pangsa pasar yang luas,” tuturnya.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *