Medi HOW Jadi Pendidikan Karakter Calon Mahasiswa Mediterranean Bali sebelum Kuliah

MEDI HOW Jadi Pendidikan Karakter Calon Mahasiswa Mediterranean Bali sebelum Kuliah
Foto : Pembukaan kegiatan MEDI HOW (Hospitality Orietation Week) Kampus Mediterranean Bali di Denpasar, Senin (8/7).

Buletin Dewata, Denpasar.

Mengawali pendidikan mahasiswa baru, Mediterranean Bali Hospitality and Entrepreneur College, Kampus Denpasar menggelar kegiatan Hospitality Orientation Week atau Medi HOW 2019. Diikuti ratusan peserta, dari 4 kampus cabang Mediterranean Bali, Medi HOW bertujuan membentuk mental dan karakter serta pemahaman hospitality mahasiswa menjadi lebih baik.

Medi HOW yang berlangsung dari 8 hingga 13 juli 2019 dibuka Kepala Dinas Tenaga Kerja dan sertifikasi Kompetensi Kota Denpasar IGA Anom Suradi. Ia mengatakan dari tahun ke tahun animo masyarakat dinilai sangat tinggi untuk masuk ke dunia pelatihan terutama ke mediterranean Bali. Pihakanya pun sangat mendukung Lembaga Pelatihan Kerja yang ada di Denpasar dalam mencetak generasi yang terampil.

“Sejatinya ini hal yang positif, lebih awal mereka masuk ke dunia kerja. Karena disini lebih ditekankan skill (keterampilan). Oleh karena itu saya sangat mendukung LPK yang ada di Denpasar, khususnya juga Mediterannean Bali dalam mencetak para generasi yang terampil, jadi mereka lebih awal memiliki bekal keterampilan karena sejatinya inilah kelemahan tenaga kerja kita diluar negeri yang sering miskin dengan keterampilan,” ujarnya.

Sementara, Chairman of Medi Group, Anak Agung Gede Abdiarta mengatakan kegiatan Medi HOW bertujuan untuk memberikan informasi orientasi kepada seluruh mahasiswa tentang persiapan dalam mengikuti perkuliahan. Medi HOW dijelaskan sangat penting karena memberikan penyeragaman kepada mahasiswa yang memiliki latarbelakang yang berbeda dalam mencapai cita cita yang sama yaitu meraih kesuksesan diusia muda melalui Mediterannean Bali.

“Dalam masa orientation week ini yang selama 1 minggu penuh, anak – anak akan kita berikan segala sesuatu yang mereka perlu ketahui terutamanya adalah informasi tentang bagaimana pembelajaran itu berlangsung bersama mental mereka dan hal – hal yang berhubungan dengan skil yang diperlukan, termasuk juga hal hal yang berhubungan dengan mereka menyesuaikan diri karena banyak mahasiswa kita yang dari luar Bali juga mahasiswa yang berlatarbelakang berbeda, ada yang dari kota, maupun dari desai. Nah pada saat Medi HOW inilah kita berikan mereka penyeragaman tentang bagaimana akhirnya mereka akan menjadi satu keluarga besar di Mediterannean Bali yang ingin mencapai cita cita yang sama yaitu meraih kesuksesan diusia muda. Dengan penyeragaman maka mereka tidak ada rasa perbedaan sehingga mereka menjadi sama sebelum perkulihaan itu dimulai,” paparnya.

Medi HOW yang dilaksanakan secara serentak di 4 kampus Mediterranean Bali, terbagi menjadi beberapa sesi kegiatan, baik pagi maupun sore hari, Medi HOW diikuti sebanyak 508 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa sertifikat IV dan sertifikat III. Mahasiswa sertifikat IV meliputi jurusan FB Service sebanyak 28 orang, Food Production sebanyak 28 orang dan Hotel Acomodation sebanyak 26 orang. Sedangkan mahasiswa sertifikat III terdiri dari jurusan FB Service sebanyak 140 orang, Food Production sebanyak 143 orang, House Keeping sebanyak 115 orang serta Bartending sebanyak 28 orang.

Menggandeng komunitas Malu Dong buang sampah, pada sesi akhir pelaksanaan Medi HOW, mahasiswa baru diajak melaksankan bersih – bersih sampah serta memungut puntung rokok yang ada di pantai Merta Sari Sanur. Pendiri Malu Dong Komang Sudiarta atau yang kerab disapa Komang Bemo sangat mengapresiasi aksi yang dilakukan mahasiswa baru Mediterannean Bali. Menurutnya kedisplinan malu membuang sampah sembarangan sangat penting ditanamkan kepada mahasiswa baru calon pekerja pariwisata.

“Saya sangat senag sekali dengan turunnya mahasiswa yang mulai peduli terhadap persoalan sampah. Edukasi terhadapan persoalan sampah hendaknya senantiasa dupupuk kepada mahasiswa sehingga lebih peduli terhadap lingkungan. Membuang sampah ditempatnya adalah salah satu bentuk kedisipilanan, karena tanpa kedisplinan akan sulit bisa bersaing di dunia kerja utamanya di sektor pariwisata,” tegasnya.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *