Seminar Peluang dan Tantangan Seni Pertunjukan Nusantara di Era Revolusi Industri 4.0

Peluang dan Tantangan Seni Pertunjukan Nusantara di Era Revolusi Industri 4.0

Buletin Dewata, Denpasar.

Ketika semua hal dapat diotomatisasi dengan sisten digital maka kreativitas seni tidaklah dapat diotomatisasi. Oleh karena itu menjadi peluang besar bagi para seniman kreatif untuk berkarya.Hal tersebut terungkap pada seminar nasional yang digelar Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) di Gedung Citta Kelangen Institut Seni Indonesia ISI) Denpasar, Selasa (23/4).

Mengangkat tema “Seni Pertunjukan Nusantara Peluang dan Tantangan Memasuki Era Revolusi Industru 4.0”, dimaksudkan agar kreativitas dan inovasi dapat dijadikan modal utama dalam Revolusi Industri ke-empat ini. Ketika semua hal dapat diotomatisasi dengan sistem digital maka kreativitas seni tidaklah dapat digantikan dan diotomatisasi oleh mesin. Oleh karena itu menjadi peluang besar bagi para seniman kreatif untuk berkarya.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar Dr. I Komang Sudirga, S.Sn.dalam sambutannya menyampaikan ekspresi seni dan olah rasa tidak akan mampu digantikani oleh kecanggihan mesin apapun, sehingga kecerdasan emosional tetap tak akan tergantikan di era manapun. Namun ketika kreativitas seni mengutamakan olah rasa, tentu penggunaan teknologi dapat membantu menciptakan-karya-karya seni monumental, kreatif inovatif, serta memberikan tawaran baru sesuai perkembangan selera estetis masyarakat yang terus berubah. Dalam kaitan inilah perlu disharingkan tentang seberapa penting peran teknologi membantu aktivitas berkesenian.

“Bahwa dengan beragam karya seni yang dimiliki, kita optimis bahwa seberapa pun canggihnya teknologi tidak akan bisa menggantikan olah rasa dalam berkesenian. Oleh karena itu yang perlu kami upayakan dalam konteks ini adalah mendorong seniman – seniman, baik koreografer, komposer maupun seniman kreatif lainnya agar meningkatkan inovasi – inovasi, karena itu adalah modal untuk menghadapi RI 4.0 ini,” paparnya.

seminar Peluang dan Tantangan Seni Pertunjukan Nusantara di Era Revolusi Industri 4.0

Sebagai perguruan tinggi unggul, ISI Denpasar mau tidak mau harus siap menghadapi Revolusi Industri 4.0, termasuk bersaing dengan perguruan tinggi asing sekali pun. Untuk membahas berbagai tantangan seni pertunjukan di era RI 4.0, maka seminar nasional sebagai ruang forum ilmiah diharapkan mampu menjadi wadah untuk memecahkan berbagai persoalan krusial serta mewacanakan isu – isu aktual yang berkembang.

“Melalui wacana seni dan sharing informasi dari para nara sumber yang telah berpengalaman kami optimis dapat mendorong upaya pengembangan seni pertunjukan melalui pemanfaatan teknologi digital dalam berinovasi, membangun komunikasi estetis, dan berkolaborasi untuk menciptakan karya seni pertunjukan yang unggul. Pengalaman – pengalaman narasumber kami harapkan dapat ditularkan kepada generasi muda kami ini, untuk bisa memotivasi supaya mereka mampu memberikan gagasan dalam konteks seni pertunjukan di nusantara ini,” ujar Sudirga.

Sementara itu, Wakil Rektor (Warek) I Bidang Akademik , Kemahasiswaan dan Alumni ISI Denpasar Prof. Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes ditemui usai membuka kegiatan seminar mengatakan, terkait dengan RI 4.0 ini pihaknya tengah mempersiapkan big data tentang dunia seni. Dengan pemanfaatan teknologi untuk mengumpulkan data akan memberikan peluang berdiskusi dengan bahasa seni menjadi semakin mudah. Data – data seni yang sebelumnya hanya tersimpan di perpustakaan kini sudah bisa diunggah untuk dipelajari dengan lebih mudah.

“Saya harapkan seminar ini benar – benar mendiskusikan seni itu di seni bukan disekitar seni. Pertama bahwa seminar ini mampu memilih bahasa keilmuan seni yang sejatinya dipergunakan diseni bukan diluar itu dan kedua kita sedang mempersiapkan big data untuk semua itu,” pungkasnya.

Diikuti para Pimpinan Prodi dan dosen di lingkungan FSP ISI Denpasar serta undangan peserta dari PTN dan PTS di Bali dan luar Bali, seminar nasional FSP ISI Denpasar menghadirkan 4 pembicara utama yang merupakan para pakar di bidangnya, yaitu: Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum (Rektor ISI Denpasar), Dr. R.A.J Siti N. Kusumastuti (Institut Kesenian Jakarta), Dr. Suhendi Afryanto, S.Kar., MM (Institut Seni Budaya Indonesia) dan Dr. Sugeng Nug oho, S.Kar., M.Sn (Institut Seni Indonesia Surakarta) serta pemakalah lainnya sebagai pendamping.

Melalui seminar diharapkan terbangun wacana-wacana kritis yang mampu memberikan arah perkembangan kemajuan seni pertunjukan yang lebih signifikan, seiring tuntutan selera estetika masyarakat luas, tuntutan inovasi kritis akademis serta tuntutan pasar global.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *