SUKSMA BALI : Dorong Investor Jaga Alam & Lingkungan sebagai Sumber Daya Berkelanjutan

SUKSMA BALI : Dorong Investor Jaga Alam & Lingkungan sebagai Sumber Daya Berkelanjutan

Buletin Dewata, Badung.

Suksma Bali adalah wujud nyata rasa terima kasih kepada alam Bali yang menjadi produk dasar bisnis pariwisata Bali. Masyarakat Bali yang dimotori para pelaku Pariwisata Bali menetapkan setiap tanggal 21 September sebagai hari bersih-bersih bumi (World Clean Up Day) yang dilaksanakan setiap tahun sebagai rangkaian dari gerakan Suksma Bali.

Eksekutif direktur BPPD Badung, Mangku Made Sulasa Jaya menilai bahwa pelaksanaan WCUD bisa dikatakan sebagai bagian dari ekspresi kasih sayang yang dilaksanakan di Bali, bukan saja sebagai festival semata namun sekaligus sebagai upacara yang disebut Tumpek Krulut.

“Para leluhur menasehati kita bahwa “manusia adalah bagian dari alam dan lingkungannya, dan oleh karena umur alam lebih tua maka alam adalah orang tua kita, bilamana hal ini disadari maka sesungguhnya kita tidak butuh aturan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan karena sampai saat ini kita tetap hormat kepada orang tua. Di Bali kesadaran ini dilaksanakan pada saat Tumpek Krulut pada khususnya sebagai wujud kasih sayang antar manusia, manusia dengan alam lingkungan dan sekaligus keharmonisan hubungan manusia dengan Yang Maha Esa,” tuturnya.

Mangku Sulasa Jaya yang juga pengamat pariwisata dan lingkungan ini menambahkan bahwa sesungguhnya Bali telah memiliki annual work plan yang tertuang dalam sistem wariga dan upacaranya (kalender Bali), bahkan dalam konsep kosmologi sekaligus falsafah hidup masyarakat Hindu Bali yaitu Tri Hita Karana (THK).

“Dalam THK berkaitan dengan keharmonisan hubungan manusia dengan kepercayaannya (Dewa), maka para dewa-lah yang yang paling diyakini untuk mengaudit sejauhmana harmonisasi hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan alam lingkungan sudah dilaksanakan, bilamana tidak dilaksanakan dengan baik, maka masih diyakini akan disalahkan oleh para Dewa (salahang dewa). Alat control yang paling dihormati dan dipatuhi di Bali adalah Salahang Dewa, Tenget, Tulah hidup, dll,” pungkasnya.

SUKSMA BALI : Dorong Investor Jaga Alam & Lingkungan sebagai Sumber Daya Berkelanjutan
Foto : Mangku Sulasa Jaya.

Berkaitan dengan tema yang diangkat dalam kegiatan World Clean Up Day (WCUD) dari Suksma Bali tahun ini yaitu memuliakan air. Mangku Sulasa Jaya memandang tema ini sesungguhnya mengandung makna untuk mengingatkan umat manusia agar lebih memahami, lebih sadar dan melakukan tindakan nyata dalam memuliakan air, baik dalam kehidupan masyarakat dengan alam dan lingkungan ataupun secara sekala-niskala. Ia berharap agar pemahaman dan kesadaran akan pentingnya fungsi air tidak hanya diwacanakan saja, namun ditransformasikannya dalam tindakan yang bisa dilihat dari kebijakan anggaran perusahaan terkait kelangsungan hidup alam, lingkungan dan perusahaan itu sendiri.

“Tanggung jawab perusahaan terhadap kelangsungan hidup alam dan lingkungan di Bali boleh dikatakan masih sangat rendah, seperti misalnya dapat diperkirakan dalam perbandingan pemanfatan air PDAM dengan penggunaan air bawah tanah, masih banyak perusahaan yang lebih memilih menggunakan air bawah tanah dari pada menggunakan air PDAM. Hal ini bisa jadi karena secara ekonomi biayanya lebih murah, namun dampaknya terhadap kelangsungan hidup dan kehidupan perusahaan sangatlah besar,” tandasnya.

Disebutkan, Tim Koordinasi Pemanfaatan Sumber Daya Air Bali Penida (TKPSDA) Bali Penida yang secara berkala membuat neraca air mengatakan bahwa saat ini Bali kekurangan air Baku. Namun anehnya pembangunan kamar hotel terus bertambah, yang membutuhkan air per kamar, per hari minimal 1,2 M3. Sesuai data dari ITDC yang mengelola kamar hotel sebanyak 5.121 kamar di tahun 2018, telah mengkonsumsi air baku 11.563 M3/hari belum termasuk kebutuhan air untuk pertamanan. Kebutuhan air sebanyak itu dipenuhi 40% dari PDAM, dan sisanya dari supplier air baku, pengolahan air laut dan dari air bawah tanah.

“Jangan sampai ada pembangunan yang merusak fungsi sungai, fungsi danau, fungsi air hujan, perubahan iklim dan sebagainya, juga berharap adanya data pasti jumlah kamar hotel dan prediksinya kedepan, perkembangan penduduk dan segala sesuatu yang membutuhkan air, belum lagi menyangkut kerusakan air karena limbah B3 dan penggunaan sumber energy yang tidak ramah lingkungan yang dapat merusak kualitas air,” tutupnya.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *