Kementerian ESDM Upayakan Penyelamatan Air Tanah Dukung Pariwisata Berkelanjutan

Kementerian ESDM Upayakan Penyelamatan Air Tanah Dukung Pariwisata Berkelanjutan

Buletin Dewata, Badung.

Sumber daya air, termasuk diantaranya air tanah digunakan dalam berbagai kegiatan  baik untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga sehari-hari, industri, pertanian, perikanan, jasa, termasuk pariwisata. Pengembangan pariwisata ini diperlukan dukungan air bersih untuk pengelolaan infrastruktur pendukungnya, semisal untuk perhotelan, restoran dan wahana air.

Salah satu provinsi di Indonesia yang maju sektor pariwisatanya adalah Provinsi Bali. Di pulau ini, pariwisata lebih berkembang di bagian selatan, dibandingkan daerah lainnya. Sisi selatan ini merupakan daerah hilir dari sistem hidrologi, baik dari sisi air permukaan (air sungai) maupun dari sisi sistem air tanah, yaitu sebagai daerah lepasan air tanah.

Berdasarkan Permen ESDM No. 2 Tahun 2017 tentang Cekungan Air Tanah di Indonesia, di Bali terdapat delapan buah CAT/Cekungan Air Tanah.  Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Andiani di Badung, Rabu (7/8) menjelaskan, CAT merupakan daerah dimana terjadi proses pengimbuhan air tanah (recharge area), pengaliran air tanah dan pelepasan air tanah (discharge area).

Batas CAT merupakan batas teknis, dan tidak harus berimpit dengan batas daerah administrasi. “Delapan CAT tersebut adalah Denpasar-Tabanan, CAT Singaraja, Amlapura, Negara, Gilimanuk, Nusa Penida, Nusa Dua dan Tejakula. Dilihat dari sisi CAT, daerah di Bali yang paling berkembang kondisi pariwisatanya berada pada CAT Denpasar-Tabanan,” beber Andiani.

Kementerian ESDM Upayakan Penyelamatan Air Tanah Dukung Pariwisata Berkelanjutan
Foto : Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Andiani di Badung, Rabu (7/8)

Dia menyampaikan, untuk mengetahui tingkat kerusakan air tanah pada suatu CAT, dilakukan pemetaan zonasi konservasi air tanah. Badan Geologi, Kementerian ESDM telah melakukan pemetaan konservasi air tanah di CAT Denpasar-Tabanan (2011), dan ditemukan adanya zona rawan. Zona rawan merupakan zona yang menunjukkan terjadinya penurunan muka air tanah 40-60% atau terjadinya intrusi air laut akibat pengambilan air tanah, yang ditandai dengan kenaikan nilai daya hantar listrik sampai dengan 1.000-10.000 mg/liter.

Andiani menambahkan, untuk CAT Denpasar-Tabanan, zona rawan diindikasikan oleh penurunan muka air tanah (belum ada indikasi intrusi air laut), yaitu di daerah Sumerta Kaja (Denpasar), dan Sading (Badung). Pada tahun 2014, survei oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali menunjukkan meluasnya zona rawan air tanah, berupa penurunan muka air tanah meliputi Semarapura, Sumerta Kaja (Denpasar), Sading (Badung), Sudimara dan Tabanan serta terjadinya intrusi air laut di Nusa Dua dan daerah pantai barat sepanjang Pantai Kuta.

“Maka dari itu perlu upaya penyelamatan air tanah dalam mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Dalam hal ini yang perlu didiskusikan dengan pemangku kepentingan mengenai kebutuhan air untuk pariwisata, ketergantungan pada air tanah, dan peran swasta dalam konservasi air tanah,” jelasnya.

Meluasnya zona rawan air tanah di daerah tersebut kata dia, disebabkan oleh semakin meningkatnya pengambilan air tanah dalam jumlah yang tidak seimbang bila dibandingkan dengan jumlah pengimbuhan air tanah. Di sisi lain, suplai air bersih dari PDAM belum dapat mencukupi kebutuhan air bersih baik bagi penduduk, maupun bagi sektor pariwisata. Sehingga bagi sektor pariwisata, terjadi ketergantungan pemenuhan air bersih dari air tanah. “Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap pengelolaan air tanah yang telah dilaksanakan,” imbuhnya.

Pengelolaan air tanah dilakukan berdasarkan konsep one basin one management, yaitu pengelolaan air tanah di setiap CAT dengan mengutamakan batas CAT dan bukan mengutamakan batas administrasi daerah. “Sehingga dalam pengelolaannya, para pemangku kepentingan diharapkan dapat bekerja sama dengan baik agar air tanah tetap terjaga kelestariannya,” harapnya.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *