Tak Sekedar Shopping, Akulturasi Budaya Bali Perlu Diketahui Wisatawan Tiongkok

Tak Sekedar Shopping, Akulturasi Budaya Bali Perlu Diketahui Wisatawan Tiongkok
Foto : Festival Balingkang di Kintamani, Bangli.

Buletin Dewata, Badung.

Potensi wisata yang ada di Bali mampu mendatangkan 1,3 juta turis Tiongkok pada 2018 berwisata ke pulau ini. Kunjungan wisatawan dari Negeri Tirai Bambu tersebut ada yang tertarik untuk melihat secara langsung akulturasi budaya Bali dengan Tiongkok yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam dan masih tetap dilestarikan hingga saat ini.

Namun tidak sedikit wisatawan dari Tiongkok yang memberikan kesan bahwa Bali merupakan destinasi shopping. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan wisatawan Tiongkok saat berwisata di Bali seperti mengunjungi Kintamani Bangli untuk melihat peninggalan budaya Tiongkok yang masih dijaga oleh masyarakat Bali keturunan Tionghoa. Akulturasi budaya Bali dan Tiongkok ini seharusnya diketahui oleh wisatawan ketika berkunjung ke Bali. Demikian disampaikan Ketua dan Pendiri Chinese Tourism Training Center (CTTC) Unud yang juga Dosen Fakultas Pariwisata Unud, I Made Sendra beberapa waktu lalu saat menghadiri pelatihan Bahasa Mandarin kepada Paguyuban di Nusa Dua, Badung.

Dia menjelaskan bahwa di Bali terdapat peninggalan/warisan budaya Tiongkok seperti Pura Dalem Balingkang, uang kepeng, tarian baris China dan warisan kesusastraan Sampek Engtay. Selain budaya, juga terdapat akulturasi kepercayaan Tiongkok dengan Bali yaitu adanya Pelinggih Ratu Gede Syahbandar.

Kata dia, dengan melihat keterkaitan budaya antara Tiongkok dan Bali, maka sesungguhnya hal ini bisa dijadikan atraksi budaya. “Masalahnya ini tidak pernah disampaikan kepada wisatawan Tiongkok, mereka didatangkan untuk berbelanja. Sehingga Bali itu distigmakan sebagai wisata shopping (belanja),” katanya.

Dikatakan Sendra, perlu diketahui bahwa kedatangan turis Tiongkok ke Bali ini juga untuk mengetahui hubungan budaya Bali dengan Tiongkok di masa lalu. Dalam hal ini para guide atau pemandu wisata yang menguasai Bahasa Mandarin mestinya menjelaskan bahwa dua budaya tersebut memiliki kaitan yang erat. “Sebenarnya turis Tiongkok juga ingin tahu akulturasi budaya ini, kalau guide bisa menyampaikan budaya China dan Bali itu memiliki hubungan yang sangat erat,” ujarnya.

Maka dari itu kata dia, pembekalan penguasaan Bahasa Mandarin untuk masyarakat Bali sangat penting karena saat ini guide berbahasa Mandarin sebagian besar dari luar pulau yakni Sumatera, Medan, Palembang, Kepulauan Riau dan lainnya yang keterbatasan pemahaman budaya lokal Bali. “Karena  komunikasi ini yang menjembatani budaya China dengan Bali dan kita sendiri yang bisa bercerita kepada wisatawan. Sehingga kita bisa memberikan pemahaman secara langsung bahwa Bali dan China memiliki budaya. Bahasa menjadi faktor yang sangat penting dalam proses transfer pengetahuan dari guide kepada wisatawan,” jelas Sendra.

Sementara itu Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali, I Nyoman Nuarta menyatakan saat ini terdapat sekitar 1.500 guide yang menangani turis Tiongkok. Namun dari jumlah tersebut sekitar 95% adalah guide dari luar Bali yakni dari sejumlah daerah di Indonesia. Pihaknya menegaskan memberlakukan standar operasional prosedur (SOP) sebelum menjadi pemandu wisata di Bali. Dimana para guide yang menguasai Bahasa Mandarin ini diwajibkan untuk menguasai budaya Bali.

Nuarta memastikan bahwa selama mengikuti jadwal tur, para pemandu turis Tiongkok juga menginformasikan hubungan budaya Bali dengan Tiongkok. “Ketika tur ke Kintamani, guide pasti menjelaskan adanya akulturasi budaya Tiongkok dengan Bali,” tegas Nuarta.

Pihaknya pun tidak menampik bahwa wisatawan Tiongkok kerap diajak ke tempat belanja sehingga memberikan kesan bahwa Bali sebagai wisata shopping. “Karena kita sebagai guide juga mengikuti jadwal tur yang telah ditentukan oleh travel agent. Memang turis Tiongkok itu ke Bali ada yang suka belanja dan berwisata budaya,” terangnya.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *