Kenaikan Tiket Pesawat Pengaruhi Permintaan Angkutan Pariwisata di Bali

0

Kenaikan Tiket Pesawat Pengaruhi Permintaan Angkutan Pariwisata di Bali

Buletin Dewata, Denpasar.

Setelah perusahaan maskapai di Tanah Air menaikkan harga tiket pesawat pada awal tahun 2019, pelaku industri pariwisata Bali dari berbagai jenis usaha merasakan dampak buruk kebijakan tersebut. Salah satunya adalah angkutan pariwisata, seperti diakui Ketua Persatuan Angkutan Pariwisata Bali (Pawiba) Nyoman Sudiartha saat ditemui di Denpasar.

Ia menyatakan bahwa long weekend bertepatan perayaan Paskah kali ini, untuk permintaan angkutan pariwisata tidak setinggi sebelumnya. Trennya, saat momen long weekend biasanya terjadi peningkatan permintaan armada pariwisata hingga 30 sampai 40 persen. Namun karena tarif tiket pesawat yang melonjak drastis sejak awal tahun 2019 ini membuat permintaan angkutan pariwisata saat long weekend tidak begitu signifikan. “Kalau long weekend kali ini naiknya tidak lebih dari 20 persen. Biasanya bisa mencapai 40 persen,” terangnya Sudiartha.

Menurutnya, dikarenakan sebagian besar wisatawan domestik dari Pulau Jawa dan sekitarnya yang berlibur ke Bali membawa kendaraan pribadi. Hal ini dianggap lebih murah ketimbang menggunakan pesawat karena harganya terlalu mahal. “Kalau long weekend ini kebanyakan wisatawan domestik datang ke Bali menggunakan bus dan kendaraan pribadi. Dari Jawa Timur dan Jawa Tengah sekarang kebanyakan datangnya dengan bus begitu juga yang dari Jakarta dan Jawa Barat,” bebernya.

Dikatakan Sudiartha, wisatawan domestik tersebut memilih datang ke Bali dengan menggunakan transportasi darat karena diyakini akan menghabiskan biaya yang lebih murah. Beda halnya dengan tahun-tahun sebelumnya saat harga tiket pesawat masih normal, sedikit yang memilih menaiki transportasi darat. “Karena waktu itu tiket pesawat masih murah. Dengan kenaikan harga tiket pesawat ini lumayan berdampak pada angkutan pariwisata khususnya,” terang Sudiartha.

Disampaikannya, untuk kondisi saat ini dalam sehari okupansi angkutan pariwisata tidak lebih dari 50 persen. “Okupansi ini maksudnya mobil-mobil dimasing-masing perusahaan yang keluar/disewa. Misalnya perusahaan yang memiliki 10 mobil angkutan pariwisata, yang keluar sekarang ada yang hanya 5 unit. Bahkan ada perusahaan yang okupansinya 30 sampai 40 persen,” bebernya.

Sebelum kenaikan tiket pesawat, kata Sudiartha okupansi tiap perusahaan bisa mencapai 70-80 persen dalam sehari. Kecuali bertepatan momen hari besar seperti Imlek, okupansi pun meningkat. “Sekarang ini yang keluar cenderungnya lebih banyak kendaraan kapasitas dibawah 20 seats dan bus diatas 30-35 seats,” imbuhnya.

Diperkirakan pada Juni mendatang saat liburan sekolah dan Idul Fitri okupansi akan lebih baik. “Mungkin nanti setelah bulan Juni kita akan menentukan bargaining position untuk pariwisata Bali ke depannya. Mudah-mudahan, harapan kita tetap optimis bisa lebih baik lagi ke depannya,” harapnya.(ags)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here