BVA Dorong Gubernur Bali Keluarkan Pergub Standarisasi Usaha Villa

0

BVA Dorong Gubernur Bali Keluarkan Pergub Standarisasi Usaha villa

Buletin Dewata, Badung.

Bali Villa Association (BVA) mendorong pemerintah menerbitkan regulasi yang spesifik terkait standardisasi usaha villa untuk menekan keberadaan villa ilegal (tidak berizin) yang tidak melakukan kewajiban membayar pajak. Regulasi tersebut diharapkan bisa dituangkan kedalam peraturan daerah (perda) atau peraturan gubernur (pergub).

Pergub ini pula akan menggolongkan villa tersebut sesuai fasilitas produk dan pelayanannya apakah masuk kategori berbintang dan non bintang. “Tidak semua rumah/bangunan yang disewakan itu bisa disebut villa. Ada standard yang harus dipenuhi agar bisa disebut villa. Maka kami dorong adanya Pergub ini,” ucap Ketua BVA, I Gede Sukarta saat konferensi pers BVA Anniversary Cup 2019 yang bertepatan HUT BVA ke-13 di Badung, Kamis (19/4).

Gede Sukarta menjelaskan jika sejauh ini baru Kota Denpasar, dan Kabupaten Badung yang memiliki legal formal tentang villa, sedangkan Pemerintah Provinsi Bali belum mengatur standarisasi usaha villa di Bali. Padahal jika dilihat dari urgensi, peraturan tentang standarisasi tersebut sangat diperlukan sebagai upaya mengatasi villa-villa bodong. “Diharapkan dengan Pergub tersebut pelayanan pariwisata di Bali terutama villa menjadi lebih berkualitas dan dapat memicu villa-villa yang bodong agar mengurus perizinan,” jelasnya.

BVA Dorong Gubernur Bali Keluarkan Pergub Standarisasi Usaha villa
Foto : Ketua BVA, I Gede Sukarta (ketiga dari kiri) saat konferensi pers BVA Anniversary Cup 2019 bertepatan HUT ke-13 di Badung, Kamis (19/4).

BVA dengan tag line “The DNA of Bali Quality Tourism” berkomitmen untuk lebih menguatkan pariwisata Bali yang berbudaya, berkualitas dan berkelanjutan baik dari segi produk, pelayanan dan pengelolaan. “Standardisasi ini juga menentukan penjualan karena sebelum villa disewa, tur operator di luar negeri akan melakukan evaluasi dari pelayanan, keamanan apakah memenuhi standard. Kami mengelola villa dengan SOP, kualitas SDM, kualitas pelayanan,” imbuh Sukarta.

Sementara itu Penasehat BVA, Mangku Suteja menyatakan, tidak hanya villa yang memiliki tantangan begitu pun industri lainnya karena adanya persaingan antara perusahaan skala besar dengan yang kecil bahkan berizin dan tidak berizin. “Ini membuat persaingan tidak sehat. Akomodasi yang difasilitasi agent online yang sifatnya sangat masiv juga menjadikan persaingan yang tidak sehat. Sehingga pasar kita (villa) maupun hotel tergerus. Okupansi dari awalnya 70 hingga 80an persen turun menjadi 55 sampai 60 persen. Dengan adanya nomade traveler yang mencari tempat tinggal yang murah misal rumah-rumah penduduk dan kost termasuk tantangan kami di asosiasi,” pungkasnya.(blt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here