Sport Tourism Dorong Peningkatan Wisnus dan Wisman ke Destinasi Pariwisata 

Sport Tourism Dorong Peningkatan Wisnus dan Wisman ke Destinasi Pariwisata 

Buletin Dewata, Badung.

Sport tourism atau wisata olah raga semakin digenjot guna mencapai target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) ke Tanah Air dan pertumbuhan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus). 

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kementerian Pariwisata (Kemenpar),Alexander Reyaan saat workshop sport event dalam mendorong peningkatan Wisnus dan Wisman ke destinasi penyelenggara di Badung, Kamis (7/2) mengatakan bahwa Kemenpar tahun ini menargetkan 250 ribu wisatawan yang datang ke Indonesia dengan tujuan melakukan wisata olahraga.

“Target dari sport tourism itu bukan hanya dari wisatawannya saja tapi spending money juga karena memberikan dampak besar terhadap masyarakat di sekitar destinasi sport event berlangsung,” terangnya.

Hal itu berkaca pada kegiatan Asian Games yang mengambil venue/tempat penyelenggaraan di Palembang dan Jakarta pada tahun 2018 lalu dapat meningkatkan perekonomian di sekitar lokasi kegiatan. Pasalnya, hotel-hotel yang berada di kawasan venue mengalami kenaikan okupansi atau tingkat hunian hingga 100 persen.

“Asian Games membawa dampak ekonomi langsung dengan keseluruhan transaksi Rp 36 triliun baik untuk penginapan, konsumsi, transportasi, souvenir dan lainnya. Sedangkan yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian kita sekitar 88 persen lebih pada penyelenggaraan event olahraga itu adalah penonton,” sebut Alexander.

Dampak ekonomi tersebut yang sangat dirasakan oleh suatu destinasi yang menjadi tuan rumah kegiatan olahraga internasional. Sehingga sekarang ini kata dia banyak destinasi/negara yang berlomba-lomba menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan olahraga.

Indonesia kata dia sudah berpengalaman menjadi tuan rumah event olahraga kelas internasional namun masih menghadapi kendala. Seperti dari sisi destinasi, venue outdoor, profesionalisme dari event organizer (EO) dan juga kendala regulasi.

“Misalnya peserta sudah mau bertanding tapi peralatannya belum keluar dari bea cukai. Ini perlu upaya kita melakukan deregulasi dan berbenah dari sisi SDM hingga berdaya saing,” bebernya.

Menurut Alexander, Bali hingga sekarang masih menjadi destinasi favorit untuk kegiatan wisata olahraga karena memiliki venue/tempat terbuka yang berbasis alam.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Daerah Bali, Anak Agung Gede Yuniartha menyatakan Bali memang berpeluang menjadi destinasi wisata olahraga. Mengingat, berbagai kegiatan sport tourism kelas internasional telah berlangsung di pulau ini. Namun diakuinya dalam mengembangkan sport tourism di Bali masih terkendala infrastruktur.

“Dari sisi venue beberapa venue di Bali sudah disiapkan untuk wisatawan yang memang datang khusus mengunjungi venue olahraga disuatu daerah dan merencanakan untuk mengadakan event sport tourism,” ujarnya.(wid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *