Innovation Hub, Upaya Akselerasi Pembangunan Berbasis Kebutuhan Masyarakat

 Innovation Hub Upaya Akselerasi Pembangunan Berbasis Kebutuhan Masyarakat
Foto : Gathering Meeting Kepariwisataan, Rabu (5/11) di Puspem Badung.

Buletin Dewata, Badung.

Di era digital yang didominasi oleh generasi milenial, semakin dirasakan pentingnya kesadaran kolektif yang menggugah semangat untuk bersama-sama menyikapi volatilitas, ketidakpastian, dan kompleksitas yang menimbulkan keraguan (VUCA).

Pembentukan persepsi publik terhadap segala budaya kehidupan, persaingan dan kecepatan mengantisipasi perubahan dalam kehidupan global ternyata menuntut adanya Inovasi yang lebih cepat dan mampu memudahkan kehidupan, menjaga kelestarian alam, membangkitkan kecerdasan, meningkatkan kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup masyarakat.

Peneliti Madya Bidang Bisnis & Manejemen pada Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP) Kemendagri, Herie Saksono dalam pemaparannya saat Gathering Meeting Kepariwisataan, Rabu (5/11) di Puspem Badung mengharapkan agar Badung mengembangkan innovation hub atau “Sentra Inovasi” yang berorientasi pada pelayanan, edukasi, penelitian & pengembangan, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat Badung pada khususnya.

Saat ini, ukuran kualitas pelayanan telah berkembang menjadi prima, ultima, dan optima. Kecepatan dan ketepatan yang memberi kualitas rasa atau manfaat bagi publik menjadi kunci keberhasilan pemberdayaan masyarakat di seluruh aspek kehidupannya. Secara spesifik, pada tingkat kepemerintahan sentra innovasi menjadi wadah kerja kolaboratif seluruh pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi permasalahan, menginventarisasi dinamika kehidupan, dan memetakan jalan keluar yang lebih aktual dan implementatif sesuai kebutuhan, karakteristik kewilayahan, dan kearifan lokal.

Setiap permasalahan yang sudah akut dapat didiagnosis dan dianalisis secara terbuka denga mengedepankan standarisasi ilmiah dan humanis. Inisiasi “Innovation Hub” dapat juga dilakukan oleh BUMN dan perusahaan lainnya yang tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah namun juga untuk meningkatkan daya saing.

Mangku Sulasa secara kritis turut memberi penguatan melalui mekanisme kerja Innovation Hub. Hub wajib loyal terhadap norma, standar, prosedur, dan kriteria yang menjadi filosofi dalam prosesinya. Sebab, salah satu intervening goal (sasaran antaranya) adalah mendorong bangkitnya semangat publik untuk berinovasi melalui partisipasi aktif dengan cara menyatukan persepsi, meraih eksepsi masyarakat, dan melakukan aksi inovatif agar dapat direspon kemanfaatannya oleh publik.

Melalui I-Hub, diharapkan dapat menjadi sarana pengambilan keputusan dan formulasi kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy), sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih berkualitas dan dapat diterapkan dengan tujuan menuntaskan problema kehidupan tanpa menimbulkan masalah baru.

Sulasa lebih lanjut mengatakan bahwa inovasi itu tercipta karena adanya masalah yang dirasakan secara masif. Permasalahan tersebut berimplikasi terhadap timbulnya sejumlah kerugian dan bahkan mereduksi daya saing. Secara realistis, para pengusaha (tempe, coklat, kosmetik, dll.) merasa sulit berkembang karena keterbatasan peralatan dan akreditasi laboratorium, sehingga laboratorium tersebut tidak memiliki kewenangan menerbitkan sertifikat kelayakan konsumsi/ pemakaian terhadap suatu produk yang dihasilkan.

Proses inovasi mulai dari identifikasi masalah, dan merumuskan masalah secara baik, jujur dan terbuka ini tidak gampang dikarenakan budaya yang masa lalu hidup di zonasi nyaman, tidak salah kalau Jokowi mendengungkan Revolusi Mental untuk Indonesia, kalau ingin maju.Langkah kedua setelah masalahnya teridentifikasi secara gamblang dan kita akui bersama, baru mulai mengumpulkan ide-ide yang saat ini kebanyakan dilakukan melalui focus group discussion (FGD) untuk memperoleh rekomendasi yang sesuai dengan masalahnya.

Ketiga, berpikir tentang pengembangan sistem serta imaginasi berapa lama sistem ini akan bisa diberlakukan secara efektif. Herie mempertegas bahwa untuk menuju innovasi diperlukan adanya inspirasi dan kemampuan berimajinasi. Selain itu, komitmen untuk berubah, konsistensi untuk mengembangkan wawasan, dan dilandaskan pada niat yang positif, menjadi faktor pendorong terwujudnya I-Hub.

Kiranya Pemda Kabupaten Badung segera menginisiasi terbentuknya innovation hub sebagai sarana pelayanan kebutuhan inovasi menuju visi Pemda Kabupaten Badung dalam mewujudkan Badung Yang Damai dan Sejahtera Berlandaskan Falsafah Tri Hita Karana, agar lebih maju lagi dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan, pengembangan modal manusia demi terwujudnya pembangunan inklusif yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *