Usai Hajatan IMF-World Bank, Okupansi Hotel di Nusa Dua dan Kuta Merangkak Turun

usai-hajatan-imf-world-bank-okupansi-hotel-di-nusa-dua-dan-kuta
Foto : Kawasan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Nusa Dua, Badung.

Buletin Dewata, Denpasar.

Pasca perhelatan akbar IMF-World Bank Annual Meeting 2018 di Nusa Dua, tingkat hunian hotel di Bali mulai mengalami penurunan. Terlebih pada saat bulan Nopember yang merupakan trennya memasuki musim sepi kunjungan wisatawan. Hal ini diakui General Manager H Sovereign Hotel, I Made Ramia Adnyanya saat ditemui di Badung.

“Jika dibandingkan pada Oktober 2018 lalu saat di Nusa Dua Bali diadakan pertemuan IMF-World Bank yang dihadiri oleh puluhan ribu delegasi dari 189 negara. Ketika event berlangsung, hotel-hotel di kawasan Nusa Dua dan Kuta okupansinya mencapai 100 persen. Namun periode 1 Nopember hingga 15 Desember adalah masa-masa low season atau sepi kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata. Hal ini berdampak pada penurunan okupansi atau tingkat hunian kamar hotel 15-20 persen dari masa high season,” ujar Ramia.

I Made Ramia Adnyana yang juga Wakil Ketua Umum I DPP Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) menambahkan jika sejumlah pengelola perhotelan telah mengantisipasi kondisi tersebut, salah satunya dengan gencar melakukan promosi ke luar negeri ke sejumlah negara potensial termasuk adanya charter flight dari China dan Taiwan serta lainnya untuk mengisi okupansi low season.

“Namun penurunan okupansi ini masih bisa diantisipasi dengan promo tour series dan charter flight dari turis Tiongkok dan Taiwan. Promo-promo tersebut berhasil mengangkat okupansi yang seharusnya turun sekitar 15-20 persen dari masa musim liburan. Promosi – promosi untuk mengisi kekosongan low season ini sudah dilakukan oleh pelaku industri pariwisata Bali jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan IMF berlangsung”, tuturnya.

Usai Hajatan IMF-World Bank, Okupansi Hotel di Nusa Dua dan Kuta Merangkak Turun
Foto : I Made Ramia Adnyana.

Menurut Ramia, pada periode low season tahun ini okupansi hotel berbintang di Badung dari bintang 4-5 rata-rata mencapai 60 persen. “Karena kita selalu memforcase okupansi pada Nopember diantara 60an persen. Kalau diluar itu (high season) rata-rata okupansi berkisar 80-85 persen”, terangnya

Dikatakan, setelah tanggal 15 Desember hingga 5 Januari, pariwisata Bali menghadapi musim libur panjang akhir tahun. “Setiap tahun memang trennya di dunia pariwisata Bali seperti itu. November biasanya adalah low season karena mulainya musim hujan di Bali kemudian low season itu biasany mulai 1 Nopember sampai 15 Desember. Setelah 15 Desember trennya itu mulai high season lagi hingga 5 Januari”, imbuh Ramia.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *