Bali International Tourism Conference (ITC) ke-2 Bahas Stategi pariwisata Bali di Era Millennial

Bali International Tourism Conference (ITC) ke-2 Bahas Stategi pariwisata Bali di Era Millennia
Foto : Bali Internasional Tourism Conference Millennial Tourism ke-2  dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata dari Prof. Dr. I Gede Pitana (baju warna cokelat).

Buletin Dewata, Denpasar.

Gaya hidup generasi millennial selain menjadi tantangan tersendiri bagi Pariwisata Bali juga memberikan peluang yang sangat potensial bagi pengembangan pasar pariwisata. Potensi Pariwisata Kaum Millennial saat ini perlu digarap secara serius, demikian disampaikan Prof. Dr. I Gde Pitana, MSc. selaku Staf Ahli Kemenpar dalam Bali Internasional Tourism Conference Millennial Tourism ke-2 yang diselenggarakan Universitas Udayana, di Ruang Teater, Gedung Fakultas Kedokteran Unud, Denpasar, Kamis
(8/11).

Prof. Dr. I Gede Pitana, Msc selaku Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata dalam paparannya yang berjudul marketing hyperconnected society secara gamblang menyampaikan, sejumlah alasan perlunya menggarap segmen kaum millennial. Dikatakan, segmen pasar pariwisata millennial dalam 10 tahun kedepan akan mencapai 75 % dari pasar global.Pada tahun 2020, diprediksi akan ada potensi 300 juta penduduk millennial China yang akan melakukan perjalanan wisata di seluruh dunia. Khusus Indonesia pada tahun 2020 akan memiliki penduduk millennial (usia15-34 tahun) mencapai 82 juta jiwa. Ini adalah potensi pasar pariwisata yang sangat besar. Angka ini menempati urutan ke-3 terbesar di Asia.

Dikatakan, generasi millennial memiliki karakter digital dan gaya hidup berteknologi, mereka berorientasi pada pengalaman, advocators, dan gemar berpetualang. Pola pikir kaum millenial menyebabkan disrupsi dibidang perjalanan wisata. Kaum milleinial mampu membuat perubahan dibidang teknologi di masyarakat dengan berbagai ciri khasnya.Gaya hidup kaum millennial bukan hanya sebuah kontroversial, tetapi juga anomali bagi perilaku pasar pariwisata Bali. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi khusus didalam kebijakan pengembangan kepariwisataan Bali agar bisa mendongkrak pendapatan daerah.

“Menghadapi tantangan era milineal perlu dilakukan kajian serta analisa tajam terkait bagaimana karakteristik dari era milineal itu sendiri dan mengkaitkannya dengan produk yang diharapkan di era tersebut. Produk-produk pariwisata nantinya harus dapat menyesuaikan dengan segmen atau kebutuhan pasar, dan tentu saja harus sejalan dengan undang-undang, peraturan serta nilai-nilai budaya dan agama yang ada”, paparnya.

Wakil Gubernur Bali, Dr. Ir. Tjok Oka Artha Ardana Sukawati, M.Si (Cok Ace) mengatakan, kontribusi hotel dan restoran mencapai 23 % terhadap PDRB Bali. Angka tersebut belum termasuk sumbangan yang diperoleh dari daya tarik atau obyek wisata, fasilitas penunjang seperti Spa, kesenian, water sport dan pertunjukan. Pada tahun 2017, jumlah turis asing yang datang ke Bali lebih dari 5 juta jiwa. Kedatangan wisatawan asing ke Bali mengalami peningkatan rata-rata 15 % per tahun selama 10 tahun terakhir.

Wagub Tjok Ace menambahkan, merujuk hasil penelitian Universitas Indonesia yang berkaitan dengan pariwisata diketahui bahwa ada pergeseran karakteristik dari knowledge to exprerinces (dari pengetahuan ke pengalaman). Oleh karena itu, gaya hidup millennial yang gemar mengalami sendiri merupakan potensi yang perlu digarap secara serius dalam kebijakan pengembangan kepariwistaan Bali. Era millenial menurutnya bukan saja bersifat kontroversial tetapi juga sebuah anomali terhadap upaya pengembangan pariwisata selama ini yang dikerjakan secara konvensional. “Pariwisata budaya Bali dikembangkan berbasis masyarakat, sedangkan pariwisata millennial itu dikembangkan berbasis teknologi”, ujar Cok Ace.

Lebih jauh Cok Ace menjelaskan di era teknologi informasi dan penggunaan dunia maya, digitalisasi diharapkan nantinya tidak kontradiktif dengan pariwisata budaya yang dimiliki Bali. Era millenial bersifat dinamis dengan teknologi, sedangkan sisi pariwisata budaya cenderung bersifat statis dan menjadikan masyarakat sebagai subjeknya. Untuk itu kedepannya perlu dicarikan solusi bagaimana pengembangan pariwisata budaya Bali di era millenial, sehingga pariwisata Bali tetap maju tanpa tercabut dari akar budayanya. “Jangan sampai era digital mengurangi pariwisata budaya karena dalam pariwisata budaya masyarakat ikut terlibat sebagai subyek. Jangan sampai dengan era digital masyarakat hanya sebagai penontonnya saja. Untuk itu saya harapkan pertemuan ini bisa memberikan solusi terkait pengembangan pariwisata Bali kedepannya di era millenneal, “imbuhnya.

Sementara itu, Chairman of Organizing Committee, Ir. Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc, Ph.D mengaku sangat bangga dengan tingginya partisipasi semua pihak dalam seminar pariwisata internasional tersebut. “Kami bangga dengan tingginya partisipasi para pakar pariwisata dalam seminar ini. Kita akan membahas lebih dari 75 presentasi di dalam seminar ini, baik dari narasumber dalam maupun luar negeri” ungkap Agung Suryawan.

Agung Suryawan berterima kasih atas kehadiran keynote speaker Dr. Chris Bottril yang juga Chairperson PATA Board Member yang datang jauh dari Canada. Agung Suryawan juga sangat mengapresiasi kehadiran para pembicara undangan seperti : Prof. Noel Scott Griffith University, Prof. Xu Honggang of Sun Yat Sen Unioversity; Prof. Dr. IKG Bendesa from Udayana University; dan Mr. Oliver Libutzki – Associate Vice President of Agoda. Agung Suryawan berharap, seminar dapat mensharing hal-hal yang bermanfaat bagi strategi pengembangan kepariwisataan Bali dan Indonesia. Melalui Wagub Tjok Ace, Pemprov Bali diharapkan pula memberikan dukungan terhadap riset-riset pariwisata sehingga akan memberikan data yang akurat bagi pengembangan pariwisata Bali.

Hal senada disampaikan Dekan Fakultas Periwisata, Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si. Menurut Sunarta, pasar kaum millennial merupakan segmen pasar potensial bagi kepariwisataan yang membutuhkan strategi khusus agar mampu memberikan kontirbusi bagi pendapatan daerah.

Konferensi internasional Fakultas pariwisata bekerja sama dengan program doktor dan pascasarjana bidang pariwisata, dan pusat penelitian untuk kebudayaan dan pariwisata universitas udayana, berlangsung selama 3 hari dari 8 hingga 10 Nopember 2018. Hasil-hasil dari konferensi ini akan disampaikan kepada pemerintah dan berbagai stakeholders pariwisata.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *