PENUTUPAN MONEY CHANGER ILEGAL DISAMBUT POSITIF PELAKU PARIWISATA BALI

0

PENUTUPAN MONEY CHANGER ILEGAL DISAMBUT POSITIF PELAKU PARIWISATA BALI

Buletindewata.com, Denpasar.

Pelaku industri pariwisata sambut positif gencarnya penutupan KUPVA BB (Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank ) atau money changer/MC illegal di Bali yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan aparat kepolisian akhir-akhir ini. Pelaku pariwisata asal Kuta, Badung Wayan Puspanegara mengatakan penutupan tersebut harus terus dilakukan hingga zero MC illegal.

Sebab menurutnya, keberadaan MC illegal itu sangat meresahkan dan merusak citra Bali sebagai destinasi wisata internasional. Bahkan wisatawan yang menukarkan uang di kawasan Kuta, Legian dan Seminyak sering komplin karena praktik penipuan yang dilakukan di tempat penukaran uang illegal itu. “Dengan adanya MC illegal membuat destinasi wisata di Bali  tercoreng dan menurunkan kualitas destinasi, sehingga dengan gencarnya penertiban ini kami sangat menyambut positif,” terang mantan anggota DPRD Badung ini saat dikonfirmasi, Kamis (18/1).

Pelaku pariwisata kata dia juga telah memberikan pengumuman kepada wisatawan untuk melakukan transaksi penukaran uang di MC legal yang direkomendasikan hotel serta membangun komunikasi dengan pihak asososiasi dan kepolisian. “Kami akui masih ada saja kemunculan MC illegal sehingga kami berharap perlu tindakan  tegas dari aparat,” ucapnya.

Pelaku pariwisata lainnya, Ketua Bali Hotel Association (BHA), Ricky Putra menyatakan jika penutupan MC illegal tersebut juga membawa dampak positif untuk wisatawan karena sudah sesuai  dengan prosedur BI dan aparat terkait. “Sangat sesuai dengan harapan kami selaku pelaku  pariwisata di Bali,” cetus Ricky.

Dia membeberkan jika sebelumnya sering menerima keluhan dari wisatawan terkait praktik MC illegal. Keluhan yang disampaikan berupa  kekurangan uang yang ditukarkan dan penipuan lainnya. Sejak gencarnya penertiban dan sosialisasi yang dilakukan oleh BI kata dia laporan yang diterima anggotanya sudah mulai menurun meskipun tidak sampai nol persen.

Pelaku pariwisata yang mengetahui adanya MC illegal yang masih beroperasi di wilayah kerjanya bisa melapor ke pihak terkait agar dilakukan penertiban. Ricky berharap, penertiban seperti ini agar dilakukan secara berkesinambungan untuk memberikan efek jera kepada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, sehingga di Bali terhindar dari kegiatan MC illegal.(bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here