OKUPANSI ANJLOK, PELAKU PARIWISATA BALI AMBIL HIKMAH ERUPSI GUNUNG AGUNG

Foto : Wakil Ketua Umum DPP Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyana

Buletindewata.com, Badung.

Pelaku industri pariwisata mengambil hikmah erupsi Gunung Agung yang berdampak signifikan terhadap kedatangan wisatawan ke Pulau Dewata. Wakil Ketua Umum DPP Indonesian Hotel General pManager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyana dalam pesan elektroniknya, Rabu (6/12) menyampaikan bahwa pariwisata menganut paham positivisme, kondisinya sangat tergantung suasana yang kondusif.

Pariwisata kata dia pada hakekatnya adalah perjalanan yang sempurna, jadi peran semua stakeholder sebagai kunci pembangunan kepariwisataan berkewajiban menciptakan suasana yang tenang dan kondusif. “Selalu ada hikmah dan pelajaran dibalik peristiwa. Kita mesti bersyukur karena letusan Gunung Agung tidak terlalu dahsyat sebab kejadiannya saat musim hujan dan kebetulan pas low season di Bali,” ucapnya.

Dikatakan Ramia, informasi yang riil sangat diperlukan. Momen inilah yang banyak dimanfaatkan terutama pesaing Bali. Terkait faktor kewaspadaan aktivitas erupsi Gunung Agung menurutnya sudah di tentukan radiusnya. Bahkan letusan dan pergerakan abu vulkanik yang ditimbulkan dari erupsi Gunung Agung sangat mempengaruhi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai. Penutupan operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai beberapa waktu lalu telah menyebabkan penerbangan dari dan menuju Bali banyak yang tertunda. Hingga sekarang sejumlah maskapai masih melakukan pembatalan penerbangan ke Pulau Bali.

Kondisi itu kata dia berdampak pada berkurangnya wisatawan dan okupansi hotel di Bali juga mengalami penurunan tingkat hunian hingga rata-rata di bawah 40 persen. “Pariwisata budaya sebagai lokomotif pembangunan dan daya dukung utama perekonomian Bali tentu memiliki pengaruh terhadap aktivitas penerbangan dari salah satu pintu masuk melalui Bandara Ngurah Rai,” katanya.

Berkaca dari hal ini, pemerintah daerah sudah saatnya mulai mengupayakan penyediaan moda dan jalur transportasi disetiap pintu keluar/masuk Pulau Bali selain melalui jalur udara. “Pariwisata kita di Bali sangat dipengaruhi oleh aksesibilitas, sikap penduduknya, aktraksi, dan lainnya,” cetus Ramia yang juga pengurus PHRI Badung ini.(bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *