“SOTO” MAKANAN KHAS INDONESIA YANG MENDUNIA

Buletindewata.com, Badung.

Berbagai ragam kuliner lokal yang ada di Indonesia ini menjadi salah satu pendukung industri pariwisata. Sehingga makanan khas Nusantara tersebut perlu dipresentasikan sesuai standar global. Demikian disampaikan Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo di Badung.

“Keragaman makanan kita sangat banyak. Cuma bagaimana mengemasnya secara standar ke masyarakat global. Kalau Thailand bisa dengan tom yum-nya. Ketika orang berbicara tentang Thailand langsung terpikir tom yum. Korea dengan kimchi-nya. Indonesia barangkali sebagai suatu kelebihan atau kekurangan jika tidak dimanage dengan baik. Saking banyaknya makanan kita agak bingung mana mau ditonjolkan,” katanya.

Menurut dia, intinya adalah komunikasi kepada calon konsumen (wisatawan), rasa seperti apa yang cocok dan bisa diterima oleh masyarakat global. “Seperti yang kita (Bekraf) rancang diplomasi “soto”, sesendok kehangatan dari Indonesia. Karena kita ingin orang mengenal Indonesia itu melalui soto,” sebut Fadjar.

Dia mengatakan, di Indonesia ada 54 jenis soto dari berbagai daerah. Soto ini kata dia lebih mudah untuk dimasak dan diduplikasikan seperti membuat sup. Lantas kenapa makanan Indonesia kurang populer dibandingkan dengan makanan dari negara lainnya? Dikatakan Fadjar hal itu dikarenakan kuliner Indonesia masih kurang pada cara pengemasan. “Pada kemasan. Jika soal rasa kita punya keunggulan tapi kadang presentasinya itu yang kurang memenuhi selera dan syarat dari global soal kesehatan pangannya dan cara pengolahan,” bebernya.

Kedepannya Bekraf akan mempopulerkan soto agar menjadi salah satu makanan Indonesia yang mendunia dan bisa diterima oleh masyarakat global. “Hari ini kita sudah mengintervensi soto dengan melibatkan beberapa chef, rasa soto yang mau kita bawa (perkenalkan pada masyarakat global) soto ayam. Karena lebih bisa diterima ketimbang soto jeroan dan rasanya yang agak light, enggak banyak santan.

Lebih lanjut Fadjar mengatakan bahwa masyarakat Eropa, Amerika, dan Asia cenderung gemar mengkonsumsi sup. Biasanya sup dihidangkan sebagai makanan pembuka (appetizer). Sup dan soto ini memiliki kesamaan sehingga soto bisa diterima oleh masyarakat global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *