PENURUNAN KUALITAS PARIWISATA BALI

Buletindewata.com, Denpasar.

Sektor pariwisata bagi Provinsi Bali hingga saat ini masih menjadi tulang punggung perekonomian Bali, namun dari data Badan Pusat Statistis Perovinsi Bali tercatat selama tahun 2016, sector pariwisata di Bali tercatat mengalami penurunan hingga 40 persen.

Demikian diungkapkan pemerhati pariwisata di Bali, Prof. Dr. Darma Putra, Senin kemarin di Denpasar. Adapun bentuk penurunan sector pariwisata ini dikatakan Dharma Putra dapat diliat dari adanya penurunan tingkat pengeluaran wisman pada tahun 2016 sebesar 143,35 dolar/hari per orang dari 143,92 dolar/hari per orang pada tahun 2015. “Kondisi tersebut mengindikasikan akan tendensi penurunan daya saing pariwisata Bali,” jelasnya.

Menurut Dharma Putra, ada beberapa hal yang menyebabkan kualitas pariwisata di Bali mengalami penurunan, salah satunya adalah fokus pengembangan pariwisata yang berlokasi di Bali bagian selatan telah memberikan dampak pada masalah kemacetan dan sampah.

Selain itu, perkembangan pariwisata juga menghadapi tantangan oleh semakin meningkatnya transaksi online booking. Di sisi lain seperti bidang pertanian yang menjadi salah satu daya dukung sector pariwisata juga terjadi alih fungsi lahan pertanian di Bali setiap tahun (sawah maupun ladang) sekitar 350 ha/tahun. “Kondisi ini akan semakin berat karena terbatasnya jumlah SDM di bidang pertanian serta minimnya pemanfaatan teknologi pertanian,” lanjutnya.

Dengan kondisi ini, pengembangan sector pariwisata di Bali harus lebih merata untuk seluruh wilayah Pulau Bali. “Salah satu bentuknya adalah dengan mengembangkan Desa Wisata, apalagi saat ini Bali merupakan salah satu prioritas nasional pengembangan Desa wisata,” tambahnya.

Terkait pengembangan desa wisata ini, Kementerian Pariwisata mengatakan pengembangan desa wisata di Indonesia dilakukan dengan prinsip pariwisata global yaitu pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dimana pariwisata harus menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dalam setiap pengambilan kebijakan maupun rencana pembangunan. “Program desa wisata atau homestay merupakan komitmen kementerian Pariwisata yang menjadikan pariwisata sebagai satu dari lima program prioritas nasional,” jelas Menteri pariwisata Arif Yahya beberapa waktu lalu.(buleta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *