WISATA PESIAR BALI TERHALANG TARIF MAHAL

images (13)

Buletindewata.com, Badung.

Industri wisata kapal pesiar (cruises), kini menjadi salah satu moda alternatif karena keterbatasan kapasitas di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Wisata cruises berpotensi dikembangkan di seluruh Indonesia dan Bali khususnya karena telah didukung oleh sejumlah fasilitas. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Daerah Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra saat ditemui di Badung.

Dia mengatakan, di Indonesia ada 5 pelabuhan yang disinggahi kapal pesiar termasuk Pelabuhan Benoa, Denpasar.
Dengan dikembangkannya sejumlah pelabuhan di Bali sebagai tempat berlabuhnya kapal pesiar, diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan asing yang tidak hanya datang melalui bandara. “Harapan saya dengan carrying capacity airport kita yang terbatas tentu pelabuhan ini menjadi bantuan untuk menambah wisatawan yang masuk ke Bali,” harap Yuniartha.

Selain Pelabuhan Benoa, Pelabuhan Celukan Bawang, Buleleng dan Tanah Ampo, Karangasem juga berpeluang sebagai tempat bersandarnya cruises yang singgah Bali. “Saya berharap Benoa bisa dibagusin, Tanah Ampo juga bisa disandarin oleh cruises. Serta Celukan Bayang karena kedalamanannya sudah bagus 12 meter, bisa disinggahi kapal pesiar,” katanya.

Kapal pesiar ini dikatakan Yuniartha bisa menjadi moda transportasi alternatif bagi wisatawan yang datang ke Bali selain melalui bandara. Bahkan pihaknya mengusulkan kepada Pelni agar bisa mengubah kapalnya menjadi kapal pesiar. Sehingga bisa mengangkut wisatawan atau penumpang dari Bali ke berbagai destinasi wisata di Nusa Tenggara Barat dan Timur. “Tentu Bali ini yang memiliki pelabuhan¬†bisa membantu airport. Bisa menjadi alternatif. Pada 2017 ini di Benoa akan disinggahi 72 cruises. Kalau setiap kapal membawa 2 ribu wisatawan bayangkan berapa banyak itu jika dikalikan,” sebutnya.

Sementara itu Penasihat Kehormatan Menteri Pariwisata Republik Indonesia yang juga Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari, Indroyono Soesilo mengungkapkan dari sebanyak 3 juta wisatawan berwisata melewati wilayah Indonesia menggunakan kapal pesiar di tahun 2016, hanya sebanyak 250 ribu wisatawan saja yang akhirnya benar-benar berkunjung ke Indonesia. Bahkan di tahun 2017, diprediksi hanya sebanyak 200 ribu wisatawan saja yang akan mengunjungi Indonesia dengan menggunakan kapal pesiar. Hal tersebut terjadi salah satunya karena tingginya tarif kapal pesiar untuk dapat masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan Benoa.

Bahkan dia mengungkapkan, tarif kapal pesiar masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan Benoa hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan di pelabuhan-pelabuhan negara tetangga. “Contohnya pelabuhan di Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina yang memiliki tarif lebih murah dibandingkan Pelabuhan Benoa. Padahal banyak sekali kapal pesiar yang ingin datang ke Pelabuhan Benoa,” bebernya.(buleta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *