WISATAWAN DIHIMBAU HINDARI AKTIVITAS RAWAN BENCANA

images (12)

Buletindewata.com, Badung.

Kepala Dinas Pariwisata Daerah Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra mengimbau para wisatawan agar sementara waktu tidak melakukan aktivitas wisata di kawasan Songan, Kintamani, Bangli. Hal itu dikarenakan kondisi di kawasan tersebut hingga sekarang ini masih belum normal pasca bencana longsor yang terjadi beberapa waktu lalu akibat cuaca ekstrim.

Desa Songan yang berada di area Batur Global Geopark merupakan salah satu kawasan tempat melakukan aktivitas wisata. Di area tersebut kata dia banyak dikunjungi wisatawan asing yang melakukan kegiatan wisata seperti panjat tebing dan mendaki Gunung Batur. Namun karena curah hujan yang cukup tinggi di kawasan itu terjadi bencana longsor hingga menelan korban jiwa pada Jumat dini hari (10/2).

“Sekarang masih dibersihkan sisa-sisa longsornya baik dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bali dan juga Bangli ikut membantu. Harapan kami tidak ada lagi hal-hal semacam itu. Kami juga ikut bersedih,” ucapnya di Badung.

Selain itu longsor juga terjadi di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng hingga menyebabkan jalur Denpasar–Singaraja via Bedugul lumpuh total.  Kondisi ini dikatakan Yuniartha berimbas pada industri pariwisata di Desa Songan, Bangli dan Buleleng. “Pasti akan terganggu jalan menuju ke Singaraja dan begitu pula aktivitas wisata di Songan juga tidak seperti biasa,” ucap Yuniartha.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan ke daerah Singaraja dan Songan, Bangli. Meski ada beberapa jalur dari Denpasar menuju Singaraja namun kata dia akses yang terdekat adalah jalan Denpasar-Singaraja via Bedugul. Jika melalui jalur yang lebih jauh maka wisatawan pun akan menyurutkan niatnya menuju sejumlah obyek wisata di Singaraja. “Memang dari Denpasar ada jalan lain menuju Singaraja misalnya dari Pupuan, dan Karangasem namun jalan itu lebih jauh. Jalur yang terdekat dari Denpasar ya memang Denpasar-Singaraja tapi jalan di Gitgit longsor tidak bisa dilalui kendaraan,” jelasnya.

Selama cuaca ekstrim hujan lebat disertai angin kencang, pihaknya mengimbau agar pelaku industri pariwisata mengingatkan wisatawan tidak melakukan aktivitas wisata di kawasan yang rawan bencana. “Saya mengimbau industri yang bergerak di wisata tirta seperti laut dan sungai harus berhati-hati. Sebaiknya wisatawan jangan diizinkan melakukan kegiatan wisata di tempat yang rawan, jangan dulu mendaki Gunung Batur karena cuaca masih belum normal,” imbaunya.

Ketua Gabungan Usaha Wisata Bahari (Gahawisri) Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana menyatakan selama cuaca ekstrim aktivitas wisata tirta di Bali sempat ditutup selama beberapa hari. “Kegiatan wisata tirta sementara buka tutup. Rafting di Ayung baru buka hari ini setelah tutup 3 hari karena faktor cuaca,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Gus Agung ini mengatakan dalam kondisi cuaca buruk, lebih baik mencegah daripada nantinya terjadi kecelakaan. “Kita ada group diskusi di WA, jadi kami pantau bersama-sama setiap hari agar nantinya tidak terjadi hal-hal buruk,” katanya.(buleta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *