PHRI DORONG ” GREEN HOTEL”

img_20161221_101551

Buletindewata.com, Denpasar.

– Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badan Pimpinan Cabang (BPC) Kota Denpasar akan terus mendorong konsep green hotel serta proteksi terhadap lingkungan sekitarnya. Ketua PHRI BPC Kota Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra disela-sela pengukuhan pengurus PHRI DPC periode  2016-2021 di Denpasar, Rabu (21/12), mengatakan konsep green hotel sendiri sudah ada standarisasi dari UNWTO sehingga pihaknya akan terus mengembangkan konsep tersebut di wilayah Kota Denpasar.

“Selain itu, Peraturan Walikota (Perwali) pun mengatur pembangunan 1 are 1 pohon sehingga kami dari PHRI akan melakukan dan kami dorong anggota kami menerapkan konsep greeen hotel ini,” tegas pria yang akrab disapa Gusde ini.

Dia menambahkan, konsep green hotel sendiri sangat cocok bagi Kota Denpasar yang berwawasan budaya serta sangat perhatian akan lingkungan. “Green sendiri masih karakter dari Bali yang harus kita tonjolkan. Selain itu, pengolahan limbah hotel juga harus diperhatikan agar tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar,” jelasnya.

Sejauh ini, lanjutnya, persentase hotel di Kota Denpasar yang telah menerapkan konsep tersebut cukup tinggi terutama hotel di kawasan Sanur. Sebab menurutnya, konsep green atau peduli lingkungan tersebut tidak hanya faktor masyarakat ataupun lingkungan saja, namun juga permintaan dari wisarawan itu sendiri. Dia mengatakan, pasar Middle East lebih cenderung menyukai hotel yang memiliki lingkungan hijau tanpa mengutamakan budaya. Pasar wisatawan Timur Tengah (Middle East) ini berbeda dengan karakteristik turis Eropa yang tertarik pada budaya.

“Beberapa negara di luar Indonesia sudah lebih dahulu mempunyai policy mengenai sustainability atau mengenai konsep green tersebut sehingga bisa menjadi nilai jual kita kepada wisatawan. Misalkan seperti pasar Middle East yang lebih suka lingkungan hijau dan asri, bukan hanya tertarik akan kebudayaan Bali saja. Berbeda dengan wisatawan dari Eropa yang bisa kita tawarkan budaya Bali sebagai nilai jual kepada mereka,” bebernya.(bude)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *