Ubud Writers & Readers Festival 2019 Umumkan 16 Nama Pembicara dan Tiket Awal

Ubud Writers & Readers Festival 2019 Umumkan 16 Nama Pembicara dan Tiket Awal.jpg

 

Buletin Dewata  Gianyar.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) pada hari Rabu (03/07/2019) mengumumkan 16 nama pembicara tahap awal yang akan bergabung dalam acara sastra, budaya, dan seni selama lima hari berturut-turut pada tanggal 23-27 Oktober mendatang. Berpusat di tiga lokasi utama yaitu di Taman Baca di Jl. Raya Sanggingan Ubud, Indus Restaurant, dan Neka Art Museum, Festival yang selalu dinantikan oleh para pencinta sastra dan penggemar seni budaya ini akan menghadirkan beragam acara menarik mulai dari panel diskusi, acara spesial, lokakarya (workshop), pemutaran film, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, UWRF merayakan tahun ke-16 sebagai salah satu acara sastra terkemuka di dunia. Sebagai salah satu dari lima festival sastra terbaik untuk tahun 2019 versi The Telegraph UK, festival ini akan mempertemukan lebih dari 170 penulis, seniman, dan pegiat dari lebih dari 30 negara, untuk berbagi kisah luar biasa dan gagasan-gagasan berani melalui tema tahun ini, Karma.

Tema tahun ini terinspirasi dari filosofi Hindu yang kemudian dikenal secara luas sebagai sebuah hukum sebab akibat. Karma Phala bagi masyarakat Hindu Bali merupakan konsep spiritual yang menyatakan bahwa setiap tindakan akan memicu konsekuensinya yang setara dalam kekuatan dan bentuk yang serupa.

Tema ini akan menggali dampak dari tindakan kita, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan. Dengan beragam kejadian yang ada di sekitar kita, konsep karma ini akan mendorong kita untuk bertanya apakah kita benar-benar memahami konsekuensi dari tidakan kita, dan bagaimana kita dapat menanggapi tindakan orang lain dengan sebaik-baiknya.

Keragaman budaya dan kreativitas yang luar biasa tercermin dari para pembicara tahap awal UWRF19. Dengan bangga, Festival akan kembali menyambut Seno Gumira Ajidarma, sastrawan terkemuka Indonesia berdampingan dengan Azhari Aiyub, sastrawan Aceh. Turut hadir Iksaka Banu, Laksmi Pamuntjak, novelis yang meyakini bahwa makanan sangatlah penting dalam perjalanan seseorang untuk menemukan jati diri. Film yang diangkat dari adaptasi novel keduanya, Aruna dan Lidahnya (2018), berhasil menuai banyak pujian.

Dari dunia perfilman, Rayya Makarim, penulis skenario dan produser di balik beberapa film Indonesia yang paling menakjubkan seperti Pasir Berbisik (2001) dan 27 Steps of May (2018). UWRF juga akan kehadiran Nirwan Dewanto, penyair, esais, dan aktor yang semakin dikenal publik karena aktingnya memerankan seorang uskup Katolik dalam film biografis Soegija (2012).

Keberagaman dalam UWRF juga akan semakin terlihat dengan hadirnya Andreas Harsono yang meliput Indonesia untuk Human Rights Watch sejak 2008, bersama dengan Lala Bohang, seorang seniman visual.

Selain delapan nama pembicara nasional tersebut, UWRF juga mengumumkan delapan nama pembicara internasional tahap awal yang tidak kalah menarik. Mereka memiliki berbagai latar belakang yang berbeda, terdiri dari penulis, jurnalis, novelis, penasihat budaya, penasihat strategi global, pembawa acara podcast, hingga penulis makanan.

Behrouz Boochani, jurnalis, penasihat budaya, penulis dan pembuat film berdarah Kurdi-Iran. Jenny Zhang adalah penulis Cina-Amerika yang akan bergabung dengan penasihat strategi global sekaligus penulis, Parag Khanna.Hadir pula Tara June Winch, seorang novelis Wiradjuri, Novuyo Rosa Tshuma dari Zimbabwe-Amerika, pembawa acara podcast paling populer ABC, Richard Fidler dengan Susan Orlean, penulis buku terlaris The Library Book. Deretan nama pembicara internasional tahap awal ini ditutup oleh penulis makanan Inggris paling dicintai, Yotam Ottolenghi. Penulis buku makanan berjudul SIMPLE.

UWRF adalah Festival terbaik untuk bertukar ide, inspirasi, dan gagasan dari seluruh dunia. Para sastrawan, cendekiawan, seniman, pegiat, dan akademisi telah sama-sama saling membagi kisah dan suara hebatnya dalam Festival ini.

“Keragaman budaya dan seni selalu menjai yang utama dari UWRF, dan pembicara internasional dan nasional yang kami umumkan pada putaran pertama ini merupakan bukti akan hal tersebut,” komentar Founder & Diector UWRF Janet DeNeefe.

Ubud Writers & Readers Festival yang ke-16 akan diselenggarakan pada tanggal 23-27 Oktober 2019. Nama pembicara lengkap dan deretan program UWRF akan diumumkan pada tanggal 13 Agustus. Pada kesempatan ini pula, UWRF juga resmi meluncurkan tiket tahap awal (early bird) yang sudah dapat dibeli mulai 3 Juli – 2 Agustus mendatang. Para calon pengunjung Festival mempunyai kesempatan untuk menghemat sebesar 20% untuk pembelian 4-Day Pass dari harga reguler jika membeli tiket tahap awal (early bird) ini. Tiket tahap awal (early bird) ini tersedia untuk kategori Indonesia, Internasional, Residen, KITAS, ASEAN, dan Pelajar Internasional.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *