Sanur Village Festival (SFV) Tahun 2019, Angkat Tema Dharmaning Gesing

Sanur Village Festival (SFV) Tahun 2019, Angkat Tema Dharmaning Gesing

Buletin Dewata, Denpasar.

Sanur Villaga Festival (SFV) yang ke-14 tahun ini akan berlangsung pada 21-25 Agustus 2019 mendatang di Pantai Matahari Terbit, Sanur. Festival rakyat yang mengangkat potensi pariwisata di Desa Sanur Denpasar tahun ini akan mengangkat tema ‘Dharmaning Gesing’ atau dapat diartikan secara harafiah sebagai hal dalam memuliakan bambu.

Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS), Ida Bagus Sidharta Putra menyampaikan bahwa tema Dharmaning Gesing Sanur Village Festival bermaka sebagai bentuk penghormatan dan upaya untuk pendekatan kembali kepada unsur alam yang menjadi guru dan petunjuk bagi keselarasan hidup di muka bumi ini. Bukan saja berbicara tentang arti bambu secara materi, namun tema bambu bermakna sebagai kesadaran dan falsafah hidup seperti halnya bambu yang punya banyak manfaat dan fungsi yang patut dilestarikan.

“Tanaman bambu menjadi bahasan kesadaran filosofi bambu di Bali. Bambu merupakan salah satu jenis tanaman yang paling banyak digunakan mayarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari. Hampir di setiap upacara keagamaan, bambu pasti digunakan, baik daun maupun batangnya. Bambu juga menjadi salah satu unsur penting bangunan arsitektur adat Bali sehingga bagi masyarakat Bali, bambu memang memiliki filosofi kuat dan sangat mendalam,” terangnya, Senin (20/5).

Lebih jauh, pria yang akrab disapa Gusde ini menjelaskan bahwa sifat-sifat baik dan keunggulan bambu dibandingkan tanaman lainnya menjadi spirit dan semboyan hidup bagi masyarakat Bali. Bambu semasa kecil tumbuh tegak, namun saat tua akan merunduk. “Ini adalah lambang filosofi Hindu Bali yang selalu menjaga sopan santun. Disamping itu bambu juga memiliki sifat semakin lama semakin kuat, baik akar yang membentuk rumpun kesatuan maupun batangnya yang kuat,” imbuhnya.

Sebagai salah satu contoh, bambu yang dimanfaakan dalam sunari. Benda yang terbuat dari buluh bambu yang dilubangi dan dapat mengeluarkan suara saat diterpa angin. Dalam keyakinan Hindu Bali, sunari merupakan symbol Dewa Brahma, dan pada lengkungannya terdapat kera yang merupakan symbol maruti, yang berasal dari kata marut atau angin.

Sunari yang bentuknya bambu utuh menjulang tinggi ini erat kaitannya dengan akivitas dan budaya agraris. Sunari yang konon berarti sunar atau sinar memiliki makna sebagai penerang umat manusia dalam hidup dan kehidupan. “Konteks Sunari juga mendekatkan pada Sanur yang dulunya adalah wilayah agraris serta nama Sanur sendiri yaitu Saha Nuhur atau sinar suci yang dapat memberikan penerang bagi kehidupan,” pungkas Gusde.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *