Symposium dan Suksema Bali Night jadi Ajang Refleksi Terima Kasih untuk Bali di Penghujung Tahun 2018

0
Symposium dan Suksema Bali Night jadi Ajang Refleksi Terima Kasih untuk Bali di Penghujung Tahun 2018
Foto : panitia Suksema Bali saat melakukan audensi dengan Gubernur Bali Wayan Koster di rumah jabatan Jaya Sabha, Jumat (9/11).

Buletin Dewata, Denpasar.

Setelah sukses melaksanakan kegiatan akbar bersih-bersih pantai bertajuk World Clean Up Day (WCUD) pada 15 September 2018 lalu dengan melibatkan 27.000 peserta dari seluruh Bali, Suksema Bali akan kembali menggelar acara Symposium akbar dan Suksema Bali Night di penghujung tahun 2018. Hal ini disampaikan panitia Suksema Bali saat melakukan audensi dengan Gubernur Bali Wayan Koster di rumah jabatan Jaya Sabha, Jumat (9/11).

Ketua Panitia Suksma Bali, Yoga Iswara mengatakan rangkaian acara Suksma Bali di akhir tahun 2018 akan dimulai dengan pada 7 Desember dengan acara Symposium Suksema Bali yaitu ajang pertemuan (meet & Greet) antara host dan stake holder pariwisata di Bali dalam mewujudkan komitment dan kesinambungan pariwisata Bali yang lebih baik.

Selanjutnya, Suksema Bali yang didukung oleh Paiketan Krama Bali akan menggelar acara puncak pada tanggal 15 Desember 2018, yaitu Suksma Bali Night yang akan dihadiri 1000 peserta dari berbagai stakeholder pariwisata serta akan diadakan penyerahan Award kepada mereka yang berkontribusi nyata dalam upaya memajukan Pariwisata sekaligus menjaga alam dan budaya Bali.

Atas rangkaian rencana kegiatan tersebut, Gubernur Bali I Wayan Koster sangat mengapresiasi dan mendukung Suksma Bali, sebagai aksi merefleksikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada Bali melalui program Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan sebagai pengimplementasian visi Pemprov Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” yang berarti menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, termasuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia. “Budaya Bali merupakan Core dari Bali, sehingga menjaga adat dan budaya sebagai roh kehidupan masyarakat Bali harus kita lakukan secara serius dengan konsep yang lebih besar demi Bali yang keberlanjutannya”, tuturnya.

Sementara, Ketua PHRI Bali I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya yang sekaligus sebagai Ketua BPPD Badung dan Penasehat Panitia Suksma Bali mengatakan bahwa Bali telah menjadi barometer pariwisata nasional, bahkan sejak Tahun 2017 dimana pariwisata telah dicanangkan sebagai Core Business nasional. Peran Bali untuk nasional dinilai sangat signifikan sebagai daerah penyumbang devisa terbesar dari sektor industri pariwisata dan penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan dan perekonomian serta memberikan kontribusi yang besar pada suatu negara. Dengan hal tersebut, menurutnya sudah sepantasnya untuk bersama-sama berterima kasih untuk Bali. “Kata Suksma Bali memberikan arti yang penting serta mendalam. Dengan berterima kasih kita bisa lebih menghargai Bali itu sendiri, dan karena Bali itu berharga, maka kita harus menjaga Bali bersama-sama”, jelasnya.

Dukungan senada juga disampaikan Wakil Ketua DPP IHGMA, Ramia Adnyana, yang menerangkan bahwa IHGMA DPD Bali akan melakukan deklarasi “Say No To Plastic” tepat pada acara Symposium Suksma Bali, terutama pada berbahan plastik yang digunakan sekali pakai. Hal ini sebagai wujud nyata dalam menjaga Bali dari sampah plastik, serta bentuk sikap nyata mendukung program Gubernur dalam memerangi sampah plastik.

“Kami selaku GM di Bali dalam merefleksikan rasa terima kasih untuk Bali tercinta dan sekaligus menjaga eksistensi Bali yang berbudaya, berkualitas dan berkelanjutan. Bali adalah pulau kecil namun tidak bermakna kecil bagi masyarakat Bali dan Indonesia. Eksistensi Bali mampu memberikan kehidupan kepada masyarakatnya dan bahkan negaranya”, imbuhnya. Sedangkan Sekretaris Umum Paiketan Krama Bali Jro Mangku Suteja menilai secara hakekat keberadaan Bali secara spiritual di kosmik ini dipercaya merupakan tempat kunci bagi bumi pertiwi.(ram)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here