Diprotes di Medsos, GM Bandara Ngurah Rai Tegaskan Grab Hanya Sebagai Aplikator

Diprotes di Medsos, GM Bandara Ngurah Rai Tegaskan Grab Hanya Sebagai Aplikator
Foto : Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, Manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali memberikan keterangan resmi bersama, pada Selasa (24/12) siang.

Buletin Dewata, Denpasar.

Menanggapi isu yang beredar di jejaring sosial terkait keberadaan transportasi berbasis aplikasi beroperasi di Bandara I Gusti Ngurah Rai – Bali. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Gede Wayan Samsi Gunarta angkat bicara dan tegaskan bahwa perihal transportasi Angkutan Sewa Khusus (ASK) sudah diatur dalam Pergub Nomor 40 tahun 2019. Keberadaan Grab hanya sebagai aplikator penyedia aplikasi bukan menjadi operator transportasi. Hal tersebut ditegaskan dalam pertemuan klarifikasi dengan pengelola bandara setempat, Selasa (24/12)

Dalam sebuah unggahan dI laman jejaring sosial Facebook dengan nama akun Yogi Namaste tertanggal 21 Desember 2019, berkaitan dengan pemasangan spanduk angkutan online GRAB sebagai penutup gerai shelter lounge untuk land transportation yang masih dalam proses konstruksi. Keberadaan angkutan berbasis aplikasi tersebut pun dikhawatirkan berdampak terhadap penyedia layanan jasa transportasi konvensional yang telah beroperasi sebelumnya.

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Gede Wayan Samsi Gunarta menjelaskan bahwa shelter lounge tersebut akan dibangun Grab untuk seluruh operator online transport yang telah bekerjasama dengan PT Angkasa Pura I. Dan saat ini sudah ada beberapa opetator yang bekerjasama dan akan menggunakan aplikasi Grab. Keberadaan Grab sebagai aplikator sesuai dengan Pergub Nomor 40 tahun 2019dan juga PM nomor 118.

“Hal tersebut sudah diatur dalam Pergub Nomor 40 tahun 2019 tentang Layanan Angkutan Sewa Khusus Berbasis Aplikasi di Provinsi Bali, yang mana menghindarkan praktek-praktek transportasi ilegal dan tidak bertanggung jawab yang merugikan pariwisata dan budaya, sekaligus untuk melindungi usaha Krama Bali. Di sini, Pemerintah Provinsi Bali tentunya tidak melakukan pembiaran terhadap hal-hal yang dapat merugikan masyarakat Bali,” ujar Samsi Gunarta.

Dijelaskan pula bahwa Grab sebagai aplikator hanya menyediakan aplikasi bukan menjadi operator transportasi. Adapun sebagai operatornya adalah perusahaan atau koperasi yang saat ini telah bekerja sama dengan PT Angkasa Pura I. Dengan adanya aplikasi ini, maka koperasi tersebut yang sebelumnya beroperasi secara konvensional akan masuk ke dalam sistem aplikasi yang dapat memudahkan dalam proses kerja layanan transportasi darat.

Sementara itu, General Manager Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali, Herry A.Y. Sikado menegaskan kembali bahwa Grab hanya berfungsi sebagai penyedia aplikasi pemesanan layanan transportasi darat di bandara saja, bukan sebagai operator angkutan. Penggunaan aplikasi ini sudah merupakan kesepakatan antara PT Angkasa Pura I dengan lima operator penyedia jasa transportasi darat yang telah beroperasi saat ini di bandara.

“Hampir seluruh bandara di indonesia sudah menggunakan aplikasi. Ini kan satu proyek kita untuk peningkatan layanan, tidak ada yang lain. Apalagi sekarang semua kan sudah berbasis teknologi kan. Nah kalau misalnya kita tidak mengharapkan aplikasi, ada konvensional ada online, saya pikir nantinya pun juga akan ribut ya. Mendingan kita buatkan aplikasi sehingga memudahkan penumpang dan memudahkan juga para operator. Kapasitas kita untuk menampung land transportation juga sudah sangat terbatas,” tandas Herry.

Dijelaskan pula, bahwa sebelumnya pihak manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai telah membuka seleksi mitra usaha untuk aplikasi jasa transportasi darat berbasis aplikasi. Proses seleksi tersebut dilakukan secara transparan dan akuntabel, dimulai dari publikasi terkait pembukaan seleksi yang dilakukan di media lokal maupun nasional pada tanggal 19 September 2019 silam. Proses pendaftaran dilakukan secara online melalui website resmiwww.transport.baliairportselection.com, yang dapat diakses terhitung pada tanggal yang sama.

“Proses seleksi mitra usaha untuk transportasi berbasis aplikasi ini telah kami lakukan dengan serangkaian tahapan. Tentunya, sebelum memulai seluruh rangkaian tahapan, kami telah melakukan kesepakatan resmi dengan koperasi penyedia transportasi darat, yang hingga saat ini telah bekerja sama dengan kami selaku pihak pengelola bandar udara, yaitu Trans Tuban, Sapta Pesona, Loh Jinawi, Bali Segara, dan Koperasi Karyawan Angkasa Pura I (Kokapura). Koperasi tersebut memberdayakan warga dari desa adat penyangga di sekitar bandar udara, yaitu Desa Adat Tuban, Kelan, dan Kuta. Kesepakatan tersebut telah disepakati oleh seluruh pihak terkait yang telah diresmikan pada berita acara tertanggal 13 Juni 2019 lalu,” ungkapnya.

Pengembangan penyediaan aplikasi sendiri merupakan salah satu bentuk upaya dalam memberikan kemudahan dan pelayanan kepada seluruh pengguna jasa bandara serta untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah bagi operator transportasi darat. Dengan demikian penggunaan aplikasi yang disediakan oleh Grab tidak perlu dikhawatirkan akan membuka operator lain yang mengancam transportasi lokal yang ada.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *