Kejar Target Kunjungan Wisman, Citilink Perluas Konektivitas ASEAN

 

Kejar Target Kunjungan Wisman, Citilink Perluas Konektivitas ASEAN

Buletin Dewata.

Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI) untuk mendatangkan 20 juta wisatawan asing ke Tanah Air hingga akhir 2019. Guna mencapai target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Nusantara, tentunya diperlukan kemudahan aksesibilitas untuk menjangkau destinasi-destinasi di Indonesia dari luar negeri.

Setelah sebelumnya pada akhir Mei 2019 lalu, Kementerian Pariwisata RI meresmikan penerbangan langsung dari Kota Ho Chi Minh City (Kamboja)-Denpasar (Bali) oleh maskapai nasional Vietnam (VietJet), baru-baru ini giliran maskapai berbiaya hemat/low cost carrier (LCC) Citilink memperluas jaringan konektivitas regional untuk mendatangkan wisman dari negara ASEAN (Kamboja) ke Indonesia.

Seperti diketahui saat menghadiri peresmian rute Ho Chi Minh-Denpasar, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, Rizki Handayani mengatakan wisman yang datang ke Indonesia rata-rata 80% menggunakan jalur udara. Sehingga seat capacity moda transportasi udara menjadi kunci untuk meraih target tersebut.

“Sementara itu pertumbuhan maskapai full service rata-rata 12%, jauh dibawah LCC yang tumbuh rata-rata 21% per tahun. Maka LCC senjata ampuh untuk mendorong pertumbuhan jumlah wisman. Dimana maskapai berbiaya rendah ini menyumbang kontribusi peningkatan kunjungan wisman sebanyak 20%,” terang Rizki.

Maskapai nasional berplat merah ini terbang dari Kota Jakarta ke Kota Phnom Penh (Kamboja) pada akhir Juni 2019. Penerbangan yang dilayani tiga kali seminggu, yakni pada hari Senin, Rabu dan Jumat dengan menggunakan pesawat Airbus A320 berkapasitas sebanyak 180 penumpang.

VP Corporate Secretary Citilink Indonesia, Resty Kusandarina mengatakan, pembukaan rute penerbangan ini merupakan sejarah dalam hubungan diplomatik Indonesia dan Kamboja selama 60 tahun.

Resty menambahkan, bahwa penerbangan rute Jakarta – Phnom Penh ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif bagi 3.500 masyarakat Indonesia yang tinggal di Kamboja serta dapat membantu target pemerintah Indonesia untuk mendatangkan 10.000 wisatawan Kamboja menuju Indonesia pada tahun 2019.

Negara Kamboja kini tengah menjadi opsi pilihan favorit para wisatawan mancanegara ketika berwisata ke Asia Tenggara, tercatat sekitar 6,2 juta turis asing berkunjung ke negara tersebut. Sedangkan pada tahun 2018, sebanyak 55.000 masyarakat Indonesia mengunjungi Kamboja dan 8.000 masyarakat Kamboja mengunjungi Indonesia.

“Pemerintah sendiri saat ini sedang mengembangkan potensi pariwisata antara Kamboja dengan Indonesia melalui program heritage to heritage yang mengedepankan potensi budaya dan peradaban zaman dulu seperti Angkor Wat dan Candi Borobudur yang merupakan warisan yang telah diakui oleh dunia. Kami berharap adanya rute penerbangan ini dapat memaksimalkan upaya pemerintah dalam mengembangkan potensi wisata,” kata Resty.(blt)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *