Atasi Kendala Petani Kopi, Dinas TPHBun Bali Gelar Aksi Pengendalian OPT Kopi

0

Atasi Kendala Petani Kopi, Dinas TPHBun Bali Gelar Aksi Pengendalian OPT Kopi

Buletin Dewata, Tabanan.

Menghadapi persaingan global di bidang hasil produksi pertanian, para petani kopi Bali dituntut untuk menghasilkan produk yang selain bermutu tinggi, juga ramah lingkungan serta organik. Untuk itu kendala hama tanaman kopi yang menghambat kualitas dan kuantitas produksi Kopi di Bali harus dapat diatasi. Salah satunya lewat gerakan Pengendalian serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) kopi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (TPHBun) rovinsi Bali, Ir IB Wisnuardhana, Msi., menerangkan beberapa kendala yang menghambat peningkatan kualitas dan kuantitas hasil panen petani kopi di Bali adalah serangan hama Penggerek buah kopi (PBKo). Hampir 5 % kehilangan dari hasil panen biji kopi disebabkan serangan OPT kopi, belum lagi kerugian akibat penurunan mutu yakni biji kopi yang berlubang yang menurunkan nilai jualnya.

“Hama ini punya pengaruh langsung dan nyata terhadap penurunan produksi dan kualitas hasil biji kopi kita di pasaran, sehingga kerugiannya cukup besar. Kita harus bekerja bersama karena jika sendiri-sendiri hasilnya tidak akan maksimal, lakukan bersama-sama,” ujarnya dalam paparannya di acara gerakan pengendalian OPT tanaman kopi (Hama PBKo) di Desa Kebon Padangan, Banjar Kaliukir, Pupuan, Kabupaten Tabanan, Senin (15/4).

Wisnuardhana menyebut belakang ini para petani masih mengandalkan insektisida sintetik atau kimia yang ternyata jika dipergunakan secara terus menerus menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan sekitar. “Insektisida sintetik atau kimia berdampak pada pencemaran lingkungan, kontaminasi pada buah hingga menimbulkan resistensi pada beberapa jenis serangga. Selain itu, karena hama PBKo perkembangannya berada dalam buah kopi maka penggunaan insektisida bisa dikatakan tidak efektif,” terangnya.

Untuk itu, Dinas TPHBun Provinsi Bali bersama Kementrian Pertanian (Kementan) memperkenalkan perangkap feromon/atraktan yang lebih ramah lingkungan serta mudah dalam pengaplikasian. “Gerakan dan sosialisasi ini sebagai awal dari aksi pengendalian hama PBKo dengan menyasar 100 Ha lahan di Kabupaten Tabanan sehingga diharapkan mampu menekan hama sampai batas ambang nilai ekonomi,” imbuh Wisnuardhana.

Atasi Kendala Petani Kopi, Dinas TPHBun Bali Gelar Aksi Pengendalian OPT Kopi
Foto : Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (TPHBun) rovinsi Bali, Ir. IB Wisnuardhana, Msi, saat kegiatam gerakan pengendalian OPT kopi di Desa Kebon Padangan, Banjar Kaliukir, Pupuan, Kabupaten Tabanan, Senin (15/4).

Salah seorang petani setempat I Gusti Ngurah Made Karta mengapresiasi gerakan pengendalian hama PBKo yang digelar Dinas TPHBun dan Kementan. Ia mengakui jika selama ini memang penggunaan pestisida kimia terbukti menurunkan kesuburan tanah. Hewan-hewan menguntungkan seperti cacing misalnya sudah nyaris tidak tampak sehingga mengurangi kandungan humus.

“Tentu pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan juga bisa berguna untuk mengembalikan kondisi tanah. Selain itu, peremajaan tanaman kopi juga sangat penting dilakukan mengingat tanaman yang ada sekarang sebagian besar sudah berumur lebih dari 40 tahun. jadi otomatis tingkat produksinya tidak setinggi dahulu,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama Kepala Kasubdit Dirjen Perlindungan Perkebunan Kementrian Pertanian RI Ir Arsiah M.Si., meyakini dengan perlakuan dan perawatan yang lebih baik akan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi Indonesia dimana salah satunya adalah mengendalikan hama yang berpotensi menyerang tanaman kopi. “Harus kita akui masih banyak petani kita yang kurang merawat tanaman kopi, banyak terserang hama sehingga mengurangi potensi maksimal dari jumlah poduksinya,” tuturnya.

Arsiah juga menyebut bahwa gerakan pengendalian hama PBKo ini sangat penting mengingat lebih dari 18 juta penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor perkebunan. Kopi menjadi komoditas perkebunan utama yang dihasilkan indonesia terutama untuk komoditas ekspor.

“Sektor ini berperan besar dalam ekonomi pedesaan, menyumbang lebih dari 420 Triliun Rupiah untuk pendapatan negara. Kopi merupakan sebuah produk yang menjadi identitas suatu masyarakat di suatu daerah, bahkan Indonesia. Kopi bukan sekedar minuman, tetapi gaya hidup dan kultur yang berkembang turun-temurun di tengah masyarakat. Dan kini, Indonesia adalah penghasil kopi arabika terbaik di dunia dengan total jumlah produksi peringkat nomor 4 di dunia,” pungkasnya.(blt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here