Puslitbang Udara Bahas Peluang Pengembangan Transshipment Kargo Udara di Bandara Ngurah Rai Bali

0
Puslitbang Udara Bahas Peluang Pengembangan Transshipment Kargo Udara di Bandara Ngurah Rai Bali
Foto : Badan Litbang Perhubungan gelar Focus Group Discussion (FGD) di Discovery Kartika Plaza Hotel di Kuta-Bali, Kamis (29/11).

Buletin Dewata, Badung.

Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali memiliki potensi besar untuk pengembangan transshipment kargo udara. Membahas hal ini, Badan Litbang Perhubungan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Transportasi Udara menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di Discovery Kartika Plaza Hotel di Kuta-Bali, Kamis (29/11). FGD dhadiri oleh perwakilan dari instansi pemerintah serta pelaku industri di bidang kargo dan logistik.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Litbanghub) Sugihardjo disela membuka Fogus Group Discussion (FGD) dengan tema “Kajian Pengembangan Transshipment Kargo Udara di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, Bali” menyampaikan salah satu jenis dari bisnis kargo udara adalah transshipment, atau dalam istilah kepabeanan dikenal sebagai kargo angkut lanjut. Berbeda dengan impor di mana kargo dikenakan clearance untuk pengeluaran dan pemeriksaan masuk. Kargo transshipment hanya singgah di bandara, untuk kemudian berangkat lagi. Alasan paling umum dilakukannya transshipment adalah skala ekonomi, dimana praktik yang dilakukan selama ini adalah menyinggahkan kargo ke bandara transit, kemudian dikumpulkan dan dikirimkan kembali dengan pesawat ke bandara tujuan akhir.

Dari hal tersebut, Bali dinilai memiliki peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan angkutan kargo. Bandara I Gusti Ngurah Rai, memiliki berbagai kelebihan yakni terdapat captive supply dari sisi angkutan pesawat langsung dari sisi selatan (Oseania), utara (Jepang, Korea Selatan, China), dan timur tengah (Uni Emirat Arab). Analisis menunjukkan bahwa pengiriman kargo dari Australia ke Jepang melalui Bali memiliki keunggulan waktu dibandingkan lewat Singapura. Dilihat dari sisi kapasitas pun juga memadai karena kapasitas belly pesawat di Ngurah Rai sebesar 2.000 ton/hari dan baru dimanfaatkan sebesar 150 ton/hari saja, atau utilisasinya hanya sekitar 6%.

Sebagai regulator maka peran Kemenhub tidak hanya menentukan regulasi, namun juga mengontrol operator dalam melaksanakan target yang sudah ditetapkan. Permintaan kargo di Bali harus diupayakan secara mandiri oleh operator terminal kargo. Selain operator, keberhasilan pengembangan transshipment kargo udara di Bali harus didukung oleh semua pihak, pemerintah dan penyedia jasa logistik. “Dengan memperhatikan manfaat besar yang dapat diperoleh dari aktivitas kargo udara termasuk transshipment, perlu mempertimbangkan potensi Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai untuk didorong menjadi bandara hub kargo udara internasional.” ujar Sugihardjo.

Diakui Sugiharjo, sampai dengan saat ini penikmat bisnis kargo transshipment adalah Bandara Changi, Singapura. Dengan posisinya yang strategis, ditambah dengan berbagai macam aktivitas penciptaan nilai tambah seperti pelabelan, pengemasan, dan kustomisasi, Singapura memiliki pangsa pasar kargo udara terbesar di Asia Tenggara. Berbeda dengan Indonesia, praktik transshipment belum banyak ditemui, jika ditinjau dari sisi geografis, Indonesia tidak kalah dari Singapura. “Transshipment dari Singapura, tentu saja terdapat potensi yang besar dari kargo-kargo domestik, di antaranya adalah produk perikanan dan pertanian. Selain fasilitas dasar, aktivitas nilai tambah seperti di Singapura tentu harus menjadi perhatian lebih, agar maskapai dan forwarder memiliki insentif untuk pindah dari Bandara Changi ke Bandara I Gusti Ngurah Rai, ” imbuhnya.

FGD yang membahas pengembangan transshipment kargo udara di Bali diharapkan dapat menghimpun masukan, inovasi, dan terobosan terbaik untuk peningkatan angkutan kargo melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai. FGD menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya Dosen Teknik Industri ITB, Rully Tri Cahyono, M.T.; Kepala Seksi Tata Lingkungan dan Kawasan Bandar Udara (IV) Ditjen Perhubungan Udara, Dr. Jermanto Setia; Kepala Seksi Perizinan dan Fasilitas I Kantor Wilayah Ditjen Bea dan Cukai Bali, NTB, dan NTT (III), Erna Rahayu; Cargo and Aeronautical Business Support Senior Manager PT. Angkasa Pura I, Priyantoro dan; Direktur Terminal Kargo dan Regulated Agent PT. Angkasa Pura Logistik, Akhmad Munir.(kat/blt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here