LESUNYA PARIWISATA BERIMBAS TERHADAP KEBUTUHAN GAS LPG HOTEL DAN RESTORAN DI BALI

LESUNYA PARIWISATA BERIMBAS TERHADAP KEBUTUHAN GAS LPG HOTEL DAN RESTORAN DI BALI

Buletindewata.com, Denpasar.

Aktivitas erupsi Gunung Agung selain berdampak pada industri pariwisata juga mempengaruhi penyaluran dan serapan bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji. Serapan konsumsi BBM di Pulau Bali turun 20 persen sejak Gunung Agung mengalami erupsi. Sedangkan permintaan gas elpiji untuk semua ukuran pun anjlok hingga mencapai 30 persen dibandingkan saat belum terjadi erupsi.

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan gas Bumi (Hiswana Migas) Bali, Ida Bagus Rai saat ditemui di Denpasar beberapa waktu lalu menyatakan penurunan permintaan LPG yang paling signifikan terjadi di Karangasem dan Badung yang merupakan daerah pariwisata. Menurutnya, erupsi Gunung Agung yang mengakibatkan penurunan kedatangan wisatawan memicu berkurangnya kebutuhan LPG di sektor perhotelan dan restoran.

Gus Rai mengatakan penggunaan LPG untuk hotel dan restoran dalam hal memberikan pelayanan makanan dan minuman kepada wisatawan ini cukup tinggi. “Karena kondisi Gunung Agung turis menurun. otomatis berpengaruh pada konsumsi gas elpiji. Denpasar masih oke,” katanya.

Berkurangnya permintaan kata dia membuat stok LPG pun aman dan berlimpah. Dikatakan Gus Rai stok LPG yang ada sekarang ini mampu untuk memenuhi kebutuhan akhir tahun.

Manager Communication and CSR Pertamina MOR V, Rifky Rakhman mengatakan dampak Gunung Agung terhadap penyaluran LPG 3 kilogram terjadi penurunan pada November 2017 sebanyak 5 persen dari rata-rata konsumsi harian normal.

Sementara itu, Sales Eksekutif Retail IX Pertamina Bali, Aris Irmi menyebutkan konsumsi normal BBM di Bali dalam satu hari mencapai antara 2.700 hingga 3000 kiloliter (KL). Namun sejak Gunung Agung naik menjadi status awas konsumsi BBM terutama di wilayah Karangasem mulai terjadi penurunan. Hal itu dikarenakan adanya imbauan untuk mengungsi ke beberapa wilayah yang aman. “SPBU yang berada di lokasi terdampak juga tutup,” cetusnya.

Dikatakan Aris setelah Gunung Agung erupsi dan berdampak pada penutupan operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga 2,5 hari yang mengakibatkan turunnya kedatangan wisatawan. “Pengaruh terbesarnya, karena wisatawan yang datang ke Bali menurun darastis. Transportasi yang jalan juga berkurang otomatis pemakaian bahan bakar juga sedikit,” beber Aris.

Rata-rata penjualan semua produk BBM milik Pertamina dalam satu hari mencapai Rp 18 miliar jika harga BBM rata-rata Rp 6000. Dengan penurunan sebanyak 20 persen, saat ini penjualan BBM turun Rp 3 miliar menjadi Rp 15 miliar perhari.(bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *