PASCA MEREBAKNYA VIRUS MSS, OMZET PENJUAL BABI GULING MASIH AMAN

Buletindewata.com, Badung.

Meskipun jumlah korban yang terjangkit meningitis yang disebabkan oleh bakteri meningitis streptococus suis (MSS) yang ditularkan melalui konsumsi daging babi yang kurang matang, namun hal tersebut tidak membawa dampak terhadap omzet pedagang nasi Babi Guling.

Dari pantauan, di beberapa pedagang nasi Babi Guling di Denpasar dan beberapa tempat lainnya masih tetap berjualan seperti biasa. Bahkan beberapa tempat menyatakan jika omzet penjualannya masih normal.

Putu Tina, salah seorang penjual Nasi Babi Guling di Jalan Raya Bringkit ketika ditemui Minggu kemarin, mengatakan jika adanya kasus MSS yang ditularkan oleh daging babi kepada manusia sejak beberapa waktu lalu hingga Minggu kemarin tidak membawa dapak terhadap omzet penjualan nasi babi guling miliknya. “Memang saya dengar kabar tersebut, tapi sampai saat ini pelanggan yang dating masih normal dan kasus tersebut tidak berdampak pada omzet kami,” jelasnya.

Meskipun jumlah pasien yang terjakit sudah cukup banyak dan sudah ada himbauan dari Pemprov Bali memlalui Dinas Kesehatan Provinsi Bali, namun Tina mengaku hingga saat ini pihaknya belum mendapat pemberitahuan secara resmi terkait adanya himbauan tersebut. “Hingga saat ini belum ada pembeitahuan secara resmi terkait adanya himbauan dari DInas Kesehatan, kami hanya tahu dari media massa,” jelasnya.

Meskipun belum mendapat himbauan secara resmi, Tina mengaku pihaknya tetap berhati-hati dalam mengolah daging babi, untuk bahan makanan yang dijualnya. Selain itu Tina mengaku tetap berhati-hati dalam memilih babi yang akan digunakannya.

Untuk babi guling, Tina mengatakan proses pematangannya dilakukan dengan menggunakan oven, sehingga daging babinya benar-benar matang, selain itu untuk lawar, pihaknya tidak menyediakan lawar merah. “Untuk lawar, dari dulu kami memang tidak sediakan lawar merah, selain banyak yang tidak suka, lawar ini juga cepat basi, sehingga kami tidak sediakan,” papar pedagang yang per harinya bias menghabiskan satu ekor babi ukuran besar ini atau setara dengan Rp 2,8 juta.

Senada Tina, Ketut Suci pedagang Nasi Babi guling lainnya juga mengakui hal yang sama, menurut Suci, sejak adanya kasus MSS yang ditularkan melalui daging babi kepada manusia sejak beberapa hari lalu, hingga saat ini tidak berdampak pada omzet usahanya.

Diakui Suci, per harinya pihaknya mampu menjual sebanyak 150 porsi nasi babi guling dengan harga per porsi mencapai Rp 20 ribu. “Untuk penjualan masih normal, per harinya bias mencapai 150 porsi, kalau hari Minggu bias mencapai 180 porsi,” ungkapnya.(buleta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *