KOPI BALI TERHAMBAT PEMASARAN

images-8

Buletinbali.com, Denpasar.

– Kopi Bali saat ini tidak saja menjadi komoditi andalan para petani kopi di Bali, namun kopi Bali juga menjadi salah satu komoditi ekspor Bali, bahkan di pasar internasional eksistensi kopi Bali sangat bagus karena termasuk salah satu dari lima kopi terbaik di dunia.

Meskipun eksistensi kopi Bali di pasar internasional sangat bagus, namun para petani Bali tidak serta merta bisa menikmati keuntungan tersebut. Pasalnya para petani kopi yang ada di Bali masih terkendala dalam pemasaran produknya, khusunya untuk pasar internasional dan pasar pariwisata.

Made Mangku Putra, Petani Kopi dari Agro Giri Alam Kintamani ketika ditemui Selasa kemarin di Denpasar, mengungkapkan jika saat ini eksistensi kopi Bali di pasar internasional tidak diragukan lagi. Namun hal ini diakuinya tidak membawa keuntungan langsung bagi petani kopi. Pasalnya untuk memasarkan kopinya, tidak bisa dilakukan secara langsung karena akses pemasarannya sangat sedikit. “Kendala kami saat ini adalah belum adanya akses pemasaran, sehingga kami sebagai petani harus rela kopi kami dibeli secara curah,” jelasnya.

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab para petani kopi di Bali tidak bisa mengakses pasar pariwisata ataupun pasar internasional secara langsung untuk memasarkan kopinya, mulai dari cara mengemas produk hingga branding produk.

Branding produk ini diakui Mangku sangat penting, karena dengan adanya branding produk, maka produk tersebut bisa dengan mudah bersaing di pasar internasional. “Selain itu dengan kita memiliki brand produk, maka produk kita tidak bisa dipatenkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” lanjutnya.

Senada dengan Mangku Putra, Made Arthawati, petani kopi asal Kecamatan Petang Kabupaten juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya untuk memperkenalkan kopi Bali di kancah internasional, petani Kopi Bali masih terkendala oleh kases pemasaran. “Jangankan untuk menjangkau pasar internasional, untuk menjangkau pasar pariwisata di Bali saja, kami belum mampu karena keterbatasan akses,” jelasnya.

Untuk itu, baik Mangku maupun Arthawati berharap pemerintah tidak saja membantu petani dalam hal mekanisme pertanian saja, tetapi juga membantu untuk membukakan akses pemasaran, sehingga para petani Kopi di Bali tidak tertinggal dari segi pemasaran produk.

Sementara itu, dari data Dinas Pertanian Provinsi Bali, hingga semester I tahun 2016, perdagangan Kopi Bali ke pasar internasional mencapai 12,68 ton, dari total ekspor tersebut, andil kopi perkebunan yang dipasarkan di pasar luar negeri hanya mencapai 0,22 persen dari total ekspor Bali.(bude)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *