Layanan Cuci Otak Ada di RS Sanglah, Menkes Terawan Tinjau SDM dan Alat

Buletin Dewata, Denpasar.

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menilai Layanan DSA (Digital Subtraction Angiography) atau yang umum dikenal sebagai layanan cuci otak untuk kasus stroke sangat tepat untuk diterapkan di Indonesia. Dengan SDM dan alat yang sudah sangat siap, beberapa RS di Indonesia sudah menerapkan terapi cuci otak.

“Ya Jelas cocok diterapkan. Murid saya ada dimana-mana dan surat Menkes (sebelumnya) pun ada. Jadi artinya objektif riset by service. Sama dengan pelayanan yang lain terus dikembangkan,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Letjen TNI (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K), ditemui usai menjadi keynote speaker pada acara seminar sehari Cerebrovasculer Service Update di RSUP Sanglah, Sabtu (28/12).

Terawan menamnbahkan, soal standar penerapannya ditentukan oleh kepala rumah sakit masing-masing. Sebab tanpa niat dan komitmen untuk memberikan layanan ini kepada masyarakat, tentu hal ini akan menjadi percuma dan mangkrak. Dinilainya, RSUP Sanglah Denpasar nantinya juga akan siap menyediakan layanan terapi cuci otak.

Ya jelas, eman-eman kan banyak temen-temen yang sudah siap, harus ada komitmen kalau mau ada alat yang bisa digunakan untuk masyarakat. Sekarang tinggal niat dan kesungguhan dari rumah sakit untuk menyediakan layanan DSA ini. Percuma kalau ada anggaran tetapi tidak ada niat,” imbuhnya.

Layanan Cuci Otak Ada di RS Sanglah, Menkes Terawan Tinjau SDM dan Alat
Foto : Menkes, Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K), pada acara seminar sehari Cerebrovasculer Service Update di RSUP Sanglah, Sabtu (28/12).

Disinggung mengenai pembiayaan layanan terapi cuci otak ini, dikatakan bahwa tidak sepenuhnya akan ditanggung BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan merupakan asuransi kesehatan untuk pelayanan dasar kesehatan. Untuk itu, pihaknya meminta untuk menyesuaikan dengan anggaran BPJS yang ada, apabila semuanya dimasukkan dalam BPJS akan meruntuhkan kemampuan rumah sakit tersebut. Terlebih kemampuan bayar masyarakat mampu di Indonesia masih besar.

”Tidak semua layanan kesehatan ditanggung BPJS. Tentu disesuaikan dengan budget. Kalau semua dimasukkan, akan meruntuhkan kemampuan rumah sakit. Jangan sampai layanan kesehatan yang harusnya bisa dibayar masyarakat mampu justru didanai dari iuran untuk masyarakat miskin,” tuturnya.

Sementara itu, Firman Parulian Sitanggang selaku Kepala Radiologi RSUP Sanglah sekaligus penanggung jawab terapi cuci otak dengan DSA mengungkapkan bahwa alat maupun SDM nya pun sudah ada. Terhitung sejak tahun 2010, pihaknya sudah menjalankan metode tersebut. Setiap minggu, ada sekitar 3 sampai 4 pasien menjalani terapi tersebut. Diakui, selama ini belum ada pasien yang gagal atau terkena komplikasi sebagai efek samping.

“Banyak pasien ke sini yang sudah setahun. Seperti dikatakan Pak Menteri yang penting adalah kualitas hidupnya bisa ditingkatkan. Misalnya dari enggak bisa angkat tangan, bisa diangkat, enggak bisa berdiri jadi bisa berdiri. Biasanya 6 bulan lagi kita DSA lagi akan lebih baik lagi. Fisioterapi harus dikerjakan sehingga latihan ototnya akan lebih bagus. Selama saya menangani masih aman – aman saja,” tandasnya.

Dari hasil kunjungan, Menkes Terawan menyatakan akan memperbaiki satu unit peralatan DSA RSUP Sanglah yang sedang rusak. RSUP Sanglah mematok biaya Rp 15-17 juta untuk sekali tindakan terapi cuci otak menggunakan DSA. Pasien yang berkunjung mulai dari usia dewasa hingga lansia. Diharapkan ke depan bisa menjadi layanan unggulan RSUP Sanglah.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *