Insiden Penurunan Penumpang JetStar JQ-36 di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali Bukan Karena SARA

Insiden Penurunan Penumpang JetStar JQ-36 di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali Bukan Karena SARA
Foto : Rombongan penumpang maskapai JetStar.

Buletin Dewata, Badung.

Sebanyak 21 penumpang diturunkan dari pesawat JetStar JQ-36 dengan rute penerbangan Denpasar menuju Melbourne, Australia, pada Minggu, tanggal 03 Nopember 2019 malam. Kejadian tersebut sontak menjadi bahan pemberitaan di sejumlah media, seperti dalam pemberitaan yang dilansir dari portal berita OkeMuslim, 7News, DailyMail, serta sejumlah media lain, yang menyebutkan bahwa insiden penurunan penumpang berkaitan dengan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan).

Membantah pemberitaan yang tidak benar, Communication and Legal Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali, Arie Ahsanurrohim, pun angkat bicara dan menjelaskan tentang kronologi kejadian. Dikatakan, saat itu pesawat JetStar bernomor penerbangan JQ-36 sedang melakukan pushback di area apron menuju taxiway untuk segera lepas landas. Dalam situasi demikian, seluruh penumpang dan awak kabin pesawat diharuskan duduk di kursi masing-masing dan mengencangkan sabuk pengaman demi keselamatan dan keamanan penerbangan.

Dari instruksi yang disampaikan awak kabin pesawat, terdapat 2 orang penumpang yang bersikeras untuk tetap berdiri. Sikap dari kedua penumpang yang membandel tersebut, berawal dari keluhan karena tidak menyalanya fasilitas layar monitor (in-flight entertainment) di depan kursinya. Awak kabin pun menyampaikan akan menangani keluhannya setelah pesawat mengudara, serta saat lampu tanda sabuk pengaman telah dipadamkan. Namun diketahui, penumpang yang bersangkutan tidak terima dengan tetap berdiri dan tidak mengindahkan instruksi dari awak kabin.

“Setelah peringatan tidak diindahkan oleh penumpang bersangkutan, awak kabin pun melaporkan kejadian ini kepada pilot. Pilot kemudian memutuskan untuk kembali ke parking stand nomor 25, dan selanjutnya menurunkan kedua penumpang ini dari pesawat. Istilahnya, penumpang ini adalah unruly passenger atau penumpang yang tidak mengindahkan instruksi keselamatan yang berpotensi membahayakan diri sendiri, penumpang lain, serta penerbangan itu sendiri,” ujar Arie Ahsanurrohim, Rabu (13/11).

Dijelaskan Arie juga, bahwa selama proses penurunan kedua penumpang, ada sebanyak 19 penumpang lain yang menjadi satu rombongan dengan kedua penumpang tersebut ikut serta melakukan protes kepada awak kabin. Dan akhirnya pilot memutuskan untuk menurunkan juga 19 penumpang protes tersebut.

Setelah diturunkan dari penerbangan JQ-36, sebanyak 21 penumpang tersebut akhirnya diberangkatkan kembali ke Melbourne pada Senin, 04 Nopember 2019 malam. “Jadi, saya rasa sudah sangat jelas bahwa alasan penurunan sejumlah penumpang dari pesawat JQ-36 adalah murni karena alasan unruly passenger, dan sangatlah tidak benar jika dikaitkan dengan alasan SARA,” tegas pria yang berparas brewok ini.(rhn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *