Wayan Koster : Kunjungan Wisatawan ke Bali karena Anugerah Perlu Kebijakan Tata Kelola Pariwisata

Wayan Koster : Kunjungan Wisatawan ke Bali karena Anugerah Perlu Kebijakan Tata Kelola Pariwisata
Foto : Gubernur Bali Wayan Koster (tengah) bersama Wagub Cok Ace dan para pelaku pariwisata Bali saat launching program Great Bali Xperience (GBX) di Hotel Puri Santrian, Sanur, Denpasar, Sabtu (28/9).

Buletin Dewata, Denpasar.

Selama ini kalangan pariwisata dan pemerintah dinilai berada di zona nyaman, sehingga lalai untuk menyiapkan tata kelola kepariwisata yang andal dan siap terhadap berbagai tantangan kedepan. Kunjungan wisatawan ke Bali selama ini dinilai merupakan sebuah anugerah semata, bukan dari tata kelola yang baik.

“Di Bali ini mungkin kita terlalu di zona nyaman dan sudah kelamaan lantas lupa, sampai terjadi sesuatu baru sadar, itulah yang terjadi sebenarnya. Selama ini kunjungan wisatawan yang diterima Bali lebih banyak dari faktor anugerah kebesaran Ida Hyang Widhi, sedikit yang karena faktor policy. Orang berwisata ke Bali ini sudah hampir bosan, syukurnya belum ada yang menyaingi dari sisi budayanya,” kritik Gubernur Bali, Wayan Koster di hadapan stake holder dan pelaku pariwisata Bali saat peluncuran Great Bali Xperience (GBX) di Hotel Puri Santrian, Sanur-Denpasar, Sabtu (28/9).

Wayan Koster mengingatkan bahwa dunia pariwisata itu sangat sensitif terhadap berbagai isu seperti isu politik, ekonomi, dan sebagainya, serta regulasi yang diberlakukan. Untuk itu pengelolaan pariwisata Bali menurutnya harus memiliki sistem yang handal dengan risk management dan mampu diterapkan secara berkelanjutan.

“Saya kira ini semua harus menjadi pemahaman yang dalam tentang bagaimana kita mengelola dengan pariwisata yang tepat, tidak dengan cara konvensional. Itu semua bisa dibuat tata kelolanya dengan risk managementnya supaya kita memiliki suatu sistem yang betul – betul handal dan berkelanjutan. saya tidak suka melakukan sesuatu yang sporadis dan temporary,” paparnya.

Lebih lanjut, Wayan Koster pun ingin mengajak berpikir tentang pariwisata Bali secara menyeluruh dari hulu sampai hilir menyangkut semua aspek dengan membaca gelagat pariwisata, baik gelagat internal maupun eksternal, dan gelagat yang siklusnya terjadi secara alami yaitu saat pariwisata sepi maupun ramai wisatawan.

“Pola itu sudah terjadi setiap tahun, maka harus ada jurus disaat siklus (wisatawan) sepi dan apa manuvernya, begitu juga disiklus yang ramai juga melakukan yang terbaik, jangan malah keasikan,” tandas Koster seraya mengingatkan tentang adanya perubahan ekonomi global yang dapat berpengaruh terhadap pariwisata.”Salah satu yang harus dipikirkan dari sekarang adalah perubahan ekonomi global, terutama yang menjadi sumber wisata kita, sehingga kalau terjadi gejolak ekonomi disana apakah berpengaruh terhadap pola ekonomi orang dalam berwisata,” imbuhnya.

Dikatakan, Gubernur Bali Wayan Koster saat ini tengah merumuskan tentang sistem pengelolaan Bali sehingga kedepan pariwisata Bali mampu bersaing dengan pariwisata di negara lainnya, seperti Singapore dan Malaysia. “Saya akan bangun pondasi Bali untuk bersaing. Saya akan bangun seluruh jaringan untuk menopang Bali. inilah yang mau saya dedikasikan untuk Bali kedepan. Tugas saya sebagai gubernur harus hadir dengan kebijakan yang diperlukan,” tuturnya.

Koster mengakui akan lebih dahulu merampungkan pembangunan infrastruktur Bali meliputi pembangunan short cut jalur Denpasar – Singaraja. Selanjutnya dirancang jalur logistik dari Jembrana ke Karangasem melalui jalur Buleleng, sedangkan dari Jembrana ke Denpasar di pilih sebagai jalur wisata. Jalur Prof I.B Mantra akan disambung sampai ke Jembrana dengan konektivitas tengah antar kabupaten secara menyilang. Begitu pun dirancang jalur kereta api lingkar Bali dengan lebih dulu membangun jalur ke arah utara – selatan Bali.

Terkait jalur perairan, Wayan Koster akan menuntaskan pembangunan Dermaga Tanah Ampo dan jalur laut Denpasar – Nusa Penida – Nusa Lembongan. ” Tahun 2020 sudah saya anggarkan. Itu masuk dalam rancangan laut darat dan udara. Klo Bandara Ngurah Rai saya tutup mata karena dari regulasi sudah clear,” katanya.(blt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *