Pilot Komplain, Layang – Layang dan Sinar Laser Ganggu Penerbangan di KKOP Bandara Ngurah Rai Bali

Pilot Komplain, Layang - Layang dan Sinar Laser Ganggu Penerbangan di kkop Bandara Ngurah Rai Bali
Foto : Kepala Seksi Pengoperasian Bandar Udara Kantor Otoritas Bandara Wilayah IV, Ketut Martim.

Buletin Dewata, Badung.

Bermain layang-layang, drone, balon udara, dan laser ternyata dapat menimbulkan gangguan bagi penerbangan. Masyarakat di wilayah kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) pun diimbau tidak melakukan aktivitas yang mengancam keamanan dan keselamatan penerbangan.

Kepala Seksi Pengoperasian Bandar Udara Kantor Otoritas Bandara Wilayah IV, Ketut Martim mengatakan selama tahun 2018 hingga 2019, terdapat cukup banyak gangguan yang terjadi di KKOP Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

“Gangguan penerbangan di bandar udara pada 2018 ada sebanyak 33 komplain dari pilot, sedangkan untuk tahun 2019, hingga awal Agustus ini sudah ada 11 komplain. Kebanyakan komplim itu disebabkan layang-layang dan laser,” ujar Martim dtemui usai menggelar kampanye sosialisasi bahaya obyek asing terhadap keamanan dan keselamatan penerbangan di Kantor Kecamatan Kuta Selatan, Kamis (8/8).

Dituturkan Martim pada tahun 2018 lalu, telah terdapat insiden penerbangan, dimana helikopter terlilit tali layang-layang. Pernah pula didapati drone yang terbang di Daerah Keamanan Terbatas (DKT) sangat berisiko membahayakan operasional pesawat dan penumpang. Selanjutnya, sinar laser dengan intensitas tinggi yang ditembakkan ke udara di sekitar bandara akan mengganggu pandangan visual dari pilot sehingga sangat membahayakan keselamatan penerbangan.

Keamanan dan keselamatan penerbangan menurut Martim, bukan semata-mata tugas dari pengelola bandara, tetapi juga menjadi tanggung jawab dari peran serta masyarakat luas. Pada pasal 210 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, menyebutkan bahwa setiap orang dilarang membuat halangan atau obstacle di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), kecuali memperoleh izin dari Otoritas Bandara.

Pasal 421 menyebutkan bahwa setiap orang yang membuat halangan (obstacle) dan melakukan kegiatan lain di KKOP yang membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan terancam dipidana hukuman penjara paling lama tiga tahun, dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah.

“Dengan sosialisasi tentang bahaya terhadap keamanan dan keselamatan penerbangan, kami berharap masyarakat akan memiliki pemahaman yang lebih akan standar keamanan dan keselamatan penerbangan, sehingga insiden dan kejadian gangguan atau obstacle, di kawasan bandar udara dapat diminimalisir, atau bahkan dihilangkan,” imbuh Martim.

Arie Ahsanurrohim selaku Communication and Legal Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali mengakui Bandara setempat berlokasi di area yang padat penduduknya.

“kami selaku pengelola bandar udara memandang perlu untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas secara langsung, tentang pentingnya standar keamanan dan keselamatan penerbangan,” ujar Arie.

Meskipun bermain layang-layang menjadi salah satu hobi bagi warga pulau Dewata lewat festival layang-layang, namun masyarakat diimbau untuk mendapat rekomendasi terlebih dahulu terkait apakah zona di wilayah tersebut masuk kategori KKOP atau tidak.

Menyikapi hal itu, Camat Kuta Selatan, I Made Widiana pun mengimbau warganya untuk memahami dan mematuhi aturan eselamatan penerbangan.“Kalau kita melanggar peraturan itu maka kita di satu sisi kena dampak hukumnya dan satu sisi juga membahayakan keselamatan penerbangan. Mari kita taati untuk kepentingan bersama,” pungkasnya.(rhd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *