Menang di MA Gubernur Bali Ajak Daerah Lain Berani Buat Peraturan Sampah Plastik

Menang di MA Gubernur Bali Ajak Daerah Lain Berani Buat Peraturan Sampah Plastik
Foto : Gubernur Bali Wayan Koster saat konfetensi pers di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Kamis (11/7).

Buletin Dewata, Denpasar.

Gugatan terhadap Peraturan Gubernur (Pergub) Bali tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai yang diajukan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) akhirnya ditolak Mahkamah Agung (MA). Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat konferensi pers di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Kamis (11/7).

“Ini artinya, kebijakan Gubernur yang membatasi timbulan sampah plastik sekali pakai lewat Pergub 97 Tahun 2018 memiliki posisi hukum yang kuat dan sah berlaku di seluruh Bali. Maka dengan keluarnya Putusan Mahkamah Agung ini pula semua pihak wajib mematuhi dan melaksanakan keseluruhan isi dari Pergub ini, untuk menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya sesuai dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru,” tegas Koster.

Gubernur Wayan Koster pun menyarankan agar para penggugat mulai mempertimbangkan untuk beralih usaha dengan usaha lain yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. “Jadi jangan lagi dengan bahan yang sama. Sebenarnya dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki, pengusaha ini bisa beralih bahan baku usaha yang tidak menimbulkan masalah lingkungan,” ujarnya.

Diungkapkan pula, ketika permohonan uji materi terhadap Pergub 97 diajukan oleh termohon Asosiasi Daur Ulang Plastik Inonesia (ADUPI) Didie Tjahjadi yaitu pelaku usaha perdagangan barang dari kantong plastik dan Agus Hartono Budi Santoso yang pelaku usaha industri barang dari plastik, banyak pihak yang memberi dukungan, simpati, dan membela kebijakan Pemerintah Provinsi Bali, mulai dari Pemerintah Pusat, para aktivis lingkungan hidup dari berbagai Negara, dan pemerhati kebijakan publik.

“Oleh karena itu atas nama Pemerintah Provinsi Bali dan krama Bali, kami memberikan penghargaan dan ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah menunjukkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan alam. Saya mengundang semua pihak yang telah berpartisipasi dan memberikan dukungan untuk bertatap muka langsung supaya saya mengenal Beliau-Beliau itu yang punya komitmen yang kuat, dedikasi yang kuat dalam membela alam yang bersih ini,” ucapnya.

Wayan Koster pun meyakinkan dan mengajak pemerintah daerah lain di seluruh Indonesia agar tidak perlu ragu dan takut untuk membuat regulasi atau kebijakan yang sama. Yakni, untuk mewujudkan alam Indonesia yang bersih, hijau, dan indah serta bebas dari timbulan sampah plastik sekali pakai.”Ini langkah awal untuk memperluas kebijakan dalam pelestarian lingkungan, tidak saja plastik sekali pakai, tetapi termasuk unsur-unsur yang menjadi bagian sampah yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, yang membuat alam ini tidak bersih,” tandasnya.

Terkait adanya kekhawatiran dengan perberlakuan Pergub pembatasan sampah plastik sekali pakai akan berimbas terhadap perekonomian Bali secara menyeluruh seperti penurunan daya jual dan sebagainya, menurut Koster tidak perlu dikhawatirkan. Justru sebaliknya malah akan menjadi lahan tumbuhnya industri kreatif baru yang dapat menjadi peluang bagi masyarakat Bali untuk dikembangkan. “Sekarang banyak tumbuh industri kreatif baru, semisal industri sedotan, piring, sendok, tas, dan sebagainya selain yang berbahan plastik. Ini patut dikembangkan,” imbuh Koster.

Dalam kesempatan itu, Koster juga mengatakan dalam waktu dekat akan mengeluarkan Pergub tentang pengelolaan sampah yang harus selesai di sumber atau hulunya, sehingga tidak perlu lagi dibuang banyak-banyak ke tempat pembuangan akhir. “Sampah itu dihasilkan dari berbagai sumber. Oleh ibu rumah tangga, industri, kelompok masyarakat, rumah sakit, sekolah, pasar, di mana-mana. Nanti siapa yang menghasilkan sampah, dia yang mengelola. Dibuatkan aturannya, SOP-nya, insentif dan disinsentifnya,” jelasnya seraya menjelaskan pengelolaan sampah akan dibuat bertingkat dan akan dipilah antara sampah organik dan anorganik.(rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *