40 Jalak Bali Dilepasliarkan, Jaga Populasi Satwa Langka Pulau Dewata

40 Jalak Bali Dilepasliarkan, Jaga Populasi Satwa Langka Pulau Dewata

Buletin Dewata, Gianyar.

40 burung Jalak Bali atau yang disebut juga Curik Bali dilepasliarkan ke alam bebas dari konservasi Bali Safari and Marine Park, Gianyar, Bali, Jumat (26/4). Pelepasliaran burung endemik khas Pulau Dewata ini sebagai upaya pelestarian satwa langka.

Ketua Asosiasi Pelestarian Curik Bali (APCB) Tony Sumampu menyampaikan, pada tahun 2004 populasi Curik Bali terdata hanya 4 ekor saja, namun, seiring berjalannya waktu dan proses pelepasliaran maka saat ini tercatat ada ratusan jalak Bali di Bali. Selain karena faktor alam penyebab utama kepunahan Curik Bali saat itu karena perburuan liar. Dimana, Curik Bali laku dijual di pasaran dengan harga antara Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per ekor.

Sebagai upaya pelestarian Curik Bali dari kepunahan, pihaknya pun telah memanfaatkan penggunaan perangkat elektronik untuk mencegah adanya perburuan liar satwa langka ini. “Untuk mencegah, kami menggunakan micro chip. Kalau ada yang menangkap, kami buktikan ke aparat kepolisian, langsung scan, dan keluar nomor chip dan asal-usul, kapan dia lahir, pakai ring juga berwarna. Maka tim monitoring bisa membedakan setiap curik,” ujarnya.

Dijelaskan Tony, Terkait 40 ekor Curik Bali yang dilepasliarkan kali ini diperoleh dari asosiasi hewan Jepang dan Eropa tahun 2017 lalu. Selama dalam penangkaran, Curik Bali ini dilatih untuk terbang ke alam bebas.”Tim monitoring akan memantau pagi dan sore untuk melihat situasi mereka hidup di alam. Kami memonitor sampai tiga tahun, kemudian berkembang biak di alam,” imbuhnya.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) yang turut hadir dalam kesempatan ini mengajak masyarakat Bali untuk ikut menjaga populasi satwa langka dengan tidak menangkap serta menangkar di rumah. Karena menurutnya segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga terkait tentang upaya pelestarian satwa langka akan sia-sia jika masyarakat tidak ikut mendukung.

Cok Ace juga sangat mengapresiasi keberhasilan Lembaga Konservasi Bali Safari & Marine Park dalam melestarikan populasi Burung Curik Bali yang hampir punah.“Saya berharap agar kegiatan semacam ini dapat berimbas pada seluruh kabupaten/kota lainnya di Bali, sehingga Bali akan memiliki keanekaragaman hayati dan lingkungan yang lestari serta populasi Burung Curik Bali di alam akan semakin meningkat,” tandasnya.

Curik Bali atau Jakak Bali pertama kali ditemukan pada tahun 1910 dan menjadi lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991. Nama ilmiah Jalak Bali, Leucopsar rothschildi, diambil dari nama pakar hewan berkebangsaan Inggris yang pertama kali mendeskripsikan spesies ini di dunia pengetahuan pada tahun 1912, Walter Rothschild.

Jalak Bali merupakan hewan endemik yang pada awalnya hanya bisa ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Berdasarkan catatan Taman Nasional Bali Barat saat ini populasi jalak Bali sudah mencapai 191 ekor di alam bebas dan 280 ekor di unit pengelolaan khusus penangkaran jalak Bali. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *